Bong Chandra : Tuhan Tidak Membenci Orang Malas, Tapi .....

Posted by tasya diah safitri safitri Minggu, 04 Desember 2011 1 komentar

Rasa minder atau pun malu awalnya menghidap jiwanya. Namun motivasi bagaimana bertahan hidup justru lebih besar. Menjual sisa potongan kue di pabrik ayah-nya ke sekolah, contohnya. Perasaan begitu minder akan hal tersebut, ditambah lagi dengan penyakit asma sehingga membuat tubuhnya rentan dan tak jarang dicemooh oleh teman-temannya.


Siapa yang tidak kenal dengan Bong Chandra? Telah mereguk kesuksesan padahal usianya masih tergolong muda, wajah tampan, low profile memiliki investasi yang cukup besar alias miliader. Sebutan The Asia Youngest Motivator tak salah bila disandangnya. Pria yang satu ini muncul setiap senin pagi di sebuah stasiun tv swasta nasional.

Rasanya terdecak kagum bila membaca kisah hidupnya yang penuh berliku. Rasa duka, suka bercampur menjadi satu menghiasi dinding kehidupannya. Tidak ada salahnya bila kita bisa mengikuti cara, tips, langkah yang dilakukan Bong Chandra meraih sukses.

Majalah ini coba merangkumnya menjadi sebuah tulisan untuk disajikan ke tengah pembaca.

Siapa sangka lelaki berkacamata ini sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang, pernah mengalami yang namanya kegetiran hidup. Itu dialaminya pada tahun 1998 dimana ketika itu sedang terjadi krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Keluarganya mengalami kebangkrutan. Bong yang lahir pada 25 Oktober 1987 di Jakarta, awalnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun tersadar ketika rumah yang ditempatinya terpasang sebuah papan pengumuman: Rumah Dijual.

Kondisi demikian lantas tidak membuat Bong patah arang. Justru melecut dan membentuk pribadi yang tangguh. Ketika anak-anak seusianya lebih asyik bersenang-senang, Bong justru memilih membangun usaha. Dirinya tidak mau menyusahakan orang tuanya yang sedang mengalami kesulitan. Segala cara diupayakan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Bila anak yang lain membeli buku pelajaran baru, Bong justru memfotokopinya. Pun demikian dengan alat tulis lainnya, seperti memakai kertas bekas dan juga menggunakan karet (gelang) sebagai penghapusnya.

Rasa minder ataupun malu awalnya
menghidap jiwanya. Namun motivasi bagaimana bertahan hidup justru lebih besar. Menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah, contohnya. Perasaan begitu minder akan hal tersebut, ditambah lagi dengan penyakit asma sehingga membuat tubuhnya rentan dan tak jarang dicemooh oleh teman-teman-nya.

Tapi, semakin dicemooh justru Bong semakin semangat untuk mengembangkan jiwa usahanya. Dirinya menjual parfum dan VCD (cakram padat). Kemudian, ketika masuk SMA, bersama seorang rekannya menjalankan bisnis baju. Padahal uang pun tidak punya, tapi Bong hanya modal kepercayaan. Pagi hari mereka berangkat ke Bandung untuk belanja, kemudian sorenya kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap jual. Selain ditawarkan kepada teman- temannya, Bong coba membuka lapak di Senayan dan Pasar Taman Puring Jaksel.

Motivator
Terlahir dari pasangan Aditya dan Bong Sungo, Bong merasa beruntung. Sebab orangtuanya tidak mengekang mau jadi apa kelak. "Orang tua saya membebaskan mau jadi apa saya kelak. Asalkan bertanggungjawab," ujar Bong pada satu kesempatan. Karena hal inilah, Bong muda tumbuh menjadi manusia yang bisa membanggakan orangtuanya.

Tidak ada perasaan menyesal bila masa mudanya dihabiskan untuk bekerja keras, membantu kehidupan keluarga. Tidak ada perasaan iri, bila melihat rekan ataupun temannya yang bersenang- senang. Orang tuanya selalu menasehati agar memanfaatkan waktu yang sebesar- besarnya dan tidak terbuang percuma.

