Kisah Sukses : Sukses Muda Ala Merry Riana

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 29 November 2011 4 komentar



Setahun setelah ia bekerja dan usianya baru beranjak 23 tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar Si­ngapura atau sekira Rp. 1,5 miliar de­ngan nilai tukar saat ini. Setahun berikut­nya, yakni 2004, dia mendirikan perusa­haan dengan ben­dera Merry Riana Organization (MRO). Dua tahun kemu­ dian di usia 26 tahun, penghasilan totalnya mencapai 1 juta do­llar Singapura seki­tar Rp 7 miliar.

Kerusuhan Mei 98
Ya, ia di-"ungsikan" oleh orang tuanya ke Negeri Singa saat terjadi kerusuhan di Jakarta pada medium Mei 1998 silam. Singapura menjadi pilihan bagi orang tua Merry, selain dekat juga system pendidikan di sana relatif lebih baik.

Saat itu Merry baru lulus SMA. Cita- citanya untuk melanjutkan kulian di Universitas Trisakti pun buyar karena peristiwa mengenaskan itu. Demi alasan keselamatan ia pun dikirim ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya.

"Waktu itu rasanya seperti dalam film perang. Saya diminta pergi agar saya selamat," ungkap Merry merasakan kesedihanannya yang terjadi 13 tahun lalu kepada KOMPAS (17/7). Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri, ia sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang Technological University.

Orangtua Merry adalah seorang pebisnis dan ibu rumah tangga. Dengan penuh keberanian, sulung dari 3 bersaudara ini tinggal di Singapura dan mengadu untung di sana. Karena dorongan sang ayah, Merry bercita-cita menjadi seorang insinyur. Cita-citanya tersebut mungkin karena ingin membantu sang ayah dalam menjalankan bisnis.

Merry mulai belajar di bangku kuliah di jurusan Electrical and Electronics Engineering (EEE) di Nanyang Technological University (NTU) pada 1998. Merry mengaku jurusan ini menjadi jurusan paling masuk akal baginya saat itu.

Tanpa bekal dana yang memadai, Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura. Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga untuk hidup sehari-hari. Nilai utangnya saat itu mencapai 40.000 dollar Singapura.

Selama kuliah ia harus hidup superhemat. Uang sakunya yang hanya 10 dolar membuatnya harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan rotatau mie instan, bahkan berpuasa.

Ketika masa kuliahnya memasuki tahun kedua dan menyadari bahwa hidupnya tak berubah, ia mulai membangun mimpi. "Saya membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20. Saya harus punya kebebasan financial sebelum usia 30. Dengan kata lain, harus jadi orang sukses. The lowest point in my life membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,"papar Merry.

Sembari belajar di NTU, Merry harus menabung untuk membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya kuliah. Merry menyadari bahwa ia harus memikirkan masa depannya. Dengan kewajiban pelunasan pinjaman sebanyak itu saat lulus dari bangku kuliah, Merry mulai bekerja keras dan ingin mencapai kesuksesan di usia 30 tahun.

Meski sudah menancapkan impian dan didukung semangat yang menggebu, Merry belum menentukan cara mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor. Dari situlah ia mulai melakukan hitung-hitungan, seandainya dia menjadi karyawan perusahaan seusai kuliah, maka ia baru bisa melunasi hutangnya dalam waktu 10 tahun, tanpa tabungan.

Memilih Wirausaha
Merry pun menyimpulkan, dengan cara itu impiannya tak bakal terwujud. Inilah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan memilih jalan berwirausaha untuk mencapai mimpinya.

Tanpa pengalaman dan pengetahuan bisnis yang memadai, Merry terjun ke dalam dunia bisnis. Ia mencoba berbagai peluang bisnis. Salah satunya terjun ke multy level marketing. Sayangnya ia tak berhasil di sini, bahkan rugi 200 dollar. Kemudian suatu saat Merry berinvestasi pada saham dengan mengandalkan uang tabungannya yang susah payah ia kumpulkan. Sayang, Merry kehilangan semua investasinya sejumlah 10.000. Meski begitu, Merry kembali bangkit dan berusaha keras untuk menyelesaikan kuliahnya dan menjadi
entrepreneur.



Saat Merry memulai karier sebagai seorang penasihat keuangan, ia harus bergulat dengan sejumlah tantangan dan hambatan. Orang tuanya, dosen serta teman-temannya kurang setuju dengan keputusan Merry tersebut. Merry saat itu belum memiliki kemampuan berbahasa Mandarin padahal lebih dari separuh penduduk Singapura ialah etnis China. Sebagai seorang pendatang asing di sana, pengalaman dan relasi Merry sangat terbatas.

Tamat kuliah barulah Merry mempersiapkan diri dengan matang. Belajar dari pengalaman pengusaha sukses, dia mulai dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14 jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu enam bulan, ia mampu melunasi utangnya pada Pemerintah Singapura. Tunai!

Atas prestasi yang diraihnya, tahun 2003, Merry dianugrahi Penghargaan Penasihat Baru Teratas yang diidam-idam- kan banyak orang yang menekuni profesi penasihat keuangan. Di tahun 2004, prestasi Merry yang cemerlang membuatnya dipromosikan sebagai manajer.

Dengan bekal manajer itu Merry lantas membentuk tim sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Setahun setelah itu (2005), Merry menerima penghargaan sebagai Top Agency of the Year dan penghargaan Top Rookie Agency. Dengan penghasilan total 1 juta dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat beru sia 20 tahun terwujud.


Seiring dengan usianya yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan dollar bukan menjadi satu-satunya tujuan hidup Merry. Istri Alva Tjenderasa (31) ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan seperti dia.

Tak segan-segan ia membagi pengalaman suksesnya pada orang lain melalui berbagai cara, seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan, sekolah, serta melalui media jejaring social, media massa, dan menulis buku yang tentunya sangat menginspirasi.

Keinginannya untuk terus berbagi tak hanya ia lakukan di Singapura. Pada ulang tahunnya ke-30, ibu dari Alvernia Mary Liu (2,9) ini membuat resolusi baru, yaitu memberi dampak positif pada 1 juta orang di Asia, terutama di tanah kelahirannya, Indonesia. Khusus bagi kaum muda, Group Di rector MRA ini berharap para pemuda mampu memberikan kehidupan yang lebih baik, tak hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga orang tua mereka dan anggota keluarga mereka yang lain.
[]berbagai sumber





Merry Riana
Tempat tanggal lahir:
Jakarta, 29 Mei 1980
Nama Suami:
Alva Tjenderasa (31)
Nama Anak:
Alvernia Mary Liu (2,9)
Pendidikan:
S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological University, Singapura (1998-2002)7
Pekerjaan:
Group Director Merry Riana Organization
Penghargaan:
• Salah satu pengusaha terbaik di Singapura dari Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura (2008)
• Salah satu wanita paling sukses dan inspiratif dari Menteri Kepemudaan dan Olahraga Singapura (2010)
• Wanita paling inspiratif pada salah satu majalah bulanan Inspirational Woman Magazine (2011)
• Salah satu eksekutuf paling professional dari penampilan dan keahlian berkomunikasi dari surat kabar My Paper, Singapura (2010)
• Duta LG Asia, Watson, dan Canon (2010-2011).

Sumber: KOMPAS (17/8)


  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI







Baca Selengkapnya ....

Apa kata Artis/Model tentang IFA ..??

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

Fisik & Wajah adalah yang Utama

Stevianne Agnecya,.

Usai beberapa sesi, kru pemotretan untuk Katalog IFA menyepakati satu hal
tentang cewek yang akrab disapa Stevi ini: wajahnya mirip Sandra Dewi!
Mendenga
r itu, dara kelahiran Jakarta 15 Agustus 1991 ini pun kontan
tersipu malu. Ingin tahu kepribadian Stevi lebih lengkap? Ifashion+ mengha
dirkannya untuk Anda.

