Fesyen & Kecantikan : Menenun Masa Depan Kain Tenun

Posted by tasya diah safitri safitri Jumat, 11 November 2011 0 komentar

Tak hanya batik, kain tenun Indonesia juga punya keunikan dan keindahannya tersendiri. Bahkan kini, para desainer tengah berlomba-lomba mengibarkan kain tradisional yang satu ini di jagat fesyen Tanah Air maupun global.
Awalnya, kain tenun digunakan oleh beberapa suku etnis yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia untuk beragam kepentingan dan acara. Setiap suku memiliki material dan cara sendiri dalam mengolahnya.
Di beberapa suku, kain tenun dapat menandakan status sosial seseorang atau sebagai atribut resmi sebuah perhelatan besar. Contohnya kain Ulos bagi suku Batak di Sumatera Utara. Ia bukan sekedar selembar kain yang bisa digunakan dalam beragam kesempatan. Kain Ulos yang digunakan untuk hadiah perkawinan tentu saja berbeda dengan Ulos yang dipakai sebagai tanda duka cita. Namun, segala kerumitan mengenai tata cara dan aturan dalam mengenakan sehelai kain tenun bisa disederhanakan menjadi material yang secara umum mampu menggerakkan rasa nasionalisme bangsa seperti halnya yang terjadi pada kain batik.
Tenun merupakan kain tradisional Indonesia yang kaya ragam jenis, motif dan warnanya: ada songket, tenun ikat, tenun gringsing, tenun troso, ulos, kain tapis, tenun endek, dan sebagainya. Kain tenun tradisional biasanya menggunakan pewarnaan alami, meskipun ada beberapa jenis tenun (Timor dan Songket Bali) yang memakai pewarnaan kimia.
Cara pengerjaannya pun tak sama: ada yang dikerjakan secara manual (dengan tangan dan tenaga manusia), ada pula yang menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Aneka Olahan Tenun

