Menjalankan secara Tulus Mencapai Hasil Bagus

Posted by tasya diah safitri safitri Rabu, 14 Desember 2011 0 komentar

Kesuksesan    seseorang    bukan diukur dari seberapa banyak mereka memiliki harta kekayaan, tetapi dilihat dari seberapa besar mereka bermanfaat untuk orang banyak. Suk­ ses memang milik setiap orang namun bagaimana mencapainya, itu yang harus diperjuangkan.

Setiap masing-masing individu memi­liki potensi untuk sukses. Tapi ternyata tidak banyak orang yang melihat dan menggali potensi tersebut. Sehingga tidak sedikit orang yang mengalami ke­ gagalan. Memang sih, campur tangan Tu­han bermain sehingga sering mendengar selain berusaha juga harus dibarengi doa.

Kondisi lingkungan, kadangkala men­jadi salah satu faktor seseorang untuk menggapai kesuksesan. Lingkungan kelu­ arga misalnya. Jika hidup dalam keluarga yang kondisi kehidupan dari segi ekono­ mi yang pas­pasan atau bahkan jauh dari cukup, kadangkala memberikan doro­ngan tekad untuk bangkit.

Keluarga Besar
Terlahir dari sebuah keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang tidak ber­ lebihan, membuat perempuan berna­ ma lengkap Betty Halim, berpikir keras bagaimana pendidikannya bisa terus lanjut tanpa harus menyusahkan bahkan meminta ke orang tuanya.


Betty Halim termasuk orang yang beruntung. Segala hal yang sebelumnya tidak pernah diduga akhirnya bisa diraih. Kunci kesuksesan Betty terletak pada motto hidupnya.


"Saya anak ke-9 dari 10 bersaudara, ekonomi keluarga kami sederhana," ujar Betty Halim membuka percakapannya dengan majalah intrepreneur. Dilanjutkan pula bahwa ayahnya, sehari-hari bekerja sebagai montir bengkel, sementara ibunya membuka kantin di sekolah. Namun karena anak banyak, pendapatan orang tua tidak mencukupi. Ditambah lagi setelah ayah kena penyakit diabetes yang menyebabkan kebutaan salah satu mata ayahnya, dokter menvonis ayahnya tidak boleh lagi bekerja. Sehingga secara otomatis ibulah yang jadi tulang punggung keluarganya.

Menyadari akan hal ini, kami sekeluarga berpikir agar jangan menyusahakan orang tua dan kalau bisa membantu mencari rejeki.
"Kami semua harus bekerja untuk biaya sekolah termasuk saya, sejak kelas satu SMP sudah menjadi karyawan toko elektronik," tuturnya. Syukur, dengan tekad yang kuat, akhirnya berhasil menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1988.

Seiring perjalanan waktu, Betty mulai mengenal bisnis berjenjang atau multilevel marketing. Awalnya dirinya hanya membantu kakaknya yang sudah lebih dulu mengenal bisnis ini. Hingga suatu waktu sekitar tahun 2000, Betty pergi ke Jakarta, diundang oleh salah satu multilevel tas. Kala itu hanya sebagai asisten, sedangkan pemiliknya adalah kakaknya sendiri sebagai stokis di Samarinda.

Secara tidak sengaja Betty mengenal seorang bernama Lim Ay Lin. Beliau menawarkan tentang bisnis IFA. Namun kala itu dirinya menolaknya karena ingin lebih fokus di multilevel yang kakaknya jalankan. Baru setelah dirinya pulang ke samarinda, ternyata dirinya didaftarkan sebagai member IFA dan dari KP dikirimi katalog IFA.

Bukan hal yang aneh, bila awal-awal menjalankan bisnis multilevel menga lami penolakan. Hal ini dirasakan sendiri oleh Betty. Menurutnya, dirinya sedih juga karena awal memasarkan IFA selalu mendapatkan penolakan. Meski sedih, perempuan kelahiran Samarinda ini tidak putus asa. Dia mencari cara agar mereka mau masuk IFA dan membeli produknya.

"Saya rajin memasarkan dengan berani memberi diskon full dan hanya mendapatkan point saja. Tujuannya supaya IFA dikenal," ungkapnya. Cara ini begitu jitu, terbukti tidak sedikit yang tertarik mendaftarkan diri menjadi member dan membeli produk IFA.

"Rasanya senang juga sebab tanpa diduga saya mendapatkan bonus untuk pertama sebesar Rp 700 ribu," katanya.
Motivasi dan kecintaannya terhadap IFA terus berlanjut. Terbukti, dengan meninggalkan multilevel yang sebelum- nya pernah digeluti.

"Kalau multilevel yang lain, mudah di- terima dan selalu dicari produknya oleh masyarakat bukan hanya dari Samarinda saja tapi dari daerah lain pun mencarin- ya, tetapi saya justru meninggalkan yang mudah itu dan memilih IFA," akuinya.

Dimata Betty, IFA perusahaan yang selalu memperhatikan para membernya, apalagi pimpinannya Pak Tomo (Tanu Sutomo,red) bersifat kekeluagaan, tidak sombong, gigih dan ulet untuk membesarkan IFA.



Menikmati Bonus

Sudah 11 tahun berkecimpung di IFA, banyak hal ditemui. Misalnya saja harus meyakinkan para member ketika marah- marah karena kecewa dengan produk. Hal yang cukup menyenangkan sekaligus membanggakan adalah bonus dan komisi yang diterimanya. Omzet depotnya per- bulan sekarang seitar Rp 150 juta/bulan, sedangkan kalau ditotal dengan jaringan-nya berjumlah Rp 500 juta/bulan.

Dengan jumlah seribuan member yang tersebar di Sanga Sanga, Palaran, Pendingin, Sangatta, Barong Tongkok/ Melak, Kecamatan Sekolaq Darat, serta semua wilayah Kalimantan Timur, Betty memperoleh bonus Rp 15 juta/bulan.

Sementara itu, beberapa komisi yang pernah diraih seperti Komisi Kredit Cicilan Sepeda Motor (KCSM), KPI (Roma), Wisata Asia (Hongkong/Shenzhen), Wisata Australia, KCM 1, Chalenge Singapura, serta Chalenge Blackberry.

Strategi yang dijalankan sehingga mencapai hasil di atas, diakui cukup sederhana. Istri dari Wardhana Halim menuturkan bahwa dirinya mengutamakan kepuasaan member. Selanjutnya yang tak kalah penting adalah setiap ada katalog baru, dirinya selalu membagikan katalog promosi untuk sahabat yang menolak IFA hingga sampai akhirnya suatu saat mereka yang mencari dirinya untuk menanyakan katalog baru kapan ada lagi.

"Tidak ketinggalan dimobil saya selalu ada katalog promosi," terangnya. Kesuksesan yang diraihnya bukan datang tiba-tiba. Semua berproses dan makan waktu yang tidak sebentar. Lalu apa sih kunci kesuksesan Betty Halim? Perempuan yang lahir pada 27 November 1968 ini menunjuk pada motto hidupnya. "Motto hidup saya, bersyukur didalam segala hal, percaya yang terbaik Tuhan sediakan, tidak ada pekerjaan yang sia-sia, lakukan dengan ketulusan, tidak terpaksa," terangnya. Kesuksesan, sambungnya, adalah hak setiap manusia dan sukses ada ada diri sendiri.

Dirinya juga tidak mengesampingkan peran member terutama masyarakat Samarinda. Kebanggaannya karena masyarakat Samarinda tetap setia dan banyak yang memasarkan produk IFA.

Bagi mereka, anggota IFA yang masih tertidur atau kurang aktif, Betty hanya menyarankan agar jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, selama badan masih sehat lakukan yang terbaik dalam hidup.

Meski semua sudah dinikmati, tapi Betty tidak berhenti sampai disini. Ibu dari Henry Halim dan Stephanie Halim ini ke depan punya rencana,yakni bisa membeli rumah toko (ruko) yang letaknya strategis dan fasilitas nyaman.

Sumber : www.ifadahsyat.com


Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menjalankan secara Tulus Mencapai Hasil Bagus
Ditulis oleh tasya diah safitri safitri
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.ifadahsyat.biz/2011/12/menjalankan-secara-tulus-mencapai-hasil.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".