Halo Stevi, ceria sekali hari ini.
Hehehe iya nih. Abis daripada dibawa bete nanti malah merusak mood dan
akhirnya hasil fotonya malah kelihatan enggak bagus. Gimana tadi acting lari-lari aku?
Cukup meyakinkan. Capek enggak?
Lumayan sih, tapi lucu aja. Aku senang bisa total dalam pemotretan. Enggak
apa-apa harus capek dikit yang penting hasil fotonya bagus.
Stevi udah lama ya jadi model?
Kurang lebih 5 tahun, dari aku masih SMP.
Wow, memulai karir sebagai model di usia yang sedemikian belia, susah enggak sih?
Lumayan sih, soalnya untuk masuk ke agensinya aja udah cukup banyak saingan. Tapi tergantung dari kitanya, punya kemauan atau enggak. Kalau modal bakat udah ada, ditambah kerja keras dan kemauan yang kuat, pasti ada jalan untuk jadi model profesional.
Menurut Stevi, apa aja modal utama bagi seseorang yang mau berkecimpung di dunia modeling?
Enggak memungkiri kalau tampilan sik adalah yang utama. Tinggi dan berat
badan yang proporsional, serta wajah yang menarik adalah poin plus yang utama. Selanjutnya tinggal seberapa kuat keinginan kita untuk bekerja keras. Dan jadi model itu enggak boleh bosenan. Bayangin tiap pemotretan atau fashion show kan rata-rata capek nunggu. Kalau dia fokus sama mood-nya, pasti kebawa bete dan kesel. Hasilnya malah jadi enggak bagus.
Banyak orang menduga kalau kehidupan para model itu glamor, suka party dan jarang kumpul sama keluarga. Apa benar seperti itu?
Jujur, aku sih enggak suka party kayak gitu, apalagi clubbing. Udah pusing,
capek. Jadi kegiatanku kalau lagi enggak kerja ya istirahat aja di rumah atau jalanjalan sama keluarga atau teman dan paling perginya ke mall aja.
Pernah enggak Stevi mengalami kejadian yang memalukan saat pemotretan atau tampil di fashion show?
Hahaha… aduh malu nih. Tapi iya sih pernah. Jadi waktu itu ada show dan aku kan jadi model untuk make up. Tahu kan bangku-bangku tinggi untuk make up di depan kaca? Kakiku aku injakkan besi landasan di bawah kursi itu supaya kakiku enggak pegal. Nah, pas mau turun, heels aku nyangkut di besi itu dan akhirnya aku jatuh. Aduh… udah sakit, malu juga lagi. Sebel deh!
Apa sih yang paling Stevi suka dari pekerjaan sebagai model?
Waktu yang dibutuhkan tidak full seharian seperti orang-orang kerja kantoran dan harinya juga enggak dari Senin sampai Sabtu. Selain itu, aku juga bisa banyak belajar terutama di bidang tata rias dan fesyen.
Kalau gaya busana dan dandanan Stevi itu seperti apa sih?
Kalau menurut opini dari teman-teman aku sih katanya aku sangat mempedulikan penampilan. Kata mereka aku juga mengikuti perkembangan fesyen. Dan berdandan emang udah jadi bagian dari diri aku, hehehe… Tapi itu semua tetap dalam kadar yang sesuai dengan umurku kok.
Ada tips khusus enggak yang bisa Stevi bagi ke pembaca Ifashion+ agar selalu tampil cantik dan segar ala model?
Kalau menurut aku, cantik itu bukan aja dari luar tapi dari dalam juga. Kalau
dari luar sih biasanya perawatan ke salon. Bisa luluran, creambath atau hair spa, dan menikur-pedikur. Kalo dari dalam biasanya dengan senyum aja pasti kecantikan kita akan terpancar. Menurut aku sih begitu.

Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI




Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Mall Tempat Favorit Untuk Merekrut Member

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar


Mereka yang menunggu sampai memiliki kemampuan untuk melakukan semua kebaikan besar, pada saat bersamaan akan berakhir dengan tidak melakukan apa- apa. Karena kehidupan ini terbentuk dari hal-hal kecil. Kesuksesan sejati terbentuk dari kemampuan diri kita melakukan dengan baik hal-hal kecil tersebut. –Samuel Jhonson-

Mall atau departemen store telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Tak jarang yang menghabiskan waktu akhir pekan- nya dengan mengunjungi mall, untuk sekedar belanja, nonton bioskop atau hanya sekedar jalan-jalan. Maka tak heran dalam satu kota bisa ditemukan begitu banyak pusat perbelanjaan yang jaraknya berdekatan satu dan lainnya.

Belanja di mall seolah menjadi keharusan bagi sebagian besar orang. Tengok saja, pusat perbelanjaan selalu ramai dikunjungi pada akhir pekan. Jika memasuki hari besar seperti liburan dan tahun baru, jumlah pengunjungnya di pastikan membludak berkali-kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Tapi tak semua orang beranggapan seperti itu, Teguh Sri Rahayu contohnya. Perempuan yang akrab disapa Yayu ini menjadikan mall sebagai tempat untuk mempromosikan IFA, bisnis multi level marketing yang digelutinya. Menurutnya, Mall tempat yang tepat untuk memperkenalkan produk dan merekrut anggota.

Mall menjadi tempat favorit bagi Yayu untuk memperkenalkan IFA dan merekrut orang. Banyak acara-acara di mall yang mendatangkan banyak orang. Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang bisa diajak untuk bergabung. Tak jarang Yayu ikut acara-acara yang diadakan MLM-MLM lain, tentu saja tujuannya bukan untuk masuk dalam MLM tersebut tapi mengajak member- member itu bergabung bersama IFA.

Yayu sengaja mengajak member- member MLM lain untuk bergabung bersama IFA. Menurutnya, oarng-orang yang telah terbiasa dengan dunia level marketing hanya butuh sedikit penjelasan akan langsung paham. "Kebetulan sasaran saya itu banyaknya pedagang, banyak juga yang dari MLM sehingga mereka sudah terbiasa dengan MLM. Jadi saya ga perlu menerangkan susah-susah, mereka sudah paham," tuturnya kepada Intrepreneur.

Bisnis berjenjang bukanlah hal baru bagi perempuan kelahiran Cilacap, 16 maret 1976 ini. Pasalnya sebelum bergabung dengan IFA, Yayu telah merasakan asam garam dunia level marketing. Banyak MLM yang pernah diikutinya, semua selalu sama, tak memberikan hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya.

Terlanjur mencintai dunia MLM, ibu dari Andra Firyana dan Syahwil dan Raf- fandi ini ini memutuskan untuk mencari MLM lain yang lebih menjanjikan. Akhirnya pilihannya jatuh pada IFA. Isteri dari Saryono ini yakin sistem IFA mudah untuk dijalankan dan bonusnya transparan.

"Setelah bergabung dengan IFA, semua saya tinggalkan. Saya sangat senang dengan IFA. Saya hanya fokus di IFA dan nggak ada yang lain. Sejak gabung di IFA saya baru merasakan, ini loh MLM yang saya cari. Selama bertahun-tahun saya cari baru IFA ini yang benar-benar merasakan dapat bonus dan menghasilkan. Selama ini di MLM lain saya tidak pernah mendapatkan hasilnya. Dalam waktu tiga bulan saya sudah mencapai silver. Cepat sekali perkembangannya."

Mengintip Perjalanan Hidup Yayu
Kemampuannya untuk menjual dan marekrut orang sudah ditempa sejak kecil. Memiliki seorang ibu penjual soto secara tak langsung membuatnya begitu akrab dengan dunia entrepreneur. Sepulang sekolah Yayu langsung membantu ibunya berjualan soto, mulai dari melayani pelanggan hingga membuat bumbu untuk masakan. Semua itu dilakukannya dengan senang hati.

Memasuki masa sekolah menengah atas, Yayu memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya di Banjar Negara. Hal itu dilakukan mengingat jarak rumahnya cukup jauh dengan tempatnya bersekolah. Tinggal bersama kakaknya tak berarti kebiasan berdagang itu terhenti. Yayu harus membantu kakaknya menjaga toko klontong di pasar.

Menurutnya, Berdagang itu lebih mengasyikan ketimbang bekerja dengan orang lain. "Ternyata berdagang itu lebih menghasilkan dari pada bekerja dengan orang lain. Dengan berdagang kan saya bisa berkreasi, bisa bertemu dengan banyak orang secara langsung, juga mendapat masukan langsung. Kalau bekerja dengan orang lain kan harus disuruh-suruh, lebih nikmat berdagang lah."

Pengalaman berdagang inilah yang membantunya dalam mengembangkan bisnis IFA. Karirnya kini berada di level IFA Silver Agen (ISA). Jaringannya mencapai 100 orang. Omzet perbulannya di atas 20 juta rupiah. Apa yang dimilikinya tak lantas membuat ibu dua orang anak ini puas. Kedepannya, Yayu menargetkan untuk mendirikan depot di Cijantung.


Sumber : www.ifadahsyat.com



  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI






Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Ikuti Semua Seperti Air Mengalir

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Sebelum berangkat sekolah, Margareta harus membantu pekerjaan di rumah. Subuhnya ia menyiapkan kue untuk dititipkan ke kantin sekolah, pulang sekolah pergi ke hutan mencari apa saja yang bisa dijual, seperti air sisa sadapan karet, tebu, daun ubi ataupun arang bekas bakar kayu untuk dijual ke tempat pembuat besi. Setelah itu dirinya harus ke sawah membantu orangtuanya.

"Jika sawah kami sudah selesai, aku biasanya menjadi buruh di sawah orang lain. Sorenya setelah mandi, biasanya aku dan abangku jualan kue buatan mama ke warung sambil numpang nonton TV, di samping aku harus mengasuh adik-adikku juga," tuturnya menceritakan bagaimana dirinya semasa kecil sudah harus bergelut dengan setumpuk pekerjaan.

Dari situlah Margareta bisa memetik pelajaran penting yang selama ini menjadi nilai hidup di dalam keluarganya dan ia warisi hingga kini. "Uang tidak akan datang dengan sendirinya. Kebanggaan yang sangat besar jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun tertatih. Kemiskinan bukanlah penyakit keturunan. Roda selalu berputar, maka ingatlah akan setiap putaran itu." Begitulah kalimat bijak yang menjadi falsafah hidupnya.

Beranjak masa remaja, Margareta pun masih terus bertaruh dengan berbagai pekerjaan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pria yang mampu memikat hatinya, Rudi Suhendi namanya. Hubungan asmara mudamudi ini akhirnya berlanjut ke pelaminan, tepatnya pada tahun 2005 di daerah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar–suatu daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Di sanalah keduanya menjalani hidup sebagai sepasang suami istri hingga akhirnya dikaruniai puteri pertamanya, Jessica Amaria Reanante.

