Kisah Sukses : Sang Pendekar Pendidikan Menagih Janji Kemerdekaan

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Minggu, 04 Desember 2011 0 komentar




Anies, begitu sapaan akrabnya, memang bukan seorang yang kaya harta melainkan kaya pemikiran. Ia memiliki kepedulian dan perhatian yang kuat terhadap perbaikan nasib bangsa Indonesia melalui gerakan pendidikan baru yang ia beri nama INDONESIA MENGAJAR. Ia dihormati bukan hanya karena gagasan dan pemikirannya yang cemerlang melainkan juga karena pribadinya yang sederhana dan memiliki integritas tinggi, tidak memihak pada kekuatan politik tertentu.

Pertengahan Agustus lalu, dua kru intrepreneur (Muhammad Kodim dan Badru TA) berkesempatan hadir untuk mendengarkan orasi kebangsaan yang dibawakan oleh Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini dengan tema "Melunasi Janji Kemerdekaan". Acara dihelat dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-66 RI. Dalam orasi yang digelar di Aula Nurchilish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Anies mengatakan, setelah 66 tahun merdeka, sebagian janji kemerdekaan belum terwujud.

Bahkan, menurut Anies, janji kemerdekaan itu seakan hilang ditelan hiruk-pikuk perdebatan yang mengedepankan kepentingan jangka pendek kelompok tertentu saja. Anies menegaskan bahwa Indonesia adalah negeri masa depan, land of the future. "Kita mempunyai hampir seluruh persyaratan untuk sukses, tetapi kita juga punya potensi yang mengarah pada kegagalan," ucapnya lantang yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan para audien.

Dan tahun 2045, menurut Anies, seharusnya tahun pelunasan janji kemerdekaan pemerintah, seperti hilangnya kemiskinan, kesejateraan yang adil dan merata. "Insya Allah janji kemerdekaan terpenuhi ketika kita 100 tahun merdeka. Itu pun bila kita menemukan pemimpin otentik," tandas Anies.

Pemimpin otentik ini, lanjut Anies, diperlukan untuk memperjuangkan tiga hal utama, yaitu pembangunan, demokrasi, dan penegakan hukum. Untuk itu Indonesia memerlukan strong leadership dalam upaya mendorong tiga hal itu. Sebab, ketiga hal itu tidak bisa dijalankan secara auto pilot atau berjalan otomatis. "Sekarang ini strong leadership tidak ada di republik ini. Makanya diperlukan kehadiran pemimpin yang kuat, berani, dan mampu melakukan terobosan," tegasnya.

Pemimpin juga harus mendorong pembangunan secara serius. "Ini bukan intervensi, tapi karena memang tugasnya: mendorong yang macet-macet itu," ujar Anies. Pembangunan infrastruktur, misalnya, cenderung mandeg. Buat kebanyakan pengusaha, lemahnya infrastruktur tersebut mengancam ke langsungan dunia usaha. Jeruk lokal, misalnya, bisa kalah bersaing dengan jeruk impor hanya karena infrastuktur yang tidak kunjung membaik, atau malah justru memburuk dari tahun ke tahun.

Pembangunan saat ini belum mensejahterakan rakyat, buktinya ada sekitar 42% penduduk yang pendapatannya masih di bawah Rp 400 ribu per bulan. Sudah begitu, kalau mereka sakit, tidak ada sistem jaminan kesehatan buat mereka. "Di Indonesia, jangan sampai sakit, karena begitu sakit, Anda langsung turun di bawah garis kemiski- nan," kata Anies disambut tawa hadirin.

"Yakinkah Anda, setelah menemukan pemimpin otentik itu Indonesia bisa bangkit?" tanya wartawan saat jumpa pers usai orasi yang berjalan kurang lebih 2 jam itu. "Ya, yakinlah. Sebab, ada beberapa penelitian mengenai posisi ekonomi Indonesia di dunia. Pertama, Citibank Research Group menyebutkan, Indonesia akan menjadi salah satu negara penting dalam skala global dan dikelompokkan sebagai penggerak ekonomi global," jawabnya. Diperkirakan tahun 2030, lanjutnya, ekonomi Indonesia menjadi terbesar nomor 7 dan tahun 2050 naik posisinya ke nomor empat secara global.

