Kisah Sukses : Sang Pendekar Pendidikan Menagih Janji Kemerdekaan

Posted by tasya diah safitri safitri Minggu, 04 Desember 2011 0 komentar




Anies, begitu sapaan akrabnya, memang bukan seorang yang kaya harta melainkan kaya pemikiran. Ia memiliki kepedulian dan perhatian yang kuat terhadap perbaikan nasib bangsa Indonesia melalui gerakan pendidikan baru yang ia beri nama INDONESIA MENGAJAR. Ia dihormati bukan hanya karena gagasan dan pemikirannya yang cemerlang melainkan juga karena pribadinya yang sederhana dan memiliki integritas tinggi, tidak memihak pada kekuatan politik tertentu.

Pertengahan Agustus lalu, dua kru intrepreneur (Muhammad Kodim dan Badru TA) berkesempatan hadir untuk mendengarkan orasi kebangsaan yang dibawakan oleh Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini dengan tema "Melunasi Janji Kemerdekaan". Acara dihelat dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-66 RI. Dalam orasi yang digelar di Aula Nurchilish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Anies mengatakan, setelah 66 tahun merdeka, sebagian janji kemerdekaan belum terwujud.

Bahkan, menurut Anies, janji kemerdekaan itu seakan hilang ditelan hiruk-pikuk perdebatan yang mengedepankan kepentingan jangka pendek kelompok tertentu saja. Anies menegaskan bahwa Indonesia adalah negeri masa depan, land of the future. "Kita mempunyai hampir seluruh persyaratan untuk sukses, tetapi kita juga punya potensi yang mengarah pada kegagalan," ucapnya lantang yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan para audien.

Dan tahun 2045, menurut Anies, seharusnya tahun pelunasan janji kemerdekaan pemerintah, seperti hilangnya kemiskinan, kesejateraan yang adil dan merata. "Insya Allah janji kemerdekaan terpenuhi ketika kita 100 tahun merdeka. Itu pun bila kita menemukan pemimpin otentik," tandas Anies.

Pemimpin otentik ini, lanjut Anies, diperlukan untuk memperjuangkan tiga hal utama, yaitu pembangunan, demokrasi, dan penegakan hukum. Untuk itu Indonesia memerlukan strong leadership dalam upaya mendorong tiga hal itu. Sebab, ketiga hal itu tidak bisa dijalankan secara auto pilot atau berjalan otomatis. "Sekarang ini strong leadership tidak ada di republik ini. Makanya diperlukan kehadiran pemimpin yang kuat, berani, dan mampu melakukan terobosan," tegasnya.

Pemimpin juga harus mendorong pembangunan secara serius. "Ini bukan intervensi, tapi karena memang tugasnya: mendorong yang macet-macet itu," ujar Anies. Pembangunan infrastruktur, misalnya, cenderung mandeg. Buat kebanyakan pengusaha, lemahnya infrastruktur tersebut mengancam ke langsungan dunia usaha. Jeruk lokal, misalnya, bisa kalah bersaing dengan jeruk impor hanya karena infrastuktur yang tidak kunjung membaik, atau malah justru memburuk dari tahun ke tahun.

Pembangunan saat ini belum mensejahterakan rakyat, buktinya ada sekitar 42% penduduk yang pendapatannya masih di bawah Rp 400 ribu per bulan. Sudah begitu, kalau mereka sakit, tidak ada sistem jaminan kesehatan buat mereka. "Di Indonesia, jangan sampai sakit, karena begitu sakit, Anda langsung turun di bawah garis kemiski- nan," kata Anies disambut tawa hadirin.

"Yakinkah Anda, setelah menemukan pemimpin otentik itu Indonesia bisa bangkit?" tanya wartawan saat jumpa pers usai orasi yang berjalan kurang lebih 2 jam itu. "Ya, yakinlah. Sebab, ada beberapa penelitian mengenai posisi ekonomi Indonesia di dunia. Pertama, Citibank Research Group menyebutkan, Indonesia akan menjadi salah satu negara penting dalam skala global dan dikelompokkan sebagai penggerak ekonomi global," jawabnya. Diperkirakan tahun 2030, lanjutnya, ekonomi Indonesia menjadi terbesar nomor 7 dan tahun 2050 naik posisinya ke nomor empat secara global.

"Intinya, saat 100 tahun Indonesia merdeka, kita akan menjadi high income country. Asian Development Bank (ADB) menyebutkan Indonesia akan menjadi salah satu mesin kebangkitan Asia, bersama Jepang, Korea Selatan, India, dan China. Negara-negara tersebut akan menguasai 80 persen ekonomi Asia," paparnya.

Jejak PerjalananAnies Baswedan
Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan, Jawa barat. Ia adalah anak pertama dari pasangan Drs. Rasyid Baswedan, SU (Dosen Fak Ekonomi Universitas Islam Indonesia) dan Prof. DR. Aliyah Rasyid, M.Pd. (Dosen Fak Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta). Ia menikah dengan Fery Farhati, S.Psi, M.Sc., perempuan pujaan hatinya. Anies adalah cucu dari AR Baswedan, pejuang nasional yang merupakan salah satu founding fathers Republik Indonesia serta yang pernah menjadi Menteri Penerangan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, tepatnya 1946.

Masa kecil Anies dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Sewaktu duduk di bangku SMAN 2 Yogyakarta, ia terpilih sebagai peserta dalam program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs yang diselengarakan oleh Bina Antarbudaya selama setahun di Milwaukee, Wiconsin, Amerika Serikat (1987-1988).

Lalu, semasa kuliah di UGM (1989- 1955), ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Anies pun terpilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM. Berkat kepandaiannya, ia mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang.

Usai lulus kuliah di UGM pada 1995, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi di UGM. Kemudian, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.

Di Amerika ia juga aktif di dunia akademik dengan menulis sejumlah artikel dan menjadi pembicara dalam berbagai konferensi. Ia banyak menulis artikel mengenai desentralisasi, demokrasi, dan politik Islam di Indonesia. Artikel jurnalnya yang berjudul "Political Islam: Present and Future Trajectory" dimuat di Asian Survey, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Universitas California, Artikel Indonesian Politics in 2007: The Presidency, Local Elections and The Future of Democracy diterbitkan oleh BIES, Australian National University.

Pada 2005, Anies menjadi peserta Gerald Maryanov Fellow di Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Il linois sehingga dapat menyelesaikan disertasinya tentang "Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia". Di tahun yang sama, Anies menjadi direktur riset pada The Indonesian Institute.

Anis pernah bekerja sebagai National Advisor bidang desentralisasi dan otonomi daerah di Partnership for Governance Reform, Jakarta (2006-2007). Selain itu pernah juga menjadi peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia (2005-2007).

Pada 15 Mei 2007, Anies dilantik menjadi rektor Universitas Paramadina. Anies menjadi rektor menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan dan intelektual Muslim, Nurcholish Madjid, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Saat itu ia baru berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia.

Tahun 2009, Anies terpilih menjadi Young Global Leader oleh The World Economic Forum yang berpusat di Davos, Swiss. Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.

Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf  Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Pada tahun 2010, Anies menerima Yashuhiro Nakasone Award dari Bekas PM Jepang, yang dianugerahkan langsung di Tokyo Jepang bulan Juli 2010.

Anies terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang. Dalam edisi khusus yang berjudul "20 Orang 20 Tahun" itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.

Pendidikan, Kunci Meraih Perubahan
Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies mendirikan gerakan pendidikan baru yang diberi nama INDONESIA MENGAJAR. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang ada di pelosok Indonesia.

Lewat program INDONESIA MENGAJAR, Anies mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan menggantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama.

Mengapa Anies memilih jalur pendidikan? "Pendidikan adalah kunci untuk meraih perubahan. Pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi. Pendidikan adalah resep untuk mendapatkan janji kemerdekaan. Karena itulah saya percaya kemajuan di Indonesia bisa kita raih jika keterdidikan sudah menjadi kewajaran," tegasnya. Prinsipnya adalah, bahwa SDA bukanlah kekayaan utama Indonesia. Kekayaan bangsa Indonesia adalah "manusia" Indonesia. "Jika kita manusia Indonesia terdidik, tercerdaskan dan tercerahkan maka kita akan sejahtera. Karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memeberikan pendidikan berkualitas kepada setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali," tandasnya.

Tapi kenapa harus mengajar di pelosok negeri? "Pengalaman mengajar di pelosok Indonesia akan menjadi bagian dari memori seumur hidup. Pelosok Indonesia adalah negeri kita sendiri. Generasi kakek kita dulu miskin, tak ter- didik seperti yang sekarang di pelosok Indonesia. Kenapa kita sekarang menjauhi, takut ke pelosok?" sambungnya.

Karena itu, para pemimpin muda hendaknya tak canggung terjun ke desa desa di pelosok.

Muda yang dimaksud Anies di sini bukan dari segi umur, melainkan gagasan baru. "Bagi saya, orang muda adalah orang yang memikirkan masa depan, berapapun usia badan orang itu. Disebut tua jika seseorang lebih memikirkan masa lalu. Tentu kita belajar dari sejarah, tapi tujuannya tetap untuk memikirkan masa depan. Karena itu, jadilah orang muda. Ekspresikan gagasan baru Anda dengan baik, maka berapapun usia Anda itu bukanlah masalah," tandasnya.

Untuk mengembangkan kreatifitas dan ide-ide baru yang segar, menurut Anies, kita harus berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan. Berhenti mencoba adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Kemauan mencoba dan terus melakukan perbaikan adalah kunci utama untuk maju dan berkreasi. Gebrakan yang harus dilakukan adalah "stop cursing darkness, let's light candles". Lakukan perubahan dan kontribusi sekecil apapun sesuai kemampuan.

Sumber : www.ifadahsyat.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kisah Sukses : Sang Pendekar Pendidikan Menagih Janji Kemerdekaan
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/12/kisah-sukses-sang-pendekar-pendidikan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".