Menjadi seorang ibu rumahtangga dengan seorang puteri ternyata tak melunturkan jiwa pekerja kerasnya. Kala itu Margareta membuka usaha wartel dan ponsel. Namun dua jenis usaha itu tampaknya masih belum cukup untuk membasuh dahaganya.

Karena ingin penghasilannya lebih, Margareta pun berjualan apa saja yang penting menghasilkan. Mulai dari berjualan kue, buka warung kopi, hingga jualan lelong (pakaian bekas dari Malaysia). Pernah juga buka toko devosionalia, serta bekerja di PJTKI sebagai tenaga pengambil sampel darah untuk dikirim ke RS. Kuching, bahkan terkadang menjadi guide juga.

Awalnya Iseng Saja
Margareta tak menyangka sebelumnya jika dirinya akan bisa menjalankan IFA seserius seperti saat ini. Pasalnya kala itu dia bergabung dengan IFA hanya iseng semata. "Awal saya bergabung di IFA karena iseng, untuk menambah koleksi katalog" akunya.




Ketekunan, kesa- baran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata- rata 100-150 juta rupiah.


Ia diperkenalkan oleh Emerensiana Emma sekitar tiga tahun lalu. Margareta dan Emma sebenarnya sudah berteman lama, karena Emma adalah downlin-nnya di salah satu perusahaan MLM asal Prancis.

"Untuk menambah katalog dagangan jadi kami mencari referensi katalog fashion lain dan Kak Ema (panggilan akrab Emerensiana Emma-red) mendapatkan IFA dan barteran, jadinya Kak Ema menjadi upline saya di IFA," ceritanya.

Selang tak lama usai bergabung dengan IFA, Margareta mengikuti IFA Basic Training Nasional (IBTN) sebagai pintu masuk untuk memahami sistem dan budaya IFA, agar tidak seperti orang buta yang kehilangan tongkat.

Karenanya, kesan yang didapat saat pertama mengarungi samudera IFA berbeda dengan para pelaku bisnis IFA lain- nya. Umumnya, saat mulai menjalankan bisnis IFA mereka merasakan kesulitan, namun tidak demikian dengan Margareta. Ia justru mengaku mudah-mudah saja. "Tidak begitu susah di IFA, banyak kemudahan yang saya dapatkan," akunya.

Hanya satu yang menjadi kendala baginya, yaitu soal tempat dan akses. Sebab Etikong merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia, dimana masyarakat di sana lebih mengunggulkan produk luar negeri, selain itu akses juga terbatas, pengiriman barang susah, dan untuk mengembangkan jaringan mentok di perbatasan saja.

Soal pengiriman barang itulah yang masih menjadi kendala hingga saat ini, juga masalah pembayaran. "Kesulitan saat ini adalah masalah pengiriman barang ke para member terutama mereka yang tempatnya jauh dan masalah pembayaran para member. Tapi saat ini lebih dipermudah karena bisa mentransfer uang melalui CU (Credit Union) yang tersebar hampir di seluruh desa-desa besar, karena kebanyakan orang kampung agak males untuk masuk ke bank. Sedangkan pengiriman barang sendiri bisa titip lewat angkot, cuma resikonya kurang aman, karena ekspedisi terbatas rutenya," papar ibu dari Jessica Amaria Reanante (5th) dan Leonard Cielopante (1th) ini.

Bonus pertama yang ia peroleh dari IFA waktu itu hanya 5000 rupiah. Meskipun demikian ia merasa begitu senang dan bangga, walau jumlahnya tak seber apa tapi itu membuktikan bahwa sistem di IFA benar-benar transparan.

Selain itu, di IFA, Margareta merasa menemukan sebuah keluarga baru yang memiliki kepedulian tinggi di antara se­ sama. "Saya mendapatkan teman seorang Ibu depot seperti Kak Alin yang dari awal ketemu langsung mau melayani saya dengan sangat baik dan rela mengantar saya ke kota Sanggau padahal baru pertama ketemu dengan belanjaan saya yang nggak seberapa," kesannya.

Seiring berjalannya waktu, Margareta yang mulanya bergabung dengan IFA hanya iseng saja berlahan-lahan berubah menjadi serius. Pikiran, energi, dan waktunya kemudian lebih dikosentrasikan untuk mengembangkan bisnis IFA. Sebab ia sudah tahu dan merasakan bahwa bisnis ini begitu menjanjikan.

Hingga akhirnya ia berhasil membuka depot pada Agustus 2009 lalu yang ia beri nama DEPOT IFA MARGARETH yang beralamat di KM II Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Berikutnya, ia berhasil menelurkan Sub Depot Herkulanus Oni, yang terletak di Jl. Batu Duduk, Pahauman, Kab.Landak, KalBar.

Ketekunan, kesabaran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Jaringannya beranak-pinak hingga ribuan orang yang tersebar di Kalbar, utamanya kabupaten Landak. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata-rata 100-150 juta rupiah. Karirnya pun sudah berada di level IFA Silver Agent (ISA).

Beberapa komisi dan keuntungan yang disediakan IFA pun sudah berhasil ia raih dan nikmati, antara lain Komisi Cicilan Sepeda Motor, fee depot, rabat bulanan, dan berbagai keuntungan lainnya.

Selain materi, Margaret juga mendapatkan kepuasan non materi. "Saya mendapatkan banyak teman dan saudara. Rasa kekeluargaan yang begitu nyaman antar sesama pimpinan depot, relasi yang begitu kuat tanpa ada rasa persaingan," ungkapnya senang.

Resep Sederhana ala Margareta
Dalam mengembangkan bisnis IFA, Margareta ternyata memiliki resep sukses yang begitu sederhana. Apa saja? "Jangan menjanjikan orang yang muluk- muluk, sodorkan katalog, biarkan mereka menikmati gambar-gambarnya selama mereka suka, beri nomor telepon atau minta nomor telepon mereka, pasti- nya mereka akan mengorder salah satu atau banyak barang di katalog tersebut. Setelah datang dan orang tersebut akan membayar langsung, sodorkan starterkit, maka dia akan masuk menjadi member karena belanjanya telah didiskon langsung, maka kita akan mendapatkan member dan pastinya dia akan berusaha mencari member juga, apalagi setelah melihat statemen bonus kita," paparnya berbagi kiat sukses.

Satu lagi, "Tidak perlu menjelekan MLM lain, tunjukkan keprofesionalan dalam bekerja, pastinya semuanya akan merasa puas," tambahnya memberikan tips khusus untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis MLM dewasa ini.

Meski boleh dikata sudah mulai memasuki zona kesuksesan, namun Margaret tak melupakan aktivitas sosialnya. Di tengah kesibukannya menjalankan IFA, ia ternyata memberikan perhatian khusus kepada para balita yang mengalami gizi buruk, khususunya di desa-desa, dengan bergabung menjadi tenaga Fasilitator Masyarakat (FM) di Dinas Kesehatan Kabupaten Landak untuk program perbaikan gizi atau yang lebih dikenal dengan proyek Nutrition Improvement Thought Community Empowerment (NICE).

  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI






Baca Selengkapnya ....

Figur Publik : Tung Desem Waringin

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Lewat Email Tak Henti Memotivasi

Tung Desem Wa­ringin mungkin sa­dar betul bahwa masih banyak rak­yat Indonesia yang hidupnya kurang beruntung. Apalagi dengan latarbe­lakang kehidupan dirinya yang penuh liku. Sempat mera­ sakan kehidupan di bawah atau jatuh, hingga pada akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.

Kita mungkin masih ingat dengan "hujan" uang pada 1 juni 2008 silam. Ya, sebuah peristiwa langka di lapangan Group 1 Kopassus, Taman Taktakan, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten ini, terjadi penyebaran uang pec- ahan Rp1.000, Rp 5.000, dan Rp10.000 dari atas pesawat. Siapakah sang pemilik ide tersebut? Ternyata tidak lain, tidak bukan adalah motivator terkenal Tung Desem Waringin.

Sosok pria berkacamata ini punya alasan dan maksud tersendiri kenapa melakukan ide tersebut. Hujan uang menurutnya merupakan salah satu kiat sebelum meluncurkan bukunya berjudul Marketing Revolution. Hal itu juga, katanya adalah sebagai protes marketing. Dirinya melakukan protes atas begitu banyaknya biaya marketing yang dikeluarkan dan hanya menyebar seperti menaburkan uang di atas gunung berapi, lantas hilang, lenyap tidak berbekas dan tidak pernah kembali.

Sebagai seorang motivator, Tung Desem Waringin sah-sah saja melakukan- nya. Itu bukan sebuah penggambaran kesombongan atau keriyaan atas kekayaan yang dimiliki. Tapi memang, dibutuhkan sebuah hal berbeda yang bisa menarik perhatian banyak orang atas apa yang akan dilakukan.

Tung Desem Waringin mungkin sadar betul bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya kurang beruntung. Apalagi dengan latarbelakang kehidupan dirinya yang penuh liku. Sempat merasakan kehidupan dibawah atau jatuh, hingga pada akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.

Baru terlahir ke dunia, Tung Desem Waringin dihadapkan pada beban hidup orang tuanya. Bisnis ayahnya Tatang Sutikno, hancur berantakan menyisakan utang. Dengan terpaksa, Tung Desem yang baru dilahirkan tak mampu untuk ditebus dari rumah sakit. Memang sih dapat uang sumbangan dari para saudara, tapi justru dipakai untuk membayar utang. Orang tuanya memegang teguh komitmennya dengan janji.