"Intinya, saat 100 tahun Indonesia merdeka, kita akan menjadi high income country. Asian Development Bank (ADB) menyebutkan Indonesia akan menjadi salah satu mesin kebangkitan Asia, bersama Jepang, Korea Selatan, India, dan China. Negara-negara tersebut akan menguasai 80 persen ekonomi Asia," paparnya.

Jejak PerjalananAnies Baswedan
Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan, Jawa barat. Ia adalah anak pertama dari pasangan Drs. Rasyid Baswedan, SU (Dosen Fak Ekonomi Universitas Islam Indonesia) dan Prof. DR. Aliyah Rasyid, M.Pd. (Dosen Fak Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta). Ia menikah dengan Fery Farhati, S.Psi, M.Sc., perempuan pujaan hatinya. Anies adalah cucu dari AR Baswedan, pejuang nasional yang merupakan salah satu founding fathers Republik Indonesia serta yang pernah menjadi Menteri Penerangan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, tepatnya 1946.

Masa kecil Anies dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Sewaktu duduk di bangku SMAN 2 Yogyakarta, ia terpilih sebagai peserta dalam program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs yang diselengarakan oleh Bina Antarbudaya selama setahun di Milwaukee, Wiconsin, Amerika Serikat (1987-1988).

Lalu, semasa kuliah di UGM (1989- 1955), ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Anies pun terpilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM. Berkat kepandaiannya, ia mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang.

Usai lulus kuliah di UGM pada 1995, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi di UGM. Kemudian, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.

Di Amerika ia juga aktif di dunia akademik dengan menulis sejumlah artikel dan menjadi pembicara dalam berbagai konferensi. Ia banyak menulis artikel mengenai desentralisasi, demokrasi, dan politik Islam di Indonesia. Artikel jurnalnya yang berjudul "Political Islam: Present and Future Trajectory" dimuat di Asian Survey, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Universitas California, Artikel Indonesian Politics in 2007: The Presidency, Local Elections and The Future of Democracy diterbitkan oleh BIES, Australian National University.

Pada 2005, Anies menjadi peserta Gerald Maryanov Fellow di Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Il linois sehingga dapat menyelesaikan disertasinya tentang "Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia". Di tahun yang sama, Anies menjadi direktur riset pada The Indonesian Institute.

Anis pernah bekerja sebagai National Advisor bidang desentralisasi dan otonomi daerah di Partnership for Governance Reform, Jakarta (2006-2007). Selain itu pernah juga menjadi peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia (2005-2007).

Pada 15 Mei 2007, Anies dilantik menjadi rektor Universitas Paramadina. Anies menjadi rektor menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan dan intelektual Muslim, Nurcholish Madjid, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Saat itu ia baru berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia.

Tahun 2009, Anies terpilih menjadi Young Global Leader oleh The World Economic Forum yang berpusat di Davos, Swiss. Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.

Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf  Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Pada tahun 2010, Anies menerima Yashuhiro Nakasone Award dari Bekas PM Jepang, yang dianugerahkan langsung di Tokyo Jepang bulan Juli 2010.

Anies terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang. Dalam edisi khusus yang berjudul "20 Orang 20 Tahun" itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.

Pendidikan, Kunci Meraih Perubahan
Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies mendirikan gerakan pendidikan baru yang diberi nama INDONESIA MENGAJAR. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang ada di pelosok Indonesia.

Lewat program INDONESIA MENGAJAR, Anies mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan menggantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama.

Mengapa Anies memilih jalur pendidikan? "Pendidikan adalah kunci untuk meraih perubahan. Pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi. Pendidikan adalah resep untuk mendapatkan janji kemerdekaan. Karena itulah saya percaya kemajuan di Indonesia bisa kita raih jika keterdidikan sudah menjadi kewajaran," tegasnya. Prinsipnya adalah, bahwa SDA bukanlah kekayaan utama Indonesia. Kekayaan bangsa Indonesia adalah "manusia" Indonesia. "Jika kita manusia Indonesia terdidik, tercerdaskan dan tercerahkan maka kita akan sejahtera. Karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah memeberikan pendidikan berkualitas kepada setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali," tandasnya.

Tapi kenapa harus mengajar di pelosok negeri? "Pengalaman mengajar di pelosok Indonesia akan menjadi bagian dari memori seumur hidup. Pelosok Indonesia adalah negeri kita sendiri. Generasi kakek kita dulu miskin, tak ter- didik seperti yang sekarang di pelosok Indonesia. Kenapa kita sekarang menjauhi, takut ke pelosok?" sambungnya.