Tampaknya, tren kain tenun tengah "mewabah" di kalangan para desainer maupun pecinta mode. Mereka mengekplorasinya dalam beragam rupa, menjadi produk baru yang sarat cita rasa fashion modern, berdaya pakai dan bernilai jual tinggi, tanpa meninggalkan garis-garis tradisi.
Lihat saja bagaimana panggung-panggung runway belakangan ini dipenuhi oleh sorot pesona dan keunikan tenun. Jakarta Fashion Week 2010/2011 misalnya yang dihelat di Pacific Place Mall Jakarta beberapa waktu lalu telah menetapkan tema etnik Indonesia dalam ragam tenun sebagai benang merah dari keseluruhan peragaan yang ada.
Bahkan, pekan fesyen terbesar di Indonesia tersebut membuat sesi khusus guna merefleksikan keberhasilan para desainer lokal dalam mengolah kain tradisional ini yang dibungkus dalam gelaran bertajuk "BNI: Cita Tenun Indonesia – Cita Swarna Bumi Sriwijaya". Sejumlah desainer papan atas terlihat di sana, seperti Chossy Latu, Denny Wirawan, Era Soekamto, Luwi Saluadji, Oka Diputra, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano, Sebastian Gunawan, Stephanus Hamy, dan Tayada.
Pagelaran ini diniatkan untuk mengangkat citra tenun Sumetra, mulai dari songket Palembang hingga tenun Blongsong yang bertransformasi menjadi rancangan terkini. Bahkan Seba–panggilan akrab desainer Sebastian Gunawan--memodifikasi kain tenun untuk koleksi "Bubble Girl"-nya yang ditujukan untuk usia anak-anak.
Atau intip saja koleksi olahan tenun Cual Corak Ingsang yang biasa digunakan oleh masyarakat Keraton Kalimantan Barat karya Adhyadma yang bergaya kosmopolis. Dalam perpaduan warna kuning keemasan, hitam, dan coklat. Adhyadma ingin memberikan kesan classy dan sophisticated dalam rancangannya.
Defrico Audy, yang terinspirasi oleh masyarakat suku Dayak, menggelar koleksinya bertajuk "Tribal Trouble" yang bahkan jauh lebih etnis lagi. Defrico sengaja menggunakan kain dan corak tenun untuk beragam variasi princess gown, long coat, dan two piece outfit serta memadukannya dengan material suede, beludru, shimmer, sutra sifon, dan silk organdy untuk kesan lebih modern.
Anda ingin melihat olahan tenun yang berjiwa muda? Tak perlu khawatir, sebab Lenny Agustin lewat lini Lennor menghadirkannya untuk Anda. Bertema 'Hullabaloo', beragam motif tenun dalam warna-warna cerah digunakan Lenny untuk mengesankan jiwa muda yang dinamis dan ceria. Berbagai kemeja, rok mini, blus, celana pendek, bahkan aksesoris seperti obi belt dan headpieces semua dirangkum Lenny dalam material ringan seperti katun dan sifon. Potongan asimetris juga banyak digunakan untuk mengimbangi kesan tradisional dari teknik lilit bungkus yang diterapkan dalam beberapa koleksinya.
Hadirnya pagelaran semacam ini diharapkan bisa menjembatani kepentingan antara desainer, buyer, serta konsumen. Para pengrajin tenun di seluruh nusantara pun akan memiliki peluang lebih besar lagi untuk memproduksi dan memasarkan karya mereka. Bila batik saja sudah bisa menapak jejak di kancah internasional dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya leluhur asli Indonesia, mengapa tenun tak bisa?
Cara Tepat Merawat Tenun
Jika Anda termasuk kolektor atau penyuka kain tenun, perlu memperhatikan cara yang benar dalam mencuci dan menyimpannya. Anda tentu tak mau jika kain tenun yang pengerjaannya memerlukan waktu 2 hingga 3 bulan berkurang keindahannya gara-gara perawatan yang kurang tepat.
Stephanus Hamy, desainer yang sudah berkutat dengan dunia tenun-menenun selama 8 tahun, memberi beberapa tips mudah dalam merawat kain tenun agar awet dan semakin bagus warnanya:
Jangan Gunakan Deterjen
Deterjen biasanya memiliki formula yang keras, apalagi terhadap kain-kain yang dibuat dengan tangan dan pewarnaan alami. Shampo bayi adalah pembersih yang tepat untuk tenun. Rendam kain tenun dalam larutan air yang sudah diberi 2 sendok makan shampo bayi, diamkan selama 15 menit, kemudian kucek dengan lembut dan perlahan.
Hindari Cahaya Terlalu Panas
Saat menjemur, hindari terkena cahaya matahari langsung. Sebaiknya menjemur saat matahari belum terlalu panas (antara 9-10 pagi), atau di bawah pohon rindang.
Hindari Penyetrikaan dengan Suhu Terlalu Panas
Suhu yang terlalu panas bisa merusak dan memudarkan warna kain. Saat menyetrika, pasang suhu yang tidak terlalu panas, atau lapisi dengan kain lain di atas tenun, baru disetrika.
Hindari Penggunaan Kapur Barus
Formula kapur barus yang terlalu keras bisa menyebabkan kain mudah rapuh. Hamy menyarankan, saat menyimpang di lemari, sebaiknya gunakan silica gel yang biasa dijual di toko bahan-bahan kimia.
"Atau jika terpaksa harus memakai kapur barus, letakkan agak berjauhan, jangan terlalu dekat, apalagi sampai kena kontak langsung," jelas Hamy seperti yang dikutip oelh vibizlife.com.
 "Semakin sering dicuci (jika dicuci dengan benar), warna tenun justru akan semakin eksotis," tambah Hamy.

Sumber : (www.ifadahsyat.com )



Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Fesyen & Kecantikan : Menenun Masa Depan Kain Tenun
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/11/fesyen-kecantikan-menenun-masa-depan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".