Usaha
Sebelum menjadi seorang motivator, Tung Desem melewati kehidupan yang bersentuhan dengan entrepreneur. Sang ayah pun selalu melibatkan dan memberi nasehat kepadanya. "Kalau kita tak bisa jualan dengan baik, maka toko akan tutup, lalu kalian tak bisa sekolah, dan kita semua tidak bisa makan," begitu pesan sang ayah.

Nasehat sang ayah yang selalu diingatnya adalah tidak boleh menipu dalam menjalankan usaha. Tapi yang namanya usaha, tentunya mengalami perkembangan naik turun. Demikian pun halnya dengan usaha ayahnya berupa toko emas.

Melihat hal demikian, Teng bertekad suatu saat nanti harus bisa mencapai ke­ suksesan. Satu nasehat lain dari ayah- nya, "Kalau ingin sukses, bergaullah dengan orang sukses."

Ketika kuliah di Jurusan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tung menjadi Salesman emas. Tung yang kala itu hanya tinggal skripsi, mengambil emas dari kakaknya di Jakarta, menawarkan dari toko ke toko, mulai dari Tayu, Jepara, Semarang, Salatiga, Ambarawa, sampai ke daerah Pekalongan. Usaha yang dilakoni Tung membuahkan kesuksesan.

Kesuksesan pun mulai menghampiri kisah hidup berikutnya. Saat diterima bekerja di Bank Central Asia (BCA), Tung mendapat tugas yang cukup berat. Dia dikirim ke BCA Cabang Surabaya, harus membenahi 22 cabang pembantu (capem) yang hasil audit operasional- nya terburuk se­Indonesia. Meski tidak ada anak buah, tanpa jabatan, tanpa kewenangan, serta dijatah dua tahun harus selesai, tidak membuatnya patah semangat. Justru hal tersebut dibuktikan dengan kerja kerasnya. Tanpa kenal lelah, dengan gerak cepat, akhirnya Tung mampu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Olehnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugasnya cukup empat bulan.

Hasil kerjanya dinilai cukup sukses, karena BCA Cabang Surabaya memperoleh hasil audit terbaik di seluruh Indonesia. Karena itu, Tung kemudian mendapat tugas untuk membereskan pula Cabang Kupang dan Malang.

Dari tangan dinginnya pula, pertumbuhan kartu ATM di Kota Malang terbesar se-Indonesia, yakni 204.000. Selain itu, tingkat mati mesin ATM-nya terendah se-Indonesia. Saat memimpin Cabang Utama Malang, tahun 1998, BCA diambil alih pemerintah. Di kala semua cabang kehabisan uang, cabang Malang justru kebanyakan uang. Deposito membanjir.

Apa sebenarnya kunci kesuksesan dirinya sehingga bisa membereskan bank yang sedang bermasalahan tersebut? Menurutnya, Kuncinya, manusia bergerak karena cari nikmat meninggalkan sengsara. Waktu dirinya menggerakkan manusia, peraturan tinggallah peraturan jika tidak disertai hukuman. Aturan tanpa punishment hanyalah imbauan. Tung dengan keras menjaga peraturan, termasuk melakukan denda jika suatu unit melakukan kesalahan. Denda ditanggung karyawan dan pimpinan unitnya.



Langkah Awal
Sebagai titik balik dari kegiatannya sebagai motivator dimulai pria kelahiran Solo, 22 Desember 1967 ini , ketika mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura, meski biayanya 10.000 dollar Amerika. Keinginan nekadnya ini diwujudkan walaupun untuk membayar, tanah miliknya yang berada di Malang harus dijual.

Modal nekadnya tidak sia-sia sebab suami dari Suryani Untoro ini berhasil menjadi salah satu murid terbaik Anthony Robbins dan terpilih sebagai Exclusive Indonesia Anthony Robbins Authorized Consultant. Ia juga menjadi murid Robert G. Allen, pakar marketing terkemuka dunia. Bahkan menjadi Exclusive Indonesia Robert T. Kiyosaki Authorized Consultant.

Untuk    mempraktekkan    ilmunya, Tung kali pertama menjadi pembicara tamu acara yang diselenggarakan Columbia Elektronik dan Furnitur di Gedung Koni Jakarta. Langkah awal ini memang kurang begitu sukses dikarenakan sound system seminar itu seadanya dan saat ia
naik pentas, AC ruangan tiba-tiba mati.

Dari situ, kemudian ditantangnya Columbia untuk menggelar seminar gratis di Balai Sarbini. Ajakannya mendapat sam­ butan, sekitar 4.300 orang hadir dalam seminar itu. Dampaknya, omzet pen­jualan Columbia mengalami kenaikan.

Sebagai motivator, Tung tidak hanya jadi pembicara publik, tapi juga juga melayani konsultasi pribadi. Kliennya ber­ variatif, dari anak petani sampai anak man­ tan presiden. Satu hal yang membedakan dirinya dengan motivator lain adalah menyentuh setiap orang dengan hati.

"I do everything untuk mengubah orang. Dalam terapi, kalau perlu, ia saya pukul,"katanya.

Meski sudah mencapai seperti seka­ rang ini, ayah dari tiga orang anak ini, lebih senang dipanggil sebagai Pelatih Sukses. Tung telah berbicara di hadapan lebih dari 100 ribu orang. Makanya tidak salah pada tahun dalam salah satu tokoh The Most Powerful People & Ideas in Business 2005 (versi Majalah SWA).

Lewat Email
Selain hadir langsung sebagai pem­ bicara di hadapan ratusan orang, pria yang sempat mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena buku karyanya yang berjudul Fi­ nancial Revolution pada hari pertama diluncurkan laku terjual sebanyak 10.511 eksemplar, juga sangat rajin mengirim­ kan tulisan­tulisan yang bisa memotivasi.

Melalui Tung Desem Waringin (TDW) Club, hampir seminggu sekali mengirim­ kan tulisan lewat email para anggotanya yang sebelumnya memang telah ter­ daftar sebagai anggota club. Penulis yang tergabung dalam club tersebut, mendap­ atkan kiriman tulisan yang isinya sangat memotivasi.

Biasanya, selain mengirimkan tulisan, diselipkan kata motivasi. Misalnya saja : Meski di pedalaman sekalipun, selalu ada peluang dan kesempatan yang bisa diambil hingga kita bisa kaya dan sukses. peluang dan kesempatan ada dimana- mana, sudahkah saya mengoptimalkan- ya?

Atau seperti ini kalimatnya : Orang miskin, menghabiskan uang yang dida- pat, kalau ada sisa baru ditabung. Orang KAYA, menabung dulu sisanya baru di- habiskan. Ayo ikuti pola orang KAYA!

Contoh kiriman tulisan yang dikirim ke penulis misalnya :
Bersama Saya Tung Desem Waringin disini, Jika anda mau membangun rumah maka sebagian orang akan memanggil arsitek dan arsitek itu bersama anda membuat rencana. Tetapi ketika orang yang sama memulai membangun kekayaan mereka atau merencana- kan masa depan, mereka tidak pernah mendesain rencana finansial untuk hidup mereka. Mereka tidak mempunyai garis besar rencana kerja untuk menjadi kaya. Bahkan banyak orang tidak mempunyai rencana, mereka hanya menjalani hidup saja dan hanya bermimpi sewaktu-waktu mereka akan menjadi kaya. Banyak juga orang yang menggunakan satu-satu- nya jurus andalan, yaitu merencanakan untuk bekerja keras dan mereka tidak pernah kaya. Karena apa yang mereka kerjakan sekeras apapun memang tidak memungkinkan mereka untuk menjadi kaya. Dan biasanya orang menyebut itu rencana menjadi kaya

Contoh, menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan, walaupun sekeras apapun mereka bekerja akan sulit sekali untuk menjadi kaya.

Ada juga orang yang mempunyai rencana yang lambat untuk menjadi kaya, rencana tersebut yaitu bekerja keras dan menabung. Dengan mengikuti rencana tersebut maka jutaan orang akan menghabiskan hidupnya dengan memandang keluar jendela dari kereta mereka yang lambat atau dari mobil mereka yang terjebak dari kemacetan lalu lintas menyaksikan limosin, helikopter, pesawat jet perusahaan, rumah-rumah mewah.

Dan yang paling menyedihkan ada juga orang yang mempunyai rencana untuk menjadi miskin. Begitu banyak orang mengucapkan kata-kata seperti ayah miskin Robert Kiyosaki "Ketika saya pensiun, maka penghasilan saya akan berkurang". Dengan kata lain mereka merencanakan untuk bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin.

"Saya membutuhkan kecepatan."
Kata Tom Cruise dalam Film TopGun. Ide bekerja seumur hidup, menabung, dan menaruh uang dalam rekening pensiun merupakan rencana yang sangat lambat. Rencana ini bagus dan masuk akal oleh 90% orang tetapi bukan rencana bagi orang yang ingin pensiun muda
dan pensiun kaya.

Berikut adalah beberapa ide tentang cara untuk membangun rencana yang lebih cepat:
1.Pilih strategi keluar anda terlebih dahulu. Kita harus mulai dari yang akhir, seperti yang dikatakan oleh Steven R. Covey dalam bukunya Seven Habits. Jadi kita harus menentukan dulu umur berapa kita ingin pensiun, berapa banyak uang yang kita miliki saat itu, atau berapa banyak pasif income kita pada waktu kita pensiun. Kemudian dalam logika saya sendiri maka kita harus;

2.Cari bidang apa yang kita suka atau mungkin kita akan suka yang bisa menghasilkan seperti yang kita tentukan sebelumnya. Apabila apa yang kita kerjakan sekarang tidak memungkinkan kita mencapai impian tersebut, Let It Go!

3.Kita cari orang yang sudah berhasil mencapai impian kita untuk diajak kerja sama atau belajar kepada orang tersebut.

4.Gunakan faktor kali atau leverage. Maksudnya kita bisa menggunakan RICE (Resources, Ide, Contact,Expertise) dari orang lain.

Sudahkah anda membuat rencana anda untuk menjadi kaya, dan seberapa cepatkah rencana anda?
Semoga bermanfaat. Salam Dahsyat!

Tung Desem Waringin
Apa yang dilakukan oleh Tung untuk berbagi ilmunya kepada masyarakat sebuah langkah yang memang ingin memotivasi agar kita bisa mencapai sukses. Memang sih, tulisan tersebut tidak terlalu besar pengaruhnya, sebab kesuksesan tergantung dari individu masing-masing.[]

Baca Selengkapnya ....

Fesyen & Kecantikan : Obama Tampil Beda dengan Busana Motif Bali

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 22 November 2011 0 komentar

Ini adalah warna dan motif yang 'sangat berani' yang pernah dikenakan Obama saat di Bali


Obama mengenakan kemeja motif Bali dalam The East Asia Summit Gala Dinner (Reuters / Larry Downing.)

Saat berada di Hawai untuk menghadiri KTT APEC beberapa waktu lalu, banyak yang menunggu-nunggu Barack Obama tampil dengan kemeja khas Hawai yang bermotif ramai. Sayangnya, ia tetap tampil formal dengan jas dan kemeja.
Namun, saat menghadiri KTT ASEAN ke-19 dan KTT Asia Timur di Bali, 17-19 November 2011, Presiden Amerika Serikat yang murah senyum itu mengenakan kemeja warna hijau tua dengan motif khas Bali. Bisa dibilang ini adalah warna dan motif yang 'sangat berani yang pernah dikenakan Obama.

Mengingat, dalam hal berpakaian ia cenderung berselera kasual dan konservatif. Tampilan suami Michelle ini, memang terlihat sangat berbeda. Bahkan, huffingtonpost.com, salah satu media terkemuka Amerika Serikat, mengungkap "Obama Wears Indonesian Tunic In Bali, Looks Awesome".

Berpose berdekatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengenakan busana warna merah, Obama tampak sangat senang dengan busana yang dikenakannya. Para delegasi dan pemimpin dunia yang menghadiri KTT ASEAN ke-19 juga tak kalah gagah dan memukau saat mengenakan busana motif Bali. (ren)

The East Asia Summit Gala Dinner
• Sumber : VIVAnews


Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI




Baca Selengkapnya ....

Fesyen & Kecantikan : Kondisi Ekonomi Tentukan Tren Sepatu

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

"Biasanya, ketika ekonomi tengah terpuruk, konsumen akan tetap memakai high heels."


Sepatu sudah menjadi penunjang gaya seseorang. Tapi, tahukah Anda tren sepatu ternyata dipengaruhi oleh keadaan ekonomi?

Coba lihat gambaran ini. Pada 1920-an, sepatu bertumit rendah adalah pembuka jalan bagi tren high heels selama terjadinya Great Depression, krisis ekonomi dunia sebelum Perang Dunia II.

Sandal mulai jarang digunakan di akhir tahun 60-an dan pada tahun 1970-an saat terjadi krisis minyak, sepatu platform kembali menghiasi majalah Vogue. Lain lagi dengan tahun 90-an, yaitu saat marak penggunaan internet. Sepatu bertumit rendah mulai tergantikan oleh high heels.

"Biasanya, ketika ekonomi tengah terpuruk, konsumen akan tetap memakai high heels. Konsumen beralih ke tren mode yang lebih flamboyan sebagai sarana berfantasi dan melarikan diri," ujar Trevor Davis, ahli konsumen produk dari International Business Machines' Global Business Services.

IBM melakukan penelitian terhadap posting di media sosial dan memprediksi bahwa ketenaran high heels akan segera digantikan oleh tren flat shoes.

"Kali ini sesuatu yang berbeda terjadi, mungkin karena penghematan jangka panjang yang membuat setiap konsumen memiliki keinginan untuk tidak tampil over dressed," ia menambahkan.

IBM menggunakan software khusus untuk memilah-milah posting di media sosial terkait tren sepatu. Responden yang dipilih mulai dari pemilik situs tentang sepatu, hingga blogger yang diakui oleh pecinta fashion.

Saat ini, toko-toko memang masih memajang high heels sebagai tren yang masih diminati. Selama 2008 hingga 2009, fashion blogger secara konsisten menulis high heels dengan tinggi tumit 12-20 cm. Namun mendekati akhir 2009 dan sesudahnya, wanita mulai jarang memakai high heels. Bahkan selama 2011, mereka ramai-ramai menuliskan tentang kembalinya kitten heel dan flat shoes dari Jimmy Choo dan Christian Louboutin.

Bukan berarti high heels akan menghilang. Sepatu tumit tinggi ini akan tetap ada untuk digunakan saat pergi ke pesta, tapi tidak lagi dikenakan saat beraktivitas di kantor atau hanya sekadar berbelanja.

Menurut IBM, penelitian ini juga menekankan bahwa kini bukan hanya produsen yang membentuk tren. Melainkan ada pengaruh dari fashion blogger yang bisa 'mencuci otak' wanita sehingga tercipta arus dalam berbusana.  (umi)
• VIVAnews



Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI




Baca Selengkapnya ....

Apa kata Artis/Model tentang IFA ..??

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Minggu, 13 November 2011 0 komentar

"Rok Pensil IFA Bikin Tubuhku Terlihat Lebih Ramping"

Renata Wandzicka (Polandia),.

Renata Wandzicka (Polandia)



Aku suka sama produk-produk IFA. Dan dari sedemikian banyak produk IFA yang dipasarkan, aku paling suka sama rok pensilnya. Aku suka sama rok itu karena bisa membuat tubuhku terlihat jauh lebih ramping. Selain itu, bahan dan potongannya juga pas dan nyaman di tubuh.
Saran untuk IFA agar tambah maju adalah kembang- kan terus segi marketingnya dan cari strategi marketing yang mutakhir.
Sukses terusuntuk IFA! []





Stevianne Agnecya,.

Fisik & Wajah adalah yang Utama

Usai beberapa sesi, kru pemotretan untuk Katalog IFA menyepakati satu hal
tentang cewek yang akrab disapa Stevi ini: wajahnya mirip Sandra Dewi!
Mendengar itu, dara kelahiran Jakarta 15 Agustus 1991 ini pun kontan
tersipu malu. Ingin tahu kepribadian Stevi lebih lengkap? Ifashion+ menghadirkannya untuk Anda.

Halo Stevi, ceria sekali hari ini.
Hehehe iya nih. Abis daripada dibawa bete nanti malah merusak mood dan
akhirnya hasil fotonya malah kelihatan enggak bagus. Gimana tadi acting lari-lari aku?
Cukup meyakinkan. Capek enggak?
Lumayan sih, tapi lucu aja. Aku senang bisa total dalam pemotretan. Enggak
apa-apa harus capek dikit yang penting hasil fotonya bagus.
Stevi udah lama ya jadi model?
Kurang lebih 5 tahun, dari aku masih SMP.
Wow, memulai karir sebagai model di usia yang sedemikian belia, susah enggak sih?
Lumayan sih, soalnya untuk masuk ke agensinya aja udah cukup banyak saingan. Tapi tergantung dari kitanya, punya kemauan atau enggak. Kalau modal bakat udah ada, ditambah kerja keras dan kemauan yang kuat, pasti ada jalan untuk jadi model profesional.
Menurut Stevi, apa aja modal utama bagi seseorang yang mau berkecimpung di dunia modeling?
Enggak memungkiri kalau tampilan sik adalah yang utama. Tinggi dan berat
badan yang proporsional, serta wajah yang menarik adalah poin plus yang utama. Selanjutnya tinggal seberapa kuat keinginan kita untuk bekerja keras. Dan jadi model itu enggak boleh bosenan. Bayangin tiap pemotretan atau fashion show kan rata-rata capek nunggu. Kalau dia fokus sama mood-nya, pasti kebawa bete dan kesel. Hasilnya malah jadi enggak bagus.
Banyak orang menduga kalau kehidupan para model itu glamor, suka party dan jarang kumpul sama keluarga. Apa benar seperti itu?
Jujur, aku sih enggak suka party kayak gitu, apalagi clubbing. Udah pusing,
capek. Jadi kegiatanku kalau lagi enggak kerja ya istirahat aja di rumah atau jalanjalan sama keluarga atau teman dan paling perginya ke mall aja.
Pernah enggak Stevi mengalami kejadian yang memalukan saat pemotretan atau tampil di fashion show?
Hahaha… aduh malu nih. Tapi iya sih pernah. Jadi waktu itu ada show dan aku kan jadi model untuk make up. Tahu kan bangku-bangku tinggi untuk make up di depan kaca? Kakiku aku injakkan besi landasan di bawah kursi itu supaya kakiku enggak pegal. Nah, pas mau turun, heels aku nyangkut di besi itu dan akhirnya aku jatuh. Aduh… udah sakit, malu juga lagi. Sebel deh!
Apa sih yang paling Stevi suka dari pekerjaan sebagai model?
Waktu yang dibutuhkan tidak full seharian seperti orang-orang kerja kantoran dan harinya juga enggak dari Senin sampai Sabtu. Selain itu, aku juga bisa banyak belajar terutama di bidang tata rias dan fesyen.
Kalau gaya busana dan dandanan Stevi itu seperti apa sih?
Kalau menurut opini dari teman-teman aku sih katanya aku sangat mempedulikan penampilan. Kata mereka aku juga mengikuti perkembangan fesyen. Dan berdandan emang udah jadi bagian dari diri aku, hehehe… Tapi itu semua tetap dalam kadar yang sesuai dengan umurku kok.
Ada tips khusus enggak yang bisa Stevi bagi ke pembaca Ifashion+ agar selalu tampil cantik dan segar ala model?
Kalau menurut aku, cantik itu bukan aja dari luar tapi dari dalam juga. Kalau
dari luar sih biasanya perawatan ke salon. Bisa luluran, creambath atau hair spa, dan menikur-pedikur. Kalo dari dalam biasanya dengan senyum aja pasti kecantikan kita akan terpancar. Menurut aku sih begitu. [] Ditta


Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI



Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Sukses Sejati, Selalu Berbagi dan Memberi

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Jumat, 11 November 2011 0 komentar

Kisah Sukses

Bagi Sukina, sukses adalah ketika dirinya sudah bisa membuat orang lain merasa sukses. Sebelum itu, maka keberhasilan yang diraih hanya akan menjadi milik priba­ dinya semata, dan itu bukanlah sukses sejati.

Demi meraih sukses sejati, Sukina selalu menebarkan "virus" kebajikan yang sekaligus menjadi motto hidupnya: lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. "Apa yang bisa saya bagikan ke orang lain akan saya bagikan, terutama ilmu," ucapnya bijak.

Prinsip untuk selalu berbagi dan memberi ini tak hanya berlaku di kehidupan sosialnya saja tapi juga ketika menggeluti bisnis IFA. Ina, begitu sapaan akrabnya, akan merasa senang manakala member yang ada di jaringannya bisa meraih nilai tambah melalui bisnis berjenjang ini. "Saya sangat senang ketika melihat tukang becak, pedagang es kelapa muda, tukang jamu yang menjadi member saya bisa menambah penghasilannya dari bisnis IFA ini, walaupun itu tidak besar," ungkap istri Suparno ini.

Masa Lalu Sukina
Sukina lahir di Grogol-sebuah kampung kecil di daerah Kediri—pada tahun 1976. Ia tumbuh dan dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang serba kekurangan. Ibunya hanya seorang pedagang kerupuk keliling dari kampung ke kampung lain dengan hasil yang tak menentu, sedangkan ayahnya adalah seorang buruh tani yang bekerja di sawah orang lain.

Meski hidup dalam belenggu kemiskinan, namun ayah Ina mendidik anak- anaknya supaya tidak gampang mengeluh terhadap keadaan yang ada, sesulit apapun itu. Dan satu hal yang selalu ia tekankan, jangan sampai merepotkan apalagi meminta-minta kepada orang lain.

Prinsip itulah yang selalu ia pegang teguh bersama ketujuh saudaranya yang lain. Namun setegar-tegarnya Ina kecil akhirnya menitikkan air mata juga. Saat lulus SD, Ina tak bisa melanjutkan sekolah karena terbentur biaya. Pada hal dia lulus dengan nilai yang mengesankan, masuk 5 besar sekecamatan.

"Saya nangis ketika melihat seragam biru-putih (SMP-red)," ceritanya mengenang. Namun apa dikata, Ina harus menerima kenyataan ini, bahwa sekolahnya cukup sampai SD saja.

Karena tak bisa meneruskan sekolah, Ina kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan agar bisa menyekolahkan adik-adiknya. Di usianya yang baru 12 tahun, Ina merantau ke Jakarta, berharap bisa mengubah nasib hidupnya.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta tahun 1988, Ina langsung bekerja sebagai pembatu rumahtangga dengan gaji 75 ribu per bulan. Pekerjaan ini ia lakoni selama tujuh bulan. Karena tak betah, dirinya kemudian memutuskan untuk meninggalkannya dan beralih profesi menjadi pengasuh bayi (baby sitter). Cukup lama Ina menjalani pekerjaan ini, kurang lebih 3,5 tahun. Tapi akhirnya pekerjaan ini dilepas juga.

Ina kemudian banting haluan menjadi pegawai catering di PT Mobil Oil selama 7 bulan. Lalu menjadi penjaga rumah kosong di daerah Pamulang sambil kursus menjahit. Setelah itu, Ina melamar kerja di PT. Swabuana Cipta di Jl. Terbang Layang Pondok Cabe menjadi pembuang benang (helper). Tiga tahun kemudian dirinya naik posisi menjadi asisten supervise.

Berlabuh di IFA
Sebelum di IFA, Ina sudah bergabung dengan salah satu MLM yang menawarkan produk tempat makanan, dari tahun 1997-2001. Tapi karena kecewa, ia akhirnya memutuskan keluar dari MLM tersebut.

Setahun kemudian, tepatnya Februari 2002, Ina diajak Muriati, teman kantor suaminya, untuk bergabung di IFA. Ina pun langsung mengangguk setuju.

Saat itu, meskipun dirinya sudah keluar dari MLM tersebut, tapi jaringan dia masih sering ke rumahnya. Di situ mereka melihat katalog IFA yang waktu itu masih terpisah-pisah: katalog baju sendiri, sepatu sendiri, dan produk anak-anak sendiri. Mereka ter- tarik dengan aneka produk yang tersaji di katalog IFA itu lalu memesannya.

"Nah, dari situ akhirnya mau enggak mau saya harus datang ke kantor IFA yang lama. Kantornya kecil, pengap, panas. Di situ ketemu Pak Saputra, Pak Hartono sedang presentasi. Saya tanya, bagaimana keuntungan jadi member IFA dan lain- lain. Saya pingin jadi depot tapi enggak punya uang. Saya kira stockist itu harus deposito. Terus Pak Tomo menyahuti, saya enggak perlu uangnya mbak Ina. Di sini peraturannya beda. Yang penting mbak Ina punya jaringan 100 orang dengan omzet satu bulan 25 juta. Dari situ saya langsung ngajuin jadi depot," tuturnya.

Tiga bulan kemudian, persayaratan- persyaratan tersebut mampu ia penuhi. Lalu berdirilah Depot Ina Bersaudara.

Setelah depot berdiri, Ina aktif bikin demo produk dari RT ke RT, bahkan ke luar kota. Setiap ada tetangganya yang pulang kampung, misalnya ke Cirebon, ia ikuti untuk bikin demo di sana. Karena tak tahu sistem dan belum menguasai soal produk, dia pun bercerita seputar apa yang dia rasakan dan hasilkan saja.

Ia juga giat bikin acara dari kelurahan ke kelurahan untuk menguatkan depotnya. Bahkan orang pertama kali yang bikin acara Gebyar IFA adalah Ina, sebelum akhirnya IFA pusat bikan nama dan acara serupa. Berkat keaktifannya itu, omzet depotnya pun melaju cepat dari 25jt ke 50jt.

Namun di saat pergerakan bisnisnya mulai berkembang, cobaan datang menghampiri. Tahun 2005, Ina sempat drop karena masalah keluarga. Akibatnya, urusan bisnisnya pun ikut berantakan.

"Itu saya merugi, bahkan sampai minus. Saya benar-benar terpuruk. Waktu drop saya sudah enggak punya modal apa-apa padahal permintaan banyak," ungkapnya sedih.

Persoalan kian pelik, membuat Ina tak lagi bisa berpikir. "Akhirnya saya ketemu Pak Inung, Trainer IFA dulu. Dia memotivasi saya sedikit demi sedikit, dia mengingatkan saya kembali pada impian. Nah, dari situ saya puter otak, meski enggak ada modal pokoknya saya harus tetap melayani jaringan," tekatnya.

Dalam keterpurukan itu, Ina berusaha bangkit. Selama dua tahun lamanya, dari 2005 hingga 2007, ia berjibagu menata kembali bisnisnya dari nol hingga akhirnya berangsung-angsur bisa pulih. Namun di balik ujian itu, Ina harus bersyukur. Sebab dari situ banyak pelajaran yang bisa ia petik, menjadikan dirinya kian matang dalam mengelola bisnis berjenjang ini. "Pengalaman yang lalu membuat saya lebih pintar lagi dalam mengembangkan jaringan, jangan sampai sandungan yang sama terjadi sama saya," ungkapnya.

Di saat Ina sedang giat-giatnya mengembangkan bisnisnya, cobaan kembali datang menghampiri. Tahun 2009, Ina terpaksa dibawa ke rumah sakit dan harus istirahat total selama 3 bulan karena penyakit yang dideritanya.

Meski demikian, bukan berarti bisnisnya berhenti total. Di tenggah sakitnya itu, Ina masih menggerakkan roda bisnisnya dari rumah sakit melalui laptopnya. "Sampai dokter sama suster itu geleng- geleng," tutur ibu dari Indra Setyawan (16), Noviya Arum Sekar Taji (13), dan Aditya Putra Kurnia (11) ini. Saat sakit ini, omsetnya anjlok, biasanya mencapai kisaran 150-200jt kini hanya 30jt.

Setelah melewati masa sakit, Ina kembali menata bisnisnya dengan semangat yang lebih menggebu-gebu. Berlahan namun pasti, omzetnya terus menananjak.

Menuai Hasil, Menabur Budi
Dari jerih payahnya selama ini, Ina akhirnya berhasil menelurkan 6 anak depot, yaitu: (1) Depot Prila Mentari Cirebon, (2) Depot Salatiga/Pak Widodo, (3) Depot Pitaloka Pekalongan, (4) Depot Hayati Cikupa, (5) Depot Yova Bersaudara Merauke, (6) Depot Debo Kren Ternate.

Juga 3 sub depot: (1) Damaris Iba Asiki, Papua, (2) Yulianti Timbang, Tanah Merah, Papua, (3) Fatmawati Korindo, Papua.
Berbagai komisi, challenge, dan bonus yang disediakan IFA pun telah berhasil ia raih: komisi motor (2005) atas namanya sendiri, komisi motor (2006) atas nama suaminya, komisi ibadah (2006), komisi wisata Hongkong (2007), challenge Singapura (2011), challenge Scoopy (2011), dan berbagai bonus lainnya yang bernilai jutaan rupiah tiap bulan.

Dari bonus-bonus tersebut, Ina bisa membangun rumah yang cukup mewah yang saat ini ia tempati, membeli tanah seluas 470 meter persegi di daerah Parung, dan membeli 2 kios di Bintaro, Tangerang Selatan. Satu kios ia sewakan, sementara satunya ia jadikan depot (Depot Ina Bersaudara), tepatnya di Jl. Raya Pondok Ranji (kios stasiun Pondok Ranji) No. 32A, Bintaro Tangerang Selatan.

Dari hasil bisnisnya itu pula, Ina bisa rutin mengirimi kedua orangtuanya dan mertuanya setiap bulan serta menyekolahkan anak angkatnya. Dan tak lupa ia selalu menyisihkan 2,5 persen dari total pendapatannya untuk diberikan kepada kaum dhuafa dan anak yatim piatu,

Ke depan, Ina bertekad untuk bisa meraih komisi mobil (KCM) dari IFA. "Apalagi saat ini ada banyak starterkit, otomatis banyak cara." Ditambah pula IFA kini banyak produknya, utamanya Cookware dan HHK untuk PAUD dan TK. "Itu yang akan saya geber," tandasnya.

  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI






Baca Selengkapnya ....

Fesyen & Kecantikan : Office Style Kasual Tapi Tetap Profesional

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Bagi mereka yang gandrung akan gaya, bumi adalah panggung catwalk terluas. Dimanapun berada, urusan penampilan tak boleh diabaikan, tak terkecuali ketika di tempat kerja.

Apalagi saat ini, busana kerja tak lagi terikat pada gaya konvensional yang cenderung kaku nan formal. Suasana bekerja belakangan ini cenderung lebih santai dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jam kerja yang lebih fleksibel,
pembagian kerja, sampai pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, membuat banyak karyawan cenderung menyukai gaya berpakaian kasual saat bekerja dibanding yang formal.
Memang belum ada studi khusus yang membuktikan bahwa dengan berpakaian lebih kasual, produktivitas kerja karyawan lebih meningkat. Tapi yang pasti, dengan keleluasaan ini karyawan menjadi lebih senang dan bahagia dalam bekerja. Karena itulah, sekarang yang diperlukan adalah panduan untuk menentukan kapan saatnya harus bergaya kasual dan kapan bergaya sedikit konvensional.
Konsultan Image Jill Bremer menyarankan beberapa hal, termasuk mempertanyakan diri Anda sendiri setiap hari tentang kegiatan apa yang akan dikerjakan hari ini. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Bremer menyarankan Anda hendaknya menganalisa aktivitas kerja apa yang akan Anda lakukan.
Namun harus Anda pahami bahwa saat akan bertemu dengan klien untuk pertama kalinya, busana kerja konvensional tetaplah menjadi busana yang terbaik. Begitu juga untuk kepentingan presentasi dan negosiasi. Busana kerja konvensional diyakini bisa mewakili citra perusahaan serta menciptakan image dan kepercayaan yang baik kepada klien.
Ingin tahu lebih rinci apa saja busana kasual yang layak untuk ke kantor agar penampilan Anda kian trendi dan modis? Berikut uraian Bremer, sebagaimana yang dinukil oleh Koran SI, yang perlu Anda ketahui:

Busana Kasual Dasar
Busana ini layak digunakan jika Anda tidak banyak berinteraksi dengan klien atau lebih banyak melakukan kegiatan yang informal, seperti pergi bersama klien untuk bersenang-senang atau bertemu klien di akhir pekan. Busana jenis ini akan menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang ramah dan bersahabat. Sesuai namanya, busana kasual dasar hanya terdiri atas kaus dan celana atau rok.  Jaket tidak termasuk dalam busana kategori ini.
Untuk busana kasual dasar pria sebagai berikut:
(1). Celana khaki, celana berbahan katun, corduroy, atau celana pendek
(jika sesuai dengan kondisi acara dan tempat), (2). Polo shirts, baju atau
sweater rajut, turtleneks, kaus tangan panjang, kaus polos atau
bergambar, vests, (3). Sepatu berhak rendah atau sedang, sepatu
sneakers yang bersih, atau sepatu pantofel.
Adapun busana kasual dasar untuk perempuan adalah:
(1).Rok sedengkul atau panjang berbahan denim, katun, atau corduro,
(2). Celana khaki, katun, corduroy, dan celana pendek (jika sesuai dengan acara dan tempat), (3). Blus, kaus katun, turtlenecks, vests, baju, dan sweater rajut, (4). Gaun kasual dan jumpers, (5). Sepatu berhak rendah atau sedang, sneakers yang bersih, dan sepatu tanpa hak.


Busana Kasual Standar
Busana kategori ini adalah jenis busana yang diterima oleh banyak bidang
perusahaan. Kunci dari penampilan ini adalah pakaian yang terdiri atas tiga
bagian yang mencerminkan kesopanan dan kekompetenan. Bagian ketiga dari
pakaian tersebut bisa terdiri atas beragam hal, mulai dari jaket yang berkelas, vest atau sweater, sampai dasi atau scarf.
Busana kasual standar untuk pria: (1). Khaki, corduroy, gabardine, anel
dengan jahitan yang lebih bagus dari celana basic, (2). Kaus berkerah,
(3). Jaket kasual, (4).
Sweater kardigan, (5). Vests rajut, (6). Dasi kasual, (7). Sepatu berhak rendah atau sedang.
Busana kasual standar untuk perempuan: (1). Celana dengan potongan
tegas berbahan katun, corduroy, wol, sutra, sampai micro ber,
(2). Rok panjang atau setengah panjang berbahan gabarline, linen, anel,
(3). Bagian atas (pelapis) bisa berupa blus, atasan berbahan rajut, kaus berkualitas tinggi, sweater rajut, jaket kasual bahan berkualitas dan polos, kardigan, jaket rajut, vests, scarf, (4). Gaun rajutan, jumpers, (5). Sepatu berhak rendah atau datar.

Busana Kasual Eksekutif
Ini adalah tingkat berbusana yang paling mendekati busana kerja konvensional. Busana di kategori ini haruslah yang berkualitas tinggi, dan tentu saja jaket tak diizinkan ada di sini. Yang pasti, gaya berbusana jenis ini menunjukkan profesionalisme dan orang yang dapat dipercaya.
Busana kasual eksekutif untuk pria: (1). Celana dari bahan wol, linen, dan campuran sutra, (2). Blazer, mantel dari wol, (3). Fine-gauge sweater yang dipakai bersama kaus di dalamnya, (4). Dasi, (5). Sepatu berhak tipis atau sedang.
Busana kasual eksekutif untuk perempuan:
(1). Pantsuits, (2). Blazer, (3). Rok panjang atau pendek, (4). Blus, atasan rajutan, fine-gauge sweater dengan bahan katun, linen, sutra, atau kashmir, (5). Sepatu berhak rendah atau sedang.

Santai ke Kantor dengan Jins
Busana berbahan dasar jins ternyata tak hanya cocok dikenakan untuk acaraacara santai, Anda juga bisa tampil chic dan bergaya dengan memakai celana jins ke kantor. Berikut tips yang bisa Anda contek, seperti dikutip dari instyle.com.

Padukan dengan blazer
Memadukan jins dengan blazer untuk pergi ke kantor bisa memberikan tampilan baru yang lebih bergaya. Meski terlihat klasik, blazer berwarna putih
atau hitam sangat cocok untuk Anda para wanita yang bekerja di dalam ruangan. Pilih celana jins yang bisa membuat lekuk tubuh terlihat ramping agar pas dipadu dengan blazer.

Mix and match dengan busana berpayet
Sedikit kilau bisa membuat penampilan terlihat glamor. Jika Anda termasuk
wanita yang berani dengan tampilan mewah, cobalah padukan jins dengan busana berpayet setengah penuh.
Cardigan Sweater atau cardigan yang dikenakan bersama dengan celana jins bisa menambah pesona retro. Sebelum mengenakan cardigan, gunakan tanktop sebagai pelapis dalam pakaian akan membuat penampilan lebih seksi.
Atasan berbahan sutra Blus sutra bisa membuat tampilan Anda terlihat lebih feminin jika dipadankan dengan celana jins yang menampilkan lekuk tubuh. Pilih model blus yang manis dengan kerah unik.

Padukan dengan jaket kulit

Jaket kulit yang dikenakan dengan celana jins penampilan lebih seksi. Untuk
menghilangkan kesan maskulin, kenakan sepatu bertumit tinggi dengan tas
tangan etnik.
Selain jins, Anda juga bisa tampil cantik dengan batik. Sementara jika pekerjaan Anda menuntut mobilitas tinggi, boleh saja memakai legging ke kantor. Padu padankan dengan atasan mini dress berbahan tweed atau wol.
Alhasil, ada begitu banyak pilihan berbusana kasual agar Anda tetap tampil
trendi dan modis di tempat kerja tanpa harus kehilangan citra profesional. Kalau demikian, masihkah Anda berpaku pada gaya konvensional yang cenderung monoton?
       

Sumber : (www.ifadahsyat.com )



Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI



Baca Selengkapnya ....

Fesyen & Kecantikan : Menenun Masa Depan Kain Tenun

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Tak hanya batik, kain tenun Indonesia juga punya keunikan dan keindahannya tersendiri. Bahkan kini, para desainer tengah berlomba-lomba mengibarkan kain tradisional yang satu ini di jagat fesyen Tanah Air maupun global.
Awalnya, kain tenun digunakan oleh beberapa suku etnis yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia untuk beragam kepentingan dan acara. Setiap suku memiliki material dan cara sendiri dalam mengolahnya.
Di beberapa suku, kain tenun dapat menandakan status sosial seseorang atau sebagai atribut resmi sebuah perhelatan besar. Contohnya kain Ulos bagi suku Batak di Sumatera Utara. Ia bukan sekedar selembar kain yang bisa digunakan dalam beragam kesempatan. Kain Ulos yang digunakan untuk hadiah perkawinan tentu saja berbeda dengan Ulos yang dipakai sebagai tanda duka cita. Namun, segala kerumitan mengenai tata cara dan aturan dalam mengenakan sehelai kain tenun bisa disederhanakan menjadi material yang secara umum mampu menggerakkan rasa nasionalisme bangsa seperti halnya yang terjadi pada kain batik.
Tenun merupakan kain tradisional Indonesia yang kaya ragam jenis, motif dan warnanya: ada songket, tenun ikat, tenun gringsing, tenun troso, ulos, kain tapis, tenun endek, dan sebagainya. Kain tenun tradisional biasanya menggunakan pewarnaan alami, meskipun ada beberapa jenis tenun (Timor dan Songket Bali) yang memakai pewarnaan kimia.
Cara pengerjaannya pun tak sama: ada yang dikerjakan secara manual (dengan tangan dan tenaga manusia), ada pula yang menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Aneka Olahan Tenun

Tampaknya, tren kain tenun tengah "mewabah" di kalangan para desainer maupun pecinta mode. Mereka mengekplorasinya dalam beragam rupa, menjadi produk baru yang sarat cita rasa fashion modern, berdaya pakai dan bernilai jual tinggi, tanpa meninggalkan garis-garis tradisi.
Lihat saja bagaimana panggung-panggung runway belakangan ini dipenuhi oleh sorot pesona dan keunikan tenun. Jakarta Fashion Week 2010/2011 misalnya yang dihelat di Pacific Place Mall Jakarta beberapa waktu lalu telah menetapkan tema etnik Indonesia dalam ragam tenun sebagai benang merah dari keseluruhan peragaan yang ada.
Bahkan, pekan fesyen terbesar di Indonesia tersebut membuat sesi khusus guna merefleksikan keberhasilan para desainer lokal dalam mengolah kain tradisional ini yang dibungkus dalam gelaran bertajuk "BNI: Cita Tenun Indonesia – Cita Swarna Bumi Sriwijaya". Sejumlah desainer papan atas terlihat di sana, seperti Chossy Latu, Denny Wirawan, Era Soekamto, Luwi Saluadji, Oka Diputra, Oscar Lawalata, Priyo Oktaviano, Sebastian Gunawan, Stephanus Hamy, dan Tayada.
Pagelaran ini diniatkan untuk mengangkat citra tenun Sumetra, mulai dari songket Palembang hingga tenun Blongsong yang bertransformasi menjadi rancangan terkini. Bahkan Seba–panggilan akrab desainer Sebastian Gunawan--memodifikasi kain tenun untuk koleksi "Bubble Girl"-nya yang ditujukan untuk usia anak-anak.
Atau intip saja koleksi olahan tenun Cual Corak Ingsang yang biasa digunakan oleh masyarakat Keraton Kalimantan Barat karya Adhyadma yang bergaya kosmopolis. Dalam perpaduan warna kuning keemasan, hitam, dan coklat. Adhyadma ingin memberikan kesan classy dan sophisticated dalam rancangannya.
Defrico Audy, yang terinspirasi oleh masyarakat suku Dayak, menggelar koleksinya bertajuk "Tribal Trouble" yang bahkan jauh lebih etnis lagi. Defrico sengaja menggunakan kain dan corak tenun untuk beragam variasi princess gown, long coat, dan two piece outfit serta memadukannya dengan material suede, beludru, shimmer, sutra sifon, dan silk organdy untuk kesan lebih modern.
Anda ingin melihat olahan tenun yang berjiwa muda? Tak perlu khawatir, sebab Lenny Agustin lewat lini Lennor menghadirkannya untuk Anda. Bertema 'Hullabaloo', beragam motif tenun dalam warna-warna cerah digunakan Lenny untuk mengesankan jiwa muda yang dinamis dan ceria. Berbagai kemeja, rok mini, blus, celana pendek, bahkan aksesoris seperti obi belt dan headpieces semua dirangkum Lenny dalam material ringan seperti katun dan sifon. Potongan asimetris juga banyak digunakan untuk mengimbangi kesan tradisional dari teknik lilit bungkus yang diterapkan dalam beberapa koleksinya.
Hadirnya pagelaran semacam ini diharapkan bisa menjembatani kepentingan antara desainer, buyer, serta konsumen. Para pengrajin tenun di seluruh nusantara pun akan memiliki peluang lebih besar lagi untuk memproduksi dan memasarkan karya mereka. Bila batik saja sudah bisa menapak jejak di kancah internasional dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya leluhur asli Indonesia, mengapa tenun tak bisa?
Cara Tepat Merawat Tenun
Jika Anda termasuk kolektor atau penyuka kain tenun, perlu memperhatikan cara yang benar dalam mencuci dan menyimpannya. Anda tentu tak mau jika kain tenun yang pengerjaannya memerlukan waktu 2 hingga 3 bulan berkurang keindahannya gara-gara perawatan yang kurang tepat.
Stephanus Hamy, desainer yang sudah berkutat dengan dunia tenun-menenun selama 8 tahun, memberi beberapa tips mudah dalam merawat kain tenun agar awet dan semakin bagus warnanya:
Jangan Gunakan Deterjen
Deterjen biasanya memiliki formula yang keras, apalagi terhadap kain-kain yang dibuat dengan tangan dan pewarnaan alami. Shampo bayi adalah pembersih yang tepat untuk tenun. Rendam kain tenun dalam larutan air yang sudah diberi 2 sendok makan shampo bayi, diamkan selama 15 menit, kemudian kucek dengan lembut dan perlahan.
Hindari Cahaya Terlalu Panas
Saat menjemur, hindari terkena cahaya matahari langsung. Sebaiknya menjemur saat matahari belum terlalu panas (antara 9-10 pagi), atau di bawah pohon rindang.
Hindari Penyetrikaan dengan Suhu Terlalu Panas
Suhu yang terlalu panas bisa merusak dan memudarkan warna kain. Saat menyetrika, pasang suhu yang tidak terlalu panas, atau lapisi dengan kain lain di atas tenun, baru disetrika.
Hindari Penggunaan Kapur Barus
Formula kapur barus yang terlalu keras bisa menyebabkan kain mudah rapuh. Hamy menyarankan, saat menyimpang di lemari, sebaiknya gunakan silica gel yang biasa dijual di toko bahan-bahan kimia.
"Atau jika terpaksa harus memakai kapur barus, letakkan agak berjauhan, jangan terlalu dekat, apalagi sampai kena kontak langsung," jelas Hamy seperti yang dikutip oelh vibizlife.com.
 "Semakin sering dicuci (jika dicuci dengan benar), warna tenun justru akan semakin eksotis," tambah Hamy.

Sumber : (www.ifadahsyat.com )



Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI


Baca Selengkapnya ....

KATALOG IFA FASHION EDISI 10 ( Nopember 2011 )

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 01 November 2011 1 komentar
Salam Dahsyat..

Katalog IFA Fashion Edisi 10 ( Nopember 2011 ) telah terbit.
Silahkan hubungi Upline/Sponsor anda atau Depot IFA terdekat untuk mendapatkannya.

Untuk download Katalog Cetaknya, klik DISINI  atau klik gambar dibawah ini :

http://www.ifadahsyat.com/img/catalogues/Cover-katalog%20Edisi10%20art2.jpg

Teruslah berbelanja produk-produk bermutu dari IFA, Rekrut Member Sebanyak-banyaknya, bimbing mereka agar bisa sukses seperti anda.

Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI


Baca Selengkapnya ....
IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".

Adele

Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info