Bong pun kerap mengisi waktu dengan membaca buku. Kegemarannya adalah membaca buku motivator dunia misalnya Donald Trump. Dari sini keingi
nan sukses makin besar saja. Dari kegemarannya tersebut, memudahkan untuk memotivasi diri sendiri. Kemudian juga mulai menasehati temannya yang patah semangat.

Tampaknya dunia motivasi telah dimulai oleh Bong. Langkah awal berama lima rekannya, membuat sebuah event organizer untuk pelatihan motivasi. Yang menjadi sasarannya adalah orang-orang dekat. Dirinya diminta beberapa rekan untuk memotivasi satu jemaat di gereja.

Sebagai motivator baru, Bong secara professional atau menerima bayaran adalah memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, dirinya hanya memungut biaya operasional. Langkah bisnisnya tersebut tidak mencari uang tapi justru memperluas pertemanan.


Seiring perjalanan waktu, nama Bong Chandra mulai dikenal oleh masyarakat. Diusia 18 tahun, Bong Chandra sudah dipercaya untuk memberikan training sampai ke Negara Filipina. Kemudian di usia 22 tahun Bong Chandra telah berbicara di depan 50.000 orang sehingga layak disebut sebagai The Asia Youngest Motivator atau Motivator termuda di Asia. Beberapa perusahaan besar yang memakai jasanya untuk memberikan training seperti Shell, Bank BRI, Bank Mandiri, Panin, Commonwealth, Yamaha, Ciputra Group, PLN, Gramedia, Prudential, Sunlife, CNI, TVS Motor, TVI, Real Estate Indonesia, dan sebagainya.

Entrepreneur
Selain sebagai motivator, Bong Chandra juga seorang entrepreneur yang sukses. Keberhasilannya tidak terlepas dari sosoknya sebagai seorang motivator. Bong yang kerap mengisi pelatihan di lingkungan pebisnis property, suatu ketika memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur. Di sini diajak kerjasama oleh sesama pembicara.



Anak kedua dari tiga bersaudara ini awalnya diminta mencarikan investor pembangunan property seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang Selatan. Memang sih yang dilakukan Bong gagal, tapi rekannya tidak kecewa. Justru ia diminta bergabung untuk menjalankan bisnis ini. Ahirnya Bong dan dua rekannya menjalankan perusahaan property senilai Rp 180 miliar. Perumahannya bernama Ubud Village yang terletak di Jakarta Selatan.

Dalam menjalankan bisnis property,
  Bong mengalami kesuksesan karena berhasil menjualnya. Namun bukan berarti suksesnya diraih dengan mudah, sebab ada kalanya mengalami penurunan dalam menjual unit rumah. Untuk membangkitkan para marketingnya, Bong sering memotivasi.

Pernah satu kali, menurut cerita Bong, dirinya memotivasi anak buahnya dengan melakukan taruhan. "Kalau anda berhasil menjual 100 unit rumah maka saya siap menjadi office boy sehari dan juga pergi ke kantor tidak naik mobil," ungkapnya. Hal ini tentu saja memotivasi para anak buahnya, sebab sang bos mau dikerjain. Benar saja, para marketingnya semangat untuk menjual dan menawarkan rumah. Meski tidak mencapai target menjual 100 rumah, tapi ternyata para marketingnya berhasil menjual 80 unit rumah.

Sekarang Bong telah memimpin 3 pe- rusahaan dan membawahi 150 staff dan karyawan, antara lain; PT. Perintis Triniti Property, PT. Bong Chandra Success System, dan PT. Free Car Wash Indonesia.

Bicara entrepreneur, awal bulan (1/10) lalu Bong menjadi pembicara dalam acara One Heart One Nation yang diselenggarakan Stella Maris School, BSD City, Tangsel. Dalam pemaparannya yang bertajuk Cara Menanamkan Karakter Entrepreneur Sejak Usia Dini, Bong mengatakan bahwa Indonesia butuh gerakan entrepreneur. Bangsa ini masih sedikit yang menjadi entrepreneur.

Untuk sukses menjadi entrepreneur, kata Bong, perlu memperhatikan beberapa hal, khususnya filosofinya. Yang pertama adalah siap dengan yang terburuk. Seringkali dalam entrepreneur segala yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Entrepreneur misalnya menjual sesuatu tapi tidak mencapai target atau mengalami kerugian. Hal ini harus dipandang positif, sebab bisa jadi ini merupakan pertanda akan naik tingkat.

