Kisah Sukses : Ikuti Semua Seperti Air Mengalir

Posted by tasya diah safitri safitri Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

Sebelum berangkat sekolah, Margareta harus membantu pekerjaan di rumah. Subuhnya ia menyiapkan kue untuk dititipkan ke kantin sekolah, pulang sekolah pergi ke hutan mencari apa saja yang bisa dijual, seperti air sisa sadapan karet, tebu, daun ubi ataupun arang bekas bakar kayu untuk dijual ke tempat pembuat besi. Setelah itu dirinya harus ke sawah membantu orangtuanya.

"Jika sawah kami sudah selesai, aku biasanya menjadi buruh di sawah orang lain. Sorenya setelah mandi, biasanya aku dan abangku jualan kue buatan mama ke warung sambil numpang nonton TV, di samping aku harus mengasuh adik-adikku juga," tuturnya menceritakan bagaimana dirinya semasa kecil sudah harus bergelut dengan setumpuk pekerjaan.

Dari situlah Margareta bisa memetik pelajaran penting yang selama ini menjadi nilai hidup di dalam keluarganya dan ia warisi hingga kini. "Uang tidak akan datang dengan sendirinya. Kebanggaan yang sangat besar jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun tertatih. Kemiskinan bukanlah penyakit keturunan. Roda selalu berputar, maka ingatlah akan setiap putaran itu." Begitulah kalimat bijak yang menjadi falsafah hidupnya.

Beranjak masa remaja, Margareta pun masih terus bertaruh dengan berbagai pekerjaan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pria yang mampu memikat hatinya, Rudi Suhendi namanya. Hubungan asmara mudamudi ini akhirnya berlanjut ke pelaminan, tepatnya pada tahun 2005 di daerah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar–suatu daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Di sanalah keduanya menjalani hidup sebagai sepasang suami istri hingga akhirnya dikaruniai puteri pertamanya, Jessica Amaria Reanante.

Menjadi seorang ibu rumahtangga dengan seorang puteri ternyata tak melunturkan jiwa pekerja kerasnya. Kala itu Margareta membuka usaha wartel dan ponsel. Namun dua jenis usaha itu tampaknya masih belum cukup untuk membasuh dahaganya.

Karena ingin penghasilannya lebih, Margareta pun berjualan apa saja yang penting menghasilkan. Mulai dari berjualan kue, buka warung kopi, hingga jualan lelong (pakaian bekas dari Malaysia). Pernah juga buka toko devosionalia, serta bekerja di PJTKI sebagai tenaga pengambil sampel darah untuk dikirim ke RS. Kuching, bahkan terkadang menjadi guide juga.

Awalnya Iseng Saja
Margareta tak menyangka sebelumnya jika dirinya akan bisa menjalankan IFA seserius seperti saat ini. Pasalnya kala itu dia bergabung dengan IFA hanya iseng semata. "Awal saya bergabung di IFA karena iseng, untuk menambah koleksi katalog" akunya.




Ketekunan, kesa- baran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata- rata 100-150 juta rupiah.


Ia diperkenalkan oleh Emerensiana Emma sekitar tiga tahun lalu. Margareta dan Emma sebenarnya sudah berteman lama, karena Emma adalah downlin-nnya di salah satu perusahaan MLM asal Prancis.

"Untuk menambah katalog dagangan jadi kami mencari referensi katalog fashion lain dan Kak Ema (panggilan akrab Emerensiana Emma-red) mendapatkan IFA dan barteran, jadinya Kak Ema menjadi upline saya di IFA," ceritanya.

Selang tak lama usai bergabung dengan IFA, Margareta mengikuti IFA Basic Training Nasional (IBTN) sebagai pintu masuk untuk memahami sistem dan budaya IFA, agar tidak seperti orang buta yang kehilangan tongkat.

Karenanya, kesan yang didapat saat pertama mengarungi samudera IFA berbeda dengan para pelaku bisnis IFA lain- nya. Umumnya, saat mulai menjalankan bisnis IFA mereka merasakan kesulitan, namun tidak demikian dengan Margareta. Ia justru mengaku mudah-mudah saja. "Tidak begitu susah di IFA, banyak kemudahan yang saya dapatkan," akunya.

Hanya satu yang menjadi kendala baginya, yaitu soal tempat dan akses. Sebab Etikong merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia, dimana masyarakat di sana lebih mengunggulkan produk luar negeri, selain itu akses juga terbatas, pengiriman barang susah, dan untuk mengembangkan jaringan mentok di perbatasan saja.

Soal pengiriman barang itulah yang masih menjadi kendala hingga saat ini, juga masalah pembayaran. "Kesulitan saat ini adalah masalah pengiriman barang ke para member terutama mereka yang tempatnya jauh dan masalah pembayaran para member. Tapi saat ini lebih dipermudah karena bisa mentransfer uang melalui CU (Credit Union) yang tersebar hampir di seluruh desa-desa besar, karena kebanyakan orang kampung agak males untuk masuk ke bank. Sedangkan pengiriman barang sendiri bisa titip lewat angkot, cuma resikonya kurang aman, karena ekspedisi terbatas rutenya," papar ibu dari Jessica Amaria Reanante (5th) dan Leonard Cielopante (1th) ini.

Bonus pertama yang ia peroleh dari IFA waktu itu hanya 5000 rupiah. Meskipun demikian ia merasa begitu senang dan bangga, walau jumlahnya tak seber apa tapi itu membuktikan bahwa sistem di IFA benar-benar transparan.

Selain itu, di IFA, Margareta merasa menemukan sebuah keluarga baru yang memiliki kepedulian tinggi di antara se­ sama. "Saya mendapatkan teman seorang Ibu depot seperti Kak Alin yang dari awal ketemu langsung mau melayani saya dengan sangat baik dan rela mengantar saya ke kota Sanggau padahal baru pertama ketemu dengan belanjaan saya yang nggak seberapa," kesannya.

Seiring berjalannya waktu, Margareta yang mulanya bergabung dengan IFA hanya iseng saja berlahan-lahan berubah menjadi serius. Pikiran, energi, dan waktunya kemudian lebih dikosentrasikan untuk mengembangkan bisnis IFA. Sebab ia sudah tahu dan merasakan bahwa bisnis ini begitu menjanjikan.

Hingga akhirnya ia berhasil membuka depot pada Agustus 2009 lalu yang ia beri nama DEPOT IFA MARGARETH yang beralamat di KM II Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Berikutnya, ia berhasil menelurkan Sub Depot Herkulanus Oni, yang terletak di Jl. Batu Duduk, Pahauman, Kab.Landak, KalBar.

Ketekunan, kesabaran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Jaringannya beranak-pinak hingga ribuan orang yang tersebar di Kalbar, utamanya kabupaten Landak. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata-rata 100-150 juta rupiah. Karirnya pun sudah berada di level IFA Silver Agent (ISA).

Beberapa komisi dan keuntungan yang disediakan IFA pun sudah berhasil ia raih dan nikmati, antara lain Komisi Cicilan Sepeda Motor, fee depot, rabat bulanan, dan berbagai keuntungan lainnya.

Selain materi, Margaret juga mendapatkan kepuasan non materi. "Saya mendapatkan banyak teman dan saudara. Rasa kekeluargaan yang begitu nyaman antar sesama pimpinan depot, relasi yang begitu kuat tanpa ada rasa persaingan," ungkapnya senang.

Resep Sederhana ala Margareta
Dalam mengembangkan bisnis IFA, Margareta ternyata memiliki resep sukses yang begitu sederhana. Apa saja? "Jangan menjanjikan orang yang muluk- muluk, sodorkan katalog, biarkan mereka menikmati gambar-gambarnya selama mereka suka, beri nomor telepon atau minta nomor telepon mereka, pasti- nya mereka akan mengorder salah satu atau banyak barang di katalog tersebut. Setelah datang dan orang tersebut akan membayar langsung, sodorkan starterkit, maka dia akan masuk menjadi member karena belanjanya telah didiskon langsung, maka kita akan mendapatkan member dan pastinya dia akan berusaha mencari member juga, apalagi setelah melihat statemen bonus kita," paparnya berbagi kiat sukses.

Satu lagi, "Tidak perlu menjelekan MLM lain, tunjukkan keprofesionalan dalam bekerja, pastinya semuanya akan merasa puas," tambahnya memberikan tips khusus untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis MLM dewasa ini.

Meski boleh dikata sudah mulai memasuki zona kesuksesan, namun Margaret tak melupakan aktivitas sosialnya. Di tengah kesibukannya menjalankan IFA, ia ternyata memberikan perhatian khusus kepada para balita yang mengalami gizi buruk, khususunya di desa-desa, dengan bergabung menjadi tenaga Fasilitator Masyarakat (FM) di Dinas Kesehatan Kabupaten Landak untuk program perbaikan gizi atau yang lebih dikenal dengan proyek Nutrition Improvement Thought Community Empowerment (NICE).

  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI





TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kisah Sukses : Ikuti Semua Seperti Air Mengalir
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/11/kisah-sukses-ikuti-semua-seperti-air.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".