Karena itu, para pemimpin muda hendaknya tak canggung terjun ke desa desa di pelosok.

Muda yang dimaksud Anies di sini bukan dari segi umur, melainkan gagasan baru. "Bagi saya, orang muda adalah orang yang memikirkan masa depan, berapapun usia badan orang itu. Disebut tua jika seseorang lebih memikirkan masa lalu. Tentu kita belajar dari sejarah, tapi tujuannya tetap untuk memikirkan masa depan. Karena itu, jadilah orang muda. Ekspresikan gagasan baru Anda dengan baik, maka berapapun usia Anda itu bukanlah masalah," tandasnya.

Untuk mengembangkan kreatifitas dan ide-ide baru yang segar, menurut Anies, kita harus berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan. Berhenti mencoba adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Kemauan mencoba dan terus melakukan perbaikan adalah kunci utama untuk maju dan berkreasi. Gebrakan yang harus dilakukan adalah "stop cursing darkness, let's light candles". Lakukan perubahan dan kontribusi sekecil apapun sesuai kemampuan.

Sumber : www.ifadahsyat.com

Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Bocah Lulusan SD Itu Kini Jadi Bos

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Bocah Lulusan SD Itu Kini Jadi Bos

Wibowo, pemuda asal kampung yang hanya lulusan SD ini tak pernah mau me­nyerah dengan keadaan. Demi memperbaiki nasib hidup, ia merantau ke Jakar­ ta meski awalnya harus bekerja sebagai kuli bangunan dan tukang ojek, lalu mulai merintis usaha cuci mobil. Usahanya ini terus berkembang, dan dari situlah titik balik kehidupannya dimulai. Kini, ia menjadi bos PT. Master Snow Indonesia yang memiliki ratusan karyawan.

Wibowo hidup dan tumbuh di tengah keluarga yang ekonominya serba pas-pasan. Bapak dan ibunya adalah seorang petani biasa yang menggantungkan hidupnya dari hasil sawah yang mereka kelola, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah orang lain untuk menambah
penghasilannya yang tak seberapa itu.

Keterbatasan ekonomi keluarganya ini membuat Wibowo tak memiliki banyak kesempatan untuk bermain apalagi menikmati indahnya masa kecil layaknya anak-anak yang lainnya. Sejak kecil, ia sudah harus bergelut dengan berbagai pekerjaan untuk sekedar mendapatkan uang jajan.

Sedari kelas dua SD, lelaki yang akrab disapa Bowo ini sudah mulai berpikir untuk mencari uang. Karena siang masuk sekolah, maka pagi harinya ia gunakan untuk mencari daun pisang dan daun jati untuk dijual sebagai bungkus makanan kepada orang sekampungnya. "Sambil sekolah saya sudah tahu kalau dapat uang itu enak. Sehingga dari situ sudah kebentuk, senang kalau dapat uang," ungkap lelaki kelahiran Grobogan, 05 Mei 1981 ini mengenang masa kecilnya.

Setelah lulus SD, Bowo tak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya kerena tak ada biaya. Sedih memang. Tapi apa daya kondisi memang tak memungkinkan.

Bowo berusaha menerima kenyataan itu dengan tegar. "Daripada sedih karena tidak bisa meneruskan sekolah, mending saya buat kerja saja," tuturnya menghibur diri.

Ia kemudian bekerja di sebuah pabrik genteng di daerahnya dengan gaji 1500 rupiah per hari. Setahun bekerja sebagai kuli genteng dengan gaji harian membuat Bowo tak puas. Ia kemudian memutuskan untuk membuat sistem borongan dalam pengerjaan genteng tersebut.

Merantau ke Jakarta
Kala itu, banyak teman-teman sekampungnya yang sudah bekerja di Jakarta sebagai kuli bangunan. Dari situ dirinya sering dapat cerita bahwa di Jakarta itu gampang cari duit. Bowo pun langsung kepincut.

Akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pemborong genteng dan berangkat ke Jakarta sambil membawa mimpinya.

Pertama kali menjejakkan kaki di Ibu Kota tahun 1996, Bowo langsung bekerja
sebagai kuli bangunan bersama teman-teman sekampungnya. Gaji yang diterimanya waktu itu hanya 5000 rupiah per hari.

