Kisah Sukses : Sukses Sejati, Selalu Berbagi dan Memberi

Posted by tasya diah safitri safitri Jumat, 11 November 2011 0 komentar

Kisah Sukses

Bagi Sukina, sukses adalah ketika dirinya sudah bisa membuat orang lain merasa sukses. Sebelum itu, maka keberhasilan yang diraih hanya akan menjadi milik priba­ dinya semata, dan itu bukanlah sukses sejati.

Demi meraih sukses sejati, Sukina selalu menebarkan "virus" kebajikan yang sekaligus menjadi motto hidupnya: lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. "Apa yang bisa saya bagikan ke orang lain akan saya bagikan, terutama ilmu," ucapnya bijak.

Prinsip untuk selalu berbagi dan memberi ini tak hanya berlaku di kehidupan sosialnya saja tapi juga ketika menggeluti bisnis IFA. Ina, begitu sapaan akrabnya, akan merasa senang manakala member yang ada di jaringannya bisa meraih nilai tambah melalui bisnis berjenjang ini. "Saya sangat senang ketika melihat tukang becak, pedagang es kelapa muda, tukang jamu yang menjadi member saya bisa menambah penghasilannya dari bisnis IFA ini, walaupun itu tidak besar," ungkap istri Suparno ini.

Masa Lalu Sukina
Sukina lahir di Grogol-sebuah kampung kecil di daerah Kediri—pada tahun 1976. Ia tumbuh dan dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang serba kekurangan. Ibunya hanya seorang pedagang kerupuk keliling dari kampung ke kampung lain dengan hasil yang tak menentu, sedangkan ayahnya adalah seorang buruh tani yang bekerja di sawah orang lain.

Meski hidup dalam belenggu kemiskinan, namun ayah Ina mendidik anak- anaknya supaya tidak gampang mengeluh terhadap keadaan yang ada, sesulit apapun itu. Dan satu hal yang selalu ia tekankan, jangan sampai merepotkan apalagi meminta-minta kepada orang lain.

Prinsip itulah yang selalu ia pegang teguh bersama ketujuh saudaranya yang lain. Namun setegar-tegarnya Ina kecil akhirnya menitikkan air mata juga. Saat lulus SD, Ina tak bisa melanjutkan sekolah karena terbentur biaya. Pada hal dia lulus dengan nilai yang mengesankan, masuk 5 besar sekecamatan.

"Saya nangis ketika melihat seragam biru-putih (SMP-red)," ceritanya mengenang. Namun apa dikata, Ina harus menerima kenyataan ini, bahwa sekolahnya cukup sampai SD saja.

Karena tak bisa meneruskan sekolah, Ina kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan agar bisa menyekolahkan adik-adiknya. Di usianya yang baru 12 tahun, Ina merantau ke Jakarta, berharap bisa mengubah nasib hidupnya.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta tahun 1988, Ina langsung bekerja sebagai pembatu rumahtangga dengan gaji 75 ribu per bulan. Pekerjaan ini ia lakoni selama tujuh bulan. Karena tak betah, dirinya kemudian memutuskan untuk meninggalkannya dan beralih profesi menjadi pengasuh bayi (baby sitter). Cukup lama Ina menjalani pekerjaan ini, kurang lebih 3,5 tahun. Tapi akhirnya pekerjaan ini dilepas juga.

Ina kemudian banting haluan menjadi pegawai catering di PT Mobil Oil selama 7 bulan. Lalu menjadi penjaga rumah kosong di daerah Pamulang sambil kursus menjahit. Setelah itu, Ina melamar kerja di PT. Swabuana Cipta di Jl. Terbang Layang Pondok Cabe menjadi pembuang benang (helper). Tiga tahun kemudian dirinya naik posisi menjadi asisten supervise.

Berlabuh di IFA
Sebelum di IFA, Ina sudah bergabung dengan salah satu MLM yang menawarkan produk tempat makanan, dari tahun 1997-2001. Tapi karena kecewa, ia akhirnya memutuskan keluar dari MLM tersebut.

Setahun kemudian, tepatnya Februari 2002, Ina diajak Muriati, teman kantor suaminya, untuk bergabung di IFA. Ina pun langsung mengangguk setuju.

Saat itu, meskipun dirinya sudah keluar dari MLM tersebut, tapi jaringan dia masih sering ke rumahnya. Di situ mereka melihat katalog IFA yang waktu itu masih terpisah-pisah: katalog baju sendiri, sepatu sendiri, dan produk anak-anak sendiri. Mereka ter- tarik dengan aneka produk yang tersaji di katalog IFA itu lalu memesannya.

"Nah, dari situ akhirnya mau enggak mau saya harus datang ke kantor IFA yang lama. Kantornya kecil, pengap, panas. Di situ ketemu Pak Saputra, Pak Hartono sedang presentasi. Saya tanya, bagaimana keuntungan jadi member IFA dan lain- lain. Saya pingin jadi depot tapi enggak punya uang. Saya kira stockist itu harus deposito. Terus Pak Tomo menyahuti, saya enggak perlu uangnya mbak Ina. Di sini peraturannya beda. Yang penting mbak Ina punya jaringan 100 orang dengan omzet satu bulan 25 juta. Dari situ saya langsung ngajuin jadi depot," tuturnya.

Tiga bulan kemudian, persayaratan- persyaratan tersebut mampu ia penuhi. Lalu berdirilah Depot Ina Bersaudara.

Setelah depot berdiri, Ina aktif bikin demo produk dari RT ke RT, bahkan ke luar kota. Setiap ada tetangganya yang pulang kampung, misalnya ke Cirebon, ia ikuti untuk bikin demo di sana. Karena tak tahu sistem dan belum menguasai soal produk, dia pun bercerita seputar apa yang dia rasakan dan hasilkan saja.

Ia juga giat bikin acara dari kelurahan ke kelurahan untuk menguatkan depotnya. Bahkan orang pertama kali yang bikin acara Gebyar IFA adalah Ina, sebelum akhirnya IFA pusat bikan nama dan acara serupa. Berkat keaktifannya itu, omzet depotnya pun melaju cepat dari 25jt ke 50jt.

Namun di saat pergerakan bisnisnya mulai berkembang, cobaan datang menghampiri. Tahun 2005, Ina sempat drop karena masalah keluarga. Akibatnya, urusan bisnisnya pun ikut berantakan.

"Itu saya merugi, bahkan sampai minus. Saya benar-benar terpuruk. Waktu drop saya sudah enggak punya modal apa-apa padahal permintaan banyak," ungkapnya sedih.

Persoalan kian pelik, membuat Ina tak lagi bisa berpikir. "Akhirnya saya ketemu Pak Inung, Trainer IFA dulu. Dia memotivasi saya sedikit demi sedikit, dia mengingatkan saya kembali pada impian. Nah, dari situ saya puter otak, meski enggak ada modal pokoknya saya harus tetap melayani jaringan," tekatnya.

Dalam keterpurukan itu, Ina berusaha bangkit. Selama dua tahun lamanya, dari 2005 hingga 2007, ia berjibagu menata kembali bisnisnya dari nol hingga akhirnya berangsung-angsur bisa pulih. Namun di balik ujian itu, Ina harus bersyukur. Sebab dari situ banyak pelajaran yang bisa ia petik, menjadikan dirinya kian matang dalam mengelola bisnis berjenjang ini. "Pengalaman yang lalu membuat saya lebih pintar lagi dalam mengembangkan jaringan, jangan sampai sandungan yang sama terjadi sama saya," ungkapnya.

Di saat Ina sedang giat-giatnya mengembangkan bisnisnya, cobaan kembali datang menghampiri. Tahun 2009, Ina terpaksa dibawa ke rumah sakit dan harus istirahat total selama 3 bulan karena penyakit yang dideritanya.

Meski demikian, bukan berarti bisnisnya berhenti total. Di tenggah sakitnya itu, Ina masih menggerakkan roda bisnisnya dari rumah sakit melalui laptopnya. "Sampai dokter sama suster itu geleng- geleng," tutur ibu dari Indra Setyawan (16), Noviya Arum Sekar Taji (13), dan Aditya Putra Kurnia (11) ini. Saat sakit ini, omsetnya anjlok, biasanya mencapai kisaran 150-200jt kini hanya 30jt.

Setelah melewati masa sakit, Ina kembali menata bisnisnya dengan semangat yang lebih menggebu-gebu. Berlahan namun pasti, omzetnya terus menananjak.

Menuai Hasil, Menabur Budi
Dari jerih payahnya selama ini, Ina akhirnya berhasil menelurkan 6 anak depot, yaitu: (1) Depot Prila Mentari Cirebon, (2) Depot Salatiga/Pak Widodo, (3) Depot Pitaloka Pekalongan, (4) Depot Hayati Cikupa, (5) Depot Yova Bersaudara Merauke, (6) Depot Debo Kren Ternate.

Juga 3 sub depot: (1) Damaris Iba Asiki, Papua, (2) Yulianti Timbang, Tanah Merah, Papua, (3) Fatmawati Korindo, Papua.
Berbagai komisi, challenge, dan bonus yang disediakan IFA pun telah berhasil ia raih: komisi motor (2005) atas namanya sendiri, komisi motor (2006) atas nama suaminya, komisi ibadah (2006), komisi wisata Hongkong (2007), challenge Singapura (2011), challenge Scoopy (2011), dan berbagai bonus lainnya yang bernilai jutaan rupiah tiap bulan.

Dari bonus-bonus tersebut, Ina bisa membangun rumah yang cukup mewah yang saat ini ia tempati, membeli tanah seluas 470 meter persegi di daerah Parung, dan membeli 2 kios di Bintaro, Tangerang Selatan. Satu kios ia sewakan, sementara satunya ia jadikan depot (Depot Ina Bersaudara), tepatnya di Jl. Raya Pondok Ranji (kios stasiun Pondok Ranji) No. 32A, Bintaro Tangerang Selatan.

Dari hasil bisnisnya itu pula, Ina bisa rutin mengirimi kedua orangtuanya dan mertuanya setiap bulan serta menyekolahkan anak angkatnya. Dan tak lupa ia selalu menyisihkan 2,5 persen dari total pendapatannya untuk diberikan kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu,

Ke depan, Ina bertekad untuk bisa meraih komisi mobil (KCM) dari IFA. "Apalagi saat ini ada banyak starterkit, otomatis banyak cara." Ditambah pula IFA kini banyak produknya, utamanya Cookware dan HHK untuk PAUD dan TK. "Itu yang akan saya geber," tandasnya.

  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI





TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kisah Sukses : Sukses Sejati, Selalu Berbagi dan Memberi
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/11/kisah-sukses-sukses-sejati-selalu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".