Kemudian juga adalah sedikit egois banyak empati. Maksudnya adalah kita harus sedikit mementingkan diri sendiri agar kita bisa banyak membantu sesama. Berikutnya adalah cukup jauh tapi cukup besar. Maksudnya adalah jangan membatasi ruang gerak, biarkanlah mimpi kita besar selama mimpi itu bisa. Seseorang boleh saja mendengarkan pendapat orang lain, tapi semua kembali ke diri sendiri.

Ia juga memiliki filosofi menarik: saya menciptakan uang tapi uang tidak menciptakan saya. Di sini berarti bahwa jangan diperhambakan dengan uang. Menjalin hubungan baik lebih penting daripada uang. Uang bukanlah tujuan, efek samping dari yang kita lakukan. Uang dengan sendirinya akan datang kalau kita fokus.

Bagi Bong, entrepereneur sebenarnya bisa saja diajarkan dan diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Selama itu sesuai dengan kondisi kejiwaanya. Mi­ salnya saja anak diajarkan bagaimana melakukan jual beli dengan menggu­ nakan uang yang bukan sesungguhnya tapi uang monopoli.

Bong merasa bersyukur, meski masih sedikit sekolah atau lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang entrepreneur, tapi bermunculan anak­anak muda yang berpikiran dan terjun ke entrepreneur.

Sebagai seorang entrepreneur, Bong pernah juga mengalami yang namanya kegagalan. Diungkapkan olehnya bahwa kegagalan tersebut misalnya saja event organizernya suatu kali berhasil meraup untung Rp 40 juta, tapi di lain waktu ternyata mengalami rugi sebesar Rp 40 juta. Contoh lainnya, menggelar launching property, diadakan di sebuah hotel berbintang. Ketika digelar ada 17 orang yang booking fee, tapi ternyata yang jadi beli hanya satu. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan yang diharapkan, sudah keluar uang besar tapi pemasukannya kecil.

Disamping sebagainmotivator, pengembangan developer, Bong Chan­ dra merupakan penulis buku. Hasil kary­anya berjudul Unlimited Wealth dan The Science of Luck adalah best seller yang saat ini hampir terjual 100.000 copy.

Sebagai penulis buku, tentunya merasa senang dengan penjualan yang mencapai angka tersebut. Hal ini dira­ sakan pula Bong Chandra. Namun demi­ kian, kebahagian tersebut, tidak ingin dinikmati sendiri. Sebagai mahkluk Tu­ han yang mempunyai nilai sosial, Bong ingin kebahagiaan tersebut dirasakan oleh kaum yang tidak mampu kehidu­ pannya. Oleh karenanya, hasil dari buku tersebut diberikan kepada yang berhak.

"100 persen royati dari penjua­lan buku disumbangkan ke Yayasan Vincentius Jakarta Pusat," kata Bong.

Setiap manusia yang hidup memang menginginkan hidupnya sukses. Tapi untuk meraih kesuksesan tidak mudah. Setiap orang mempunyai jalan hidup masing­masing. Biasanya lingkungan yang selalu dipersalahkan bila seseorang mengalami kegagalan. Padahal menurut Bong Chandra, kegagalan dan perubahan tidak dari luar tapi dari dalam sendiri.

Bagi yang ingin sukses, Bong me­nyarankan agar di era sekarang, laku­ kan sesuatu yang beda atau lain dari yang sudah ada. Di dunia musik, bagaimana sebuah grup band tampil beda, akhirnya mengalami kesuksesan.

Bagi anak muda, yang terjun sebagai entrepreneur dan ingin sukses, kata Bong, sebaiknya tunda kesenangan bayar seka­ rang daripada sudah tua baru kerja keras.

Akhirnya, sebuah kata dari Bong Chandra yang mungkin bisa direnungi oleh kita semua "Musuh terbesar dari sebuah kehidupan yang baik adalah ke­ hidupan yang luar biasa".

Sumber : www.ifadahsyat.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Bong Chandra : Tuhan Tidak Membenci Orang Malas, Tapi .....
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/12/bong-chandra-tuhan-tidak-membenci-orang.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 komentar:

Poskan Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".