Waktu menjadi kuli bangunan, Bowo tak menetap di satu tempat. Ia sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat bangunan. Setelah kurang lebih 2 tahun melakoni pekerja ini, Bowo akhirnya jenuh juga. "Saya jenuh karena sering dimarahi mandor, kerjanya panas, berat. Akhirnya saya kepingin kerja lain," keluhnya.

Ketepatan saat itu ada beberapa temannya yang bekerja sebagai tukang ojek juga. Melihat cara kerja tukang ojek yang bebas, tidak disuruh-suruh dan tidak terikat oleh waktu membuat Bowo tergoda. Ia akhirnya memutuskan untuk meloncat dari kuli bangunan menjadi tukang ojek, tepatnya pada tahun 1998.

Keputusan ini boleh dibilang nekat. Sebab kala itu Bowo tak punya motor sendiri. Terpaksa ia harus sewa ke orang lain untuk menjalankan profesi barunya ini. Ongkos sewa motor per harinya 6000 rupiah.

Ternyata, keputusannya itu tak salah. Hasil yang didapat dari ngojek ini lebih besar dibanding saat masih jadi kuli bangunan. Dalam sehari, Bowo bisa mendapatkan rata-rata 30 ribu rupiah. Dari penghasilan tersebut, 6000-nya ia gunakan untuk membayar biaya sewa motor, empat ribunya buat beli bensin, dan 20 ribunya masuk ke kantongnya sendiri. "Wah itu senang, karena di bangunan hanya dibayar 5000," ungkapnya senang.

Bowo kian bersemangat. Harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar terus merekah. Tiga tahun lamanya ia di jalanan menjadi tukang ojek hingga akhirnya memiliki motor sendiri.

Di sela-sela perjuangannya memperbaiki nasib, terselip pula cerita tentang bagaimana kerasnya kehidupan menjadi tukang ojek. Apalagi umur Bowo waktu itu masih belasan tahun. Darah muda yang mengalir di dalam tubuhnya pun kerap mendorong dia harus berkelahi.

Menginjak usia kedua puluh, tepat- nya tahun 2001, Bowo memutuskan un- tuk menikah dengan perempuan pujaan hatinya, Marfungah namanya. Karena tanggungannya semakin besar, sambil ngojek, Bowo pun jualan HP. Pokoknya segala pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan waktu itu ia kerjakan.

Karena sehari-harinya mangkal di depan apartemen Metro Sunter, pelanggan ojeknya pun kebanyakan dari penghuni apartemen tersebut. "Waktu itu saya bantu beberapa orang apartemen, mereka sering suruh saya beli apa gitu, terus juga mencucikan mobilnya. Pokoknya waktu itu saya nggak peduli kerja apa, yang penting dapat duit," tegasnya.



Dari situ Bowo berpikir, mungkin penghuni apartemen banyak yang membutuhkan jasa cuci mobil. Lantas dirinya menemui pihak manajemen apartemen Metro Sunter, bermaksud menyewa space parkir untuk digunakan sebagai tempat cuci mobil. Pihak manajemen pun tak keberatan.

Memulai Usaha Cuci Mobil
Awal 2002, Bowo menjual motor yang sehari-harinya ia buat ngojek itu untuk sewa tempat cuci mobil di parkiran apartemen Metro Sunter. Ia menyewa 2 lot parkir dengan biaya sewa sebulan 150 ribu rupiah. "Kemudian saya belanja listrik karena di baseman itu gelap, enggak ada penerangan. Waktu itu saya habis 10 jutaan. Modalnya dari jual motor dan hasil ngojek selama ini."

Usaha ini ternyata mendatangkan hasil yang lumayan. Sehari dia bisa mendapatkan 100-150 ribu, dengan tarif sekali cuci 10 ribu rupiah. Pekerjaan ini ia kerjakan sendirian.

Sejalan dengan waktu, bisnisnya pun kian ramai. Karena kuwalahan, Bowo akhirnya mencari anak buah. Namun Bowo yang senang menjajal segala pekerjaan itu tiba-tiba ingin bekerja di kantoran. Alasannya, ingin cari pengalaman.

Ia kemudian melamar pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik dan diterima di bagian penjualan. Sementara bisnis car wash (cuci mobil)-nya dijalankan oleh 2 anak buahnya. Tapi dirinya tak bertahan lama sebagai pekerja kantoran, hanya setahun saja. "Saya kemudian memutuskan keluar dari situ karena gitu-gitu saja. Lalu saya balik lagi ke cuci mobil."

Meski demikian, hasrat petualangan bisnisnya tak juga jinak. Berikutnya Bowo membuka counter yang menyediakan voucher. Namun ini juga tak berumur panjang.

Setelah menjajal aneka usaha, Bowo baru sadar, "Ternyata cucian mobil ini jasa yang paling jelas. Artinya kita dapat 100rb sehari, kita bayar orang berapa, selebihnya masuk kantong. Kita kan enggak beli bahan lagi karena bahannya tenaga," tuturnya. Sejak itu, Bowo kemudian memantapkan hatinya untuk menyeriusi dan menekuni bisnis cuci mobil.

Mulailah dia masuk ke apartemen- apartemen di Jakarta untuk melebarkan sayap bisnisnya hingga berhasil membuka 5 cabang bisnis cuci mobil, kesemuanya bertempat di apartemen. Namun Bowo merasa pergerakan bisnisnya kurang cepat. Kenapa? "Karena yang nyuci itu hanya penghuni apartemen saja jadi kita enggak bisa besarin market," ungkap ayah dari Agung Saputra dan Andy Wijaya ini.

Tahun 2006, Bowo kemudian mencoba membuka usaha cuci mobil di pinggir jalan, tepatnya di Jl. Puri Kembangan, Jakarta Barat. Ternyata omzetnya bagus.

Meski demikian, Bowo masih saja belum puas, padahal ia sudah punya banyak cabang. "Pokoknya kurang. Saya sering bengong, mau ngapain lagi?" batinnya.

Lalu Bowo keliling Jakarta, dari bengkel satu ke bengkel lainnya, menjajakan shampo mobil sambil membawa tabung snow wash yang ia beli dari salah satu perusahaan. Banyak pengalaman yang ia peroleh selama satu tahun muter-muter Jakarta itu sembari tetap mengelola bisnis cuci mobilnya. Ia melihat ternyata peluang tabung snow wash sangat bagus. Dalam seminggu, ia bisa menjual satu tabung.

Dari situ Bowo kemudian berpikir dirinya harus membuat snow wash sendiri: tabung dan shamponya. Lalu, mulailah ia memproduksinya.

Dari mana Bowo mendapatkan ilmu membuat shampo dan tabung snow wash itu? "Kalau shampo itu kita tahu dari buku-buku, terus juga dari hasil komunikasi kita sama toko chemical. Untuk tabung snow wash awalnya kita beli tapi kita modifikasi sendiri," paparnya. Namun setelah itu ia memberanikan diri untuk membuat tabung snow wash sendiri.

Awalnya hanya memproduksi 5 biji tabung sama shamponya, kemudian ia jajakan keliling Jakarta. Namun Bowo akhirnya berpikiran, jika produk-produk tersebut dijajakan dengan model keliling maka akan menghabiskan waktunya. "Akhirnya shampo dan tangki itu saya bawa ke pasar Glodok, ke pasar peralatan teknik. Pertama saya titipkan saja. Beberapa hari berikutnya kok ada yang pesan. Semakin hari kok semakin banyak yang pesan, sehingga saya lebih giat memproduksi," ceritanya.

Membaca Peluang dari Atas Pesawat
Tak cukup sampai di situ, Bowo kemudian bikin paket-paket peralatan cuci mobil yang ia pasarkan melalui internet. "Jadi tahun 2008 itu saya sudah mulai pasang iklan di website. Nah, suatu saat ada yang beli dari luar Jakarta, yaitu Jambi. Kemudian saya ke sana naik pesawat. Nah, pas di dalam pesawat itu ketika melihat ke bawah kan kelihatan semua, kemudian saya berpikir, 'Waduh, betapa luasnya Indonesia ini. Kalau saya sebarin tabung snow wash pasti banyak ini," pikirnya kala itu.


Pulang dari Jambi, semangat Bowo kian menjadi-jadi. Produksi ia perbanyak karena ia yakin produk-produknya itu bakal laku. Setelah itu dirinya sering jualan ke luar kota sembari membaca peluang dari atas pesawat.

Dari situ ia kemudian membentuk beberapa agen di luar kota, antara lain di Makassar, Samarinda, Manado, dan Sumatera. Permintaan pun kian banyak. "Selain itu kita juga melayani perusahaan-perusahaan otomotif yang sudah gede-gede itu."

Kini, perusahaan Bowo (PT. Master Snow Indonesia) mampu memproduksi dan menjual tabung snow wash dalam sebulan sekitar 200-250 tabung. Sementara untuk shamponya berkisar 500-700 galon. Satu galon berisi 20 liter. Bahkan peralatan-peralatan tersebut sudah mampu ia ekspor ke Afrika dan India.

Laju bisnis penjualan peralatan cuci mobil ini kian pesat. Memasuki tahun 2009, Bowo mulai membuat outlet-outlet yang tersebar di Jakarta untuk prototipe peralatannya. Bersamaan dengan itu, perkembangan bisnis cuci mobilnya sendiri juga kian gemilang. Dua-duanya mampu ia gerakkan secara cepat. Bahkan kini, ada 5 cabang bisnis cuci mobil miliknya di Jakarta. Pusatnya di Jl. Garuda No. 86A Kemayoran, Jakarta Pusat yang sekaligus menjadi kantornya.

Untuk bisnis cuci mobil ini, Bowo menawarkan dua konsep: robotic dan hydraulic. Robotic adalah konsep cuci cepat, hanya 3 menit saja. Ini cocok bagi mereka yang super sibuk sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu. Sementara hydraulic adalah konsep cuci detail, menjangkau bagian bawah dan sela-sela mobil.

Dari situ, Bowo bisa memberi pekerjaan bagi banyak orang. Saat ini ia memiliki sekitar seratus lebih karyawan, mereka rata-rata dari kelas menengah ke bawah atau yang putus sekolah.

Karena menyadari bahwa mayoritas karyawannya minim pendidikan, Bowo pun aktif bikin training untuk memberi bekal skill dan pengetahuan bagi SDMnya. Jadi sebelum kerja, mereka ditraining dulu.

Semua ini ia lakukan karena panggilan moral, mengingat dirinya sendiri hanyalah seorang lulusan SD yang tak memiliki banyak ilmu dan skill kerja. "Jadi saya berpikir, saya mau kasih bekal untuk anak-anak ini dan memberi mereka semangat. Walaupun kerja cuci mobil tapi dia akan bangga dengan profesinya. Jadi cuci mobil ini bukan pekerjaan yang terbuang, tapi profesi," tandasnya.

Sumber : www.ifadahsyat.com

Baca Selengkapnya ....

WIBOWO Pelopor Snow Wash Indonesia

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Apapun pekerjaannya, asalkan halal, ia lakoni.Tak peduli itu kerja kasaran atau rendahan, yang penting menghasilkan uang. Kuncinya, berani bencoba. Soal gagal itu belakangan.

Menurutnya, untuk menjadi seorang entrepreneur, kita harus berani mengambil risiko. Jangan takut dan jangan sibuk untuk selalu bikin hitung-hitungan, karena itu hanya akan menciutkan nyali kita. Jalani saja. Sebab tak ada yang bisa menakar nantinya kita akan mendapatkan hasil berapa. Prinsipnya, kalau kita bekerja tak mungkin tak mendapatkan sesuatu.

Dari kemauan tingginya itulah, lelaki yang akrab disapa Bowo ini kini menjadi penguasaha sukses dan tercatat sebagai pelopor snow wash produksi Indonesia. Ingin tahu kisahnya lebih lanjut? Simak petikan wawancara intrepreneur bersama si raja cuci mobil ini pada pertengahan Agustus lalu.

Bisa diceritakan, Mas Bowo dulunya dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga seperti apa?
(Bowo tak langsung menjawab. Ia menarik nafas sejenak, matanya menatap langit-langit ruangan kerjanya, lalu memaksakan senyum). Wah, aku ora tegel Mas cerito masa kecilku (Saya enggak sanggup cerita masa kecilku, Mas). Yang jelas keluargaku kaya, kaya hati hehe...

Nilai-nilai apa saja yang diajarkan oleh orangtua kepada Mas Bowo waktu itu?

Karena orangtua saya itu orang Jawa ya, jadi filosofinya pun sangat Jawa. Mereka selalu memberi pesan-pesan tentang kejujuran, saya harus jujur sama siapa saja. Kemudian kalau kerja itu jangan ngoyo-ngoyo (ngotot). Itu saja.

Tapi ternyata anaknya ngoyo banget ya.
Wah, luar biasa hahaha... Jadi memang saya sudah kebentuk dari kelas 2 SD, kalau dapat uang itu senang. Saya enggak mikir ijazah saya apa, yang penting saya mau kerja. Mau kerja apa saja yang penting dapat hasil, uang. Saya tidak peduli pendidikan saya yang rendah, yang penting saya mau terus berusaha dan mencari celah untuk bisa dimanfaatkan. Dari situ saya akhirnya bisa konsep. Yang namanya manajemen, administrasi itu enggak susah, semua orang bisa melakukan, enggak harus sarjana, enggak harus sekolah tinggi, saya SD pun bisa bermanajemen, bisa bikin SOP.

Dalam bisnis car wash ini, Mas Bowo menggunakan konsep robotic dan hydraulic. Bisa dijelaskan secara singkat mengenai keduanya ini?
Kenapa saya pakai robotic? Karena banyak orang kan menyebutnya automatic car wash, imagnya dari luar. Kedua, saya pakai robotic karena produksi dalam negeri, produksi anak bangsa. Dan kerjanya lebih simpel. Dari segi listrik kecil, dari segi lahan pun kecil hanya 4x6 kita sudah bisa mendirikan robotic car wash sekelas automatic car wash. Jadi di situ konsepnya adalah cuci cepat. Proses cucinya hanya 3 menit. Jadi bagi orang yang enggak punya banyak waktu dan ingin mobilnya bersih, ya, cuci robotic.
Sedangkan hydraulic, mungkin alat yang sudah cukup dikenal orang. Hydraulic ini artinya mengangkat mobil. Dia bisa mencuci bagian bawah mobil, sela-sela mobil, bersih sampai bawah-bawahnya. Untuk cuci ini waktu yang dibutuhkan antara 30-50 menit. Dan semua peralatan yang kami gunakan itu produksi dalam negeri. Jadi pelopor snow wash produksi Indonesia itu saya.

Selama ini lebih laris mana, robotic atau hydraulic?
Untuk di tengah-tengah kota itu banyak yang memilih cuci robotic. Bandingannya 70:30. Dengan asumsi orang mencuci dalam sebulan itu kan 4 kali. Jadi 3 kali itu pakai robotic, yang 1 itu pakai hydraulic.

Dengar-dengar Mas Bowo aktif sekali membagi pengalamannya kepada karyawan di sini?
Iya, karena SDM di car wash ini kan banyak yang putus sekolah, banyak yang enggak punya bekal, jadi kita selalu bikin training.

Model trainingnya seperti apa?
Ada training praktik langsung lapangan, training motivasi, training class. Mereka kita tanyai, mau jadi apa? Lalu kita arahkan supaya mereka punya bekal nantinya. Meskipun nanti dia keluar dari sini, tapi setidaknya mereka sudah punya bekal. Kita ingin mencetak anak- anak seperti itu, supaya layak kerja juga. Mungkin bisa jadi supervisor atau jadi entrepreneur. Siapa tahu mereka setelah keluar bisa bikin usaha sendiri. Jadi cita- cita saya adalah itu. Dengan pengalaman pribadi saya, kalau orang enggak ada bekal, enggak ada yang bekali, saya rasa orang enggak akan tahu. Nah, dengan dia punya bekal, saya rasa anak-anak ini akan tahu: oh, saya kerja harus fokus.

Dengan bisnis yang sudah maju dan pendapatan melimpah seperti saat ini, kira-kira masih ada impian Mas Bowo yang belum terwujud enggak?
Pertama, karena di car wash ini kan banyak menggunakan produk dalam negeri, maka tentunya saya ingin membangun di negeri kita sendiri. Karena saya lihat banyak sekali anak-anak Indonesia atau putra-putra bangsa ini yang sebenarnya pintar, tapi mereka memilih kerja di luar negeri. Saya ingin membuktikan bahwa di Indonesia ini banyak peluang usaha atau kerja, walaupun kita dari segi cuci mobil.

Kedua, kita mau menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Sehingga kita bisa membantu yang dari nol, yang dari daerah, yang putus sekolah, yang enggak punya kerjaan. Kita mau mengangkat anak-anak bangsa sendiri agar bisa kerja, bahkan bisa jadi entrepreneur lebih baik dari saya.

Ketiga, saya ingin car wash ini diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. Artinya car wash yang ramah lingkungan, nyaman. Makanya kita bikin green concept. Warnanya hijau, bahan-bahannya juga ramah lingkungan. Sehingga orang yang datang ke tempat kita merasa nyaman, bersih, dan tanpa merusak lingkungan.

Keempat, kita bisa menjalin mitra dengan orang yang mau investasi car wash. Kita bisa sediakan lahannya, kita bisa sediakan konsepnya, kita bisa sediakan peralatannya. Dan sekarang ini sudah dimulai.

Kelima, berharap pada pihak-pihak pengembang properti, mudah-mudahan kita bisa diterima. Jadi di dalam suatu komplek/perumahan nantinya akan ada fasilitas car wash-nya supaya penghuninya enggak usah keluar untuk cuci mobilnya.

Menurut Mas Bowo, untuk menjadi seorang entrepreneur itu apa yang harus dilakukan?
Ini dari pengalaman saya pribadi. Jadi entrepreneur itu kalau memang dibutuhkan konsep yang jelas itu lebih bagus. Tetapi kita enggak usah minder dengan keterbatasan kita. Yang penting, menurut saya, kita harus punya kemauan tinggi, lalu ditopang skill, fokus, pahami kerjaan ini sampai tingkat tertinggi, dan jaga kepercayaan. Dan yang penting, kalau sudah ada kemauan tinggi kita harus mau kerja, jangan hanya punya kemauan tapi enggak mau kerja. Nah, itu saya kira sudah modal yang cukup kuat untuk jadi entrepreneur.

Banyak orang yang mungkin ingin jadi entrepreneur sukses seperti Mas Bowo, tapi mereka masih takut untuk memulai karena takut akan mengalami kegagalan. Motivasi seperti apa yang bisa Mas Bowo berikan kepada mereka?
Menurut saya, keberanian itu harus ada. Prinsipnya, enggak mungkinlah kalau kita kerja enggak mendapatkan sesuatu. Kebanyakan orang kan hitung- hitungan, sehingga dia kebayang yang ada di depan. Karena kalau sudah jadi pengusaha atau entrepreneur itu enggak ada yang bisa nakar sebulan saya mau dapat berapa. Dari perjalanan saya, asal kita tulus, ikhlas, pasti ada saja jalan untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya bisnis car wash ini. Bisnis car wash ini kan biasanya orang suka ngitung: sehari 8 jam, nanti mobil masuk 6, sedangkan modalnya sekian, kalau dihitung lebihnya cuma sedikit. Tapi bukan begitu rumusnya. Dalam perjalanan, yang dihitung ini meleset. Tahu-tahu ramai, datang orang nyuci, beli poles, beli sesuatu yang nilainya beda sekali dengan yang dihitungkan. Prinsipnya, kita harus beranikan diri, lalu fokus. Enggak mungkinlah kita kerja lalu enggak dapat hasil, pasti dapat, karena masih ada Yang Di Atas.

Mungkin orang sudah sadar tentang itu, tapi menghilangkan ketakutan akan resiko kegagalan itu sepertinya tidak mudah.
Mungkin gini, umumnya orang yang sudah bekerja (di kantoran) itu dia sudah merasa nyaman di posisi sekarang, sehingga dia tidak mau menginjak yang berisiko. Menurut saya, kerja itu harus berani risiko. Apapun yang terjadi, hadapi. Masalah apapun, pasti selesai. Kalau pengalaman saya pribadi, saya berani saja. Yang memperkuat adalah kemauan tinggi saya. Orang lain bisa kenapa saya tidak bisa. Sebenarnya orang itu sama, sama-sama makan nasi. Jadi risiko itu belakangan. Apalagi bagi kita yang masih muda, ibaratnya kita gagal setahun, tahun depan kita masih bisa coba yang lain. Enggak usah takut. Semuanya kan harus dicoba, harus berani.

Ada kepikiran enggak untuk membuka usaha baru di luar cuci mobil ini?
Sementara ini enggak ada, karena saya senang di bidang ini. Senangnya kita bisa kerja sama-sama. Kedua, karena usaha ini profit. Ketiga, kita bisa mempelopori usaha di dalam negeri.

Malah sekarang saya sudah arahnya ke konsultan bisnis car wash, dan kita juga bangun kemitraan-kemitaan investasi seperti yang saya katakan tadi, untