Kisah Sukses : Ketika Seorang Dosen Menjalankan Bisnis IFA

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Senin, 10 Oktober 2011 0 komentar


Menjadi seorang dosen memang pekerjaan yang mulia. Profesi yang satu ini, seti­ daknya sampai sekarang, masih mendapatkan tempat yang istimewa di hadapan masyarakat kita. Tapi bagaimana dengan kesejahteraan ekonominya?

Hasbi Mannong punya jawabannya. Ternyata, kesejahteraan seorang dosen tak sebanding dengan statusnya yang tinggi itu.

Hasbi, begitu ia biasa disapa, adalah seorang PNS di Universitas Tadulako Palu (Universitas Negeri di Sulawesi Tengah). Penghasilannya sebagai seorang dosen hanya cukup untuk menafkahi istri dan anak-anaknya setiap bulan, bahkan terkadang kurang.

Gali lubang tutup lubang pun dilakukan, hanya sekedar untuk bertahan hidup. Tak ayal, selama menjadi dosen, tabungannya pun kosong melompong. Padahal dia dan istrinya, Azmilawati, S.Pt., ingin sekali bisa menabung untuk mesa depan anak-anak mereka.

Melihat kenyataan demikian, Hasbi pun memeras otak untuk mencari penghasilan tambahan. Apalagi kini mereka sudah dikaruniai dua putri dan seorang putra, tentu bebannya bertambah berat.

Hingga kemudian dia bertemu dengan IFA. Dari situ cerita tentang nasib ekonominya mulai berubah. "Alhamdulillah, satu setengah tahun menjalankan IFA sudah bisa merubah kualitas hidup kami menjadi jauh lebih sejahtera," ungkapnya syukur.

Mulai Mengenal IFA
Dari istrinya lah Hasbi mengenal IFA di tahun 2003. Tapi ia tak langsung bergabung jadi member. Posisinya waktu itu hanya sebatas mengantarkan istrinya saja ketika order ataupun ambil barang di Depot Silfia Siaman, Palu. Namun hal ini tidak berlangsung lama, dua tahun kemudian istrinya vakum menjalan kan IFA karena mencoba fokus di MLM lain.

Tahun 2007, istrinya kembali menjalankan IFA tapi di bawah depot lain, bukan Depot Silfia Siaman. Namun setahun kemudian berhenti lagi karena banyak masalah mendasar yang terjadi antara istrinya dengan pimpinan depot tersebut, terutama masalah barang, pelaporan belanja member, bonus member, dan hadiah-hadiah yang seharusnya ia dapatkan tapi kenyataanya tidak.

Awal 2010, tepatnya di bulan Februari, Hasbi bergabung dengan IFA melalui Depot Silfia Siaman. "Saya bertemu Pak Eddy (Suami Silfia Siaman) dan mencoba berdiskusi tentang masalah yang pernah terjadi dengan isteri saya di IFA. Beliau memberi penjelasan bagamana IFA yang sebenarnya. Maka terbukalah hati kami untuk serius menjalankan IFA," tuturnya menceritakan.

Namun diakuinya, waktu awal-awal menjalankan IFA sungguh sangat berat. Bukan karena mereka tak memiliki pengalaman dan strategi melainkan karena harus membangun kembali image yang baik tentang IFA kepada member-member mereka yang sudah vakum.

Demi itu, Hasbi dan istri aktif melakukan presentasi di hadapan member- member mereka di Palu. Sementara untuk member di luar kota, mereka selalu meluangkan waktu untuk berkunjung setiap Sabtu dan Minggu dan membuat pertemuan di daerah-daerah.

Sejak itu pula, Hasbi dan istri melepas MLM yang sebelumnya mereka pegang. Padahal di MLM tersebut posisi mereka boleh dibilang sudah bagus dan omzetnya tiap bulan pun lumayan. Kenapa?

"Di MLM tersebut kami merasa tidak dihargai secara finansial karena apa yang kami lakukan tiap bulan tidak sepadan dengan bonus yang kami dapat per bulannya. Banyak komplen dari member karena bonus tidak transparan ditambah lagi kondisi barang yang banyak kosong," ungkapnya.

Lalu mereka memilih fokus di IFA dengan alasan: (1) Karena IFA merupa- kan MLM Indonesia yang memiliki be- ragam produk dengan kualitas tinggi, (2) produk-produk IFA selalu trendi karena katalognya terbit setiap bulan, (3) memi- liki marketing plan yang sangat bagus, serta didukung orang-orang hebat di jajaran manajemen.

"Kami yakin, kelebihan-kelebihan tersebut akan sangat membantu kami dalam meraih kesuksesan melalui bisnis IFA ini. Apalagi setelah mengikuti IBTN Oktober 2010 dan Gebyar Nasional IFA 2010 lalu, ketika melihat orang-orang yang telah sukses dan mendapat berbagai penghargaan, semakin meyakinkan saya untuk mengembangkan IFA," ungkap lelaki yang kini karir bisnisnya sudah berada di level IFA Silver Agent (ISA) ini.

Berkat kefokusannya itu, mereka kini sudah memiliki jaringan sebanyak 400 orang yang tersebar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Mereka juga aktif membentuk sub-sub leader di berbagai daerah, antara lain di Palu, Toli-Toli, Pasangkayu Mamuju Utara, Bungku Kab. Morowali, Parigi, Kasimbar, Kotaraya, Poso, Tentena, Ampana, Bunta dan Luwuk.

Maka jangan heran jika capaian omzetnya begitu meyakinkan: rata-rata 70-80 juta setiap bulan. Sebuah perolehan omzet yang layak diacungi jempol untuk ukuran leader. Komisi motor (KCSM) pun sudah ia dapatkan pada tahun 2010, dan tentu yang tak pernah alpa adalah bonus tiap bulan.

Mereka juga selalu merajut tenun kekeluargaan dengan member dan leader, membuat pertemuan dan home sharing setiap minggu, "Dan yang terpenting adalah terus menduplikasikan apa yang telah kami raih ke semua member agar mereka juga bisa menikmati seperti apa yang telah kami dapatkan."

Dari IFA inilah harkat ekonomi keluarganya bisa terangkat. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah, menjalankan bisnis ini tak harus mengorbankan aktivitas mulianya sebagai seorang dosen.


Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI



TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kisah Sukses : Ketika Seorang Dosen Menjalankan Bisnis IFA
Ditulis oleh IFA MEMANG DAHSYAT
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/10/kisah-sukses-ketika-seorang-dosen.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".

Adele

Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info