`Bunda Ria, Ibu 13 Anak Calon Bidadari Surga`

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 18 November 2014 0 komentar


Bu Ria bukanlah teman akrab, bahkan dibandingkan teman-teman ngajiku yang lain bu Ria masih terbilang baru. Bukan berarti diantara kami tidak ada kedekatan, justru sebaliknya, kami merasa bersaudara antara satu dan yang lain.

Sejak pertama kali mengenal Bu Ria, terbersit rasa kagum terhadap sosok beliau, rasa kagum ini yang mendorongku untuk mengungkapkannya lewat tulisan.

Bu Ria adalah wanita yang memiliki 13 orang anak, bukan karena banyaknya anak inilah yang membuat aku kagum. Tapi karena ketegarannya, kesabarannya, kasihsayangnya dan juga pengorbanannya dalam mengasuh ketigabelas anaknya inilah yang membuat aku terpana "Kok ada ya...wanita seperti Bu Ria?" Gumamku waktu itu ketika baru pertama kali mengenal beliau. Betapa tidak, dari 13 anaknya hanya satu yang merupakan anak kandung, 12 yang lain adalah anak angkat!

Setelah beberapa tahun menikah, Bu Ria tidak juga di karuniai momongan, dokter memvonis bahwa Bu Ria mandul. Akhirnya Bu Ria beserta suami sepakat untuk mengadopsi anak, tanpa berniat bahwa anak yang mereka adopsi adalah sebagai pancingan agar mereka segera dikaruniai anak oleh Allah SWT. Anak yang diadopsi oleh Bu Ria berasal dari kalangan tidak mampu, bahkan ada beberapa anak yang diantarkan oleh kedua orang tuanya ke rumah Bu Ria untuk diadopsi tentu saja karena alasan ekonomi, Bu Ria menerimanya dengan senang hati.

Hingga akhirnya Bu Ria sudah memiliki 11 orang anak angkat. Di titik inilah Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang berkenan menurunkan rahmat NYA, menunjukan kuasa NYA pada Bu Ria. Bu Ria yang telah divonis mandul, ternyata hamil !

Inilah bukti bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap do'a-do'a hamba NYA.

Kebahagiaan menyelimuti keluarga Bu Ria, pada akhirnya do'a mereka dikabulkan oleh Allah, dan Bu Ria bisa merasakan menjadi wanita yang sempurna, bisa melahirkan dan memiliki anak.
Memiliki anak kandung tidak lantas membuat Bu Ria lupa terhadap anak-anaknya yang lain, bahkan Bu Ria masih mau menerima seorang anak lagi untuk diadopsi sehingga jumlah anak Bu Ria seluruhnya menjadi 13 orang. Semuanya menjadi tanggung jawab Bu Ria dan suami, sesuatu yang menurutku tidak semua orang mau melakukannya.

Di jaman seperti sekarang ini dimana orang lebih suka menumpuk-numpuk materi, berfoya-foya menghamburkan harta, amat sulit ditemui orang seperti Bu Ria, rela berkorban demi kehidupan orang lain, meski beliau sendiri dalam kondisi pas-pasan.

Sebagai seorang yang taat pada aturan agama, Bu Ria mendidik ke 13 anaknya dengan baik. Semuanya mendapatkan kasih sayang cukup, merata tidak di beda-bedakan antara satu dengan yang lain, mereka mendapatkan hidup yang layak meski tidak berlebihan, mereka juga mendapatkan pendidikan yang memadai. 

Setelah lulus SD, Bu Ria mengirim mereka ke pesantren untuk melanjutkan sekolah sekaligus memperdalam agama. Setelah lulus aliyah merekapun melanjutkan keperguruan tinggi. Meski dalam kesederhanaan, Bu Ria tetap berusaha menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.
Kepada 12 anak angkatnya Bu Ria tidak pernah menyembunyikan identitas mereka, mereka tetap diberi tahu  dengan bijak siapa orang tua kandung mereka dan dari mana mereka berasal, dengan begitu  mereka mengenal siapa diri mereka sebenarnya.

Memiliki 13 orang anak tidak lantas membuat Bu Ria hanya sibuk mengurus keperluan rumah tangganya saja, tapi beliau tetap aktif diluar. Selain membawahi sebuah TK yaitu TK Insan Utama, beliau juga menjadi pengajar di SD Muhammadiah Gaperi sebagai guru agama. Bu Ria juga mengajar beberapa taklim di lingkungan sekitar selain beliau juga mengaji bersama-sama kami. Bu Ria yang seorang insinyur pertanian masih semangat untuk menimba ilmu, beliau kuliah lagi mengambil program S1 PAUD. 

Satu lagi aktifitas beliau yang baru aku ketahui adalah memandikan jenazah. Bu Ria beserta timnya bersedia di panggil  untuk memandikan dan mengurus keperluan jenazah tanpa di pungut biaya. "Dengan memandikan jenazah insyaAllah dosa-dosa kita akan berguguran, seperti daun yang gugur dari pohonnya" kata Bu Ria mengutip sebuah hadist.

Di usiannya yang tidak lagi muda, Bu Ria masih semangat melakukan aktifitas. Tanpa kenal lelah Bu Ria mengayuh sepedanya, sepeda yang selalu setia menemani kemana Bu Ria pergi. Kadang aku bertanya dalam hati " apakah seperti ini potret wanita calon penghuni surga?" Mudah-mudahan aku tidak berlebihan, setidaknya ini merupakan do'aku untuk Bu Ria,  seorang wanita yang  tegar, penyabar, penuh kasih sayang dan rela berkorban untuk orang lain. Mudah-mudahan apa yang beliau lakukan mendapat rihdo dari Allah SWT. 

Sumber: http://yumnaku.blogspot.com/2011/11/rela-berkorban-meski-dalam-kesederhanaan.html

Baca Selengkapnya ....

Ini penyebab Menteri Susi Pudjiastuti cuma berijazah SMP

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 28 Oktober 2014 0 komentar

Ini penyebab Menteri Susi Pudjiastuti cuma berijazah SMP
Menteri Kelautan Perikanan Susi Pudjiastuti. ©wordpress.com
Susi Pudjiastuti menjadi satu-satunya menteri dalam Kabinet Kerja yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Wanita nyentrik yang didapuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan ini tidak lulus SMA, alias cuma berijazah SMP.


Bukan tanpa sebab Susi cuma berijazah SMP. Dia memutuskan berhenti dari bangku kelas 2 di SMAN I Yogyakarta setelah dikeluarkan oleh sekolah karena aktif dalam gerakan golput pada masa itu. Pada tahun 1980-an atau era Orde Baru, gerakan golput adalah hal yang terlarang.

Setelah tidak bersekolah lagi, Susi memulai profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Dengan modal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi memulai bisnisnya. Pada 1996 dia kemudian mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek "Susi Brand".

Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar.

Walaupun hanya lulusan SMP, Susi menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. 

Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009.

Setelah ditunjuk jadi menteri, Susi khawatir tidak bisa lagi teriak seperti saat masih menjadi pengusaha.

"Satu hal saya khawatirkan, kalau saya jadi menteri, saya tak bisa teriak-teriak ke menteri lainnya. Now, I do not anymore," kata Susi saat konferensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Minggu (26/10).

Dia memang tidak menjelaskan rinci apa yang dimaksud. Namun bisa jadi hal tersebut berkaitan dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang menguntungkan pengusaha. Dengan posisi dia saat ini, Susi menyadari tidak lagi bisa melakukan hal tersebut.

Sumber: merdeka.com


Baca Selengkapnya ....

"Tepuk Keledai Cerdik" Bawa Niken Jadi Guru Terbaik di Indonesia

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Senin, 13 Oktober 2014 0 komentar

Niken Kencono Ungu, guru Bahasa Inggris SMK Yudha Karya, Kota Magelang.

Apapun pekerjaan kita jika ditekuni dengan maksimal, maka akan berbuah manis bagi diri sendiri dan orang lain. Demikian prinsip yang selalu menjadi motivasi Niken Kencono Ungu (30), seorang guru di SMK Yudha Karya, Kota Magelang, Jawa Tengah, untuk bisa berprestasi dan berkarya hingga diakui di tingkat nasional.

Belum lama ini, Niken mendapat penghargaan "Best Practice Teacher 2014" dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, berkat inovasinya menciptakan metode pembelajaran Bahasa Inggris yang sederhana, menyenangkan dan mudah diingat oleh siswa. Niken sebut metode tesebut dengan Tepuk Tangan Keledai Cerdik.

Kepada Kompas.com di sekolahnya, Niken bercerita, ide awal tercetus metode tersebut karena pengalaman pribadi yang selalu merasa kesulitan jika belajar Bahasa Inggris. Selama ini, pelajaran bahasa asing tersebut menjadi "momok" yang menakutkan sehingga siswa menjadi malas untuk belajar.

"Saya tidak ingin anak-anak didik saya takut dengan Bahasa Inggris. Saya mulai berpikir hingga terciptalah metode Keledai Cerdik, pada tahun 2011. Dengan metode ini memudahkan siswa menjawab soal-soal dengan sebuah trik sederhana," ujar ibu empat putra itu, Senin (13/10/2014).

Sedangkan "Tepuk Tangan Keledai Cerdik", lanjut Niken, merupakan pengembangan dari metode sebelumnya, yakni penerapan metode "Keledai Cerdik" yang disertai dengan tepuk tangan. Metode ini pun ia peroleh dari hasil berimajinasi dan iseng-iseng saat bersantai di rumahnya yang terletak di Jalan Ketepeng 3, Kampung Trunan, Magelang Selatan, Kota Magelang itu.

"Saya berimajinasi dan iseng-iseng saja, bagaimana membuat metode belajar yang asyik dan menyenangkan bagi siswa. Awalnya, saya praktikkan kepada anak saya yang masih SD, ternyata dia bisa menjawab soal Bahasa Inggris dengan benar. Lalu, saya beranikan diri untuk saya terapkan kepada siswa-siswa di SMK Yudha Karya setahun yang lalu," urai wanita berjilbab itu.

Niken mengatakan, respons siswa beragam ketika pertama kali diperkenalkan metode tersebut. Bahkan ada yang menganggap seperti cara belajarnya anak taman kanak-kanak (TK). Namun lambat laun, kata Niken, siswa justru menyukainya. Karena selain menyenangkan, metode "Tepuk Tangan Keledai Cerdik" sangat mudah diingat (memorable) dan efektif untuk menjawab soal-soal Bahasa Inggris dan mata pelajaran lainnya.

"Sekarang siswa tidak perlu susah-susah menghapal rumus gramer Bahasa Inggris yang panjang dan banyak itu. Hanya dengan tepuk tangan saja, mereka bisa menjawab soal dengan cepat dan benar," tutur Niken, sembari memperagakan cara tepuk tangan keledai cerdik tersebut.

Ide original itulah, kata Niken, yang membuat para juri kompetisi tersebut tercengang. Para juri tidak menyangka jika wanita kelahiran 24 Agustus 1984 itu mampu menciptakan metode yang sangat berbeda dengan para kontestan lainnya. Padahal, hampir semua kontestan yang terdiri dari para guru SMA/SMK/MAN dari seluruh Indonesia itu mempresentasikan karya yang lebih modern dan "berkelas".

"Saya sempat ditanya sama dewan juri, mengapa menggunakan metode ini untuk siswa SMK, saya lalu menjawab bahwa saya tidak mungkin mengajarkan siswa-siswa saya yang memiliki kemampuan ekonomi dan kepandaian menengah ke bawah, dengan metode yang rumit dan canggih. Wong (mengoperasikan) gadget saja mereka banyak yang belum bisa. Apalagi siswa-siswa saya terkenal 'hobi' tawuran, saya tidak mau mereka tambah terbebani dan stress," ucap Niken gemar menyanyi itu.

Menurut istri dari Slamet Surmiyanto (42) itu, tepuk tangan ternyata memiliki manfaat luar biasa, karena tepuk tangan yang benar dapat membuka dan menghubungkan ribuan syaraf ke berbagai organ dan otak manusia.

Wanita Berprestasi

Selain mendapat penghargaan bergengsi itu, ternyata Niken termasuk wanita yang memiliki segudang prestasi. Tidak terhitung lagi karya tulis ilmiah dan fiksi yang ia telurkan. Belum lagi prestasi dari berbagai kejuaraan baik tingkat kota/kabupaten, provinsi hingga nasional.

Sebut saja juara nasional untuk karya ilmiahnya yang berjudul Integrasi Iman dan Taqwa Dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indo Secara Tematik pada 2004. Lalu juara I MTQ tingkat Kota Magelang hingga juara umum Dai/Daiyah tingkat Jawa Tengah dan DIY.

Bagi Niken, menjadi seorang guru bukanlah cita-citanya sejak kecil. Dahulu ia hanya ingin menjadi dokter. Bahkan ia sempat diterima di Fakultas Kedokteran sebuah universitas ternama. Namun karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, ia urung masuk di fakultas itu. Niken pun akhirnya masuk ke Universitas Negeri Tidar Magelang jurusan Bahasa Inggris tahun 2004.

Sembari kuliah, ia juga mengajar di SD Muhammadiyah 2 Kota Magelang, hingga saat ini ia sedang menyelesaikan pendidikan S2 di UST Yogyarakta.

"Saya ingat pesan Ibu, tidak perlu malu apapun profesi kita, yang penting bekerja maksimal maka akan berbuah manis bagi diri kita dan orang lain. Bekerja dengan ikhlas, biarkan Tuhan yang menghitung," ucap Niken.

Niken juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa menjadi guru swasta tidak perlu dikasihani karena gaji kecil. Guru swasta yang bahkan tidak memiliki Nomor Unik Pegawai Tenaga Kependidikan (RUPTK) dan sertifikasi sekalipun bisa berkarya dan berprestasi.

Sumber: Kompas.com


Baca Selengkapnya ....
IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".

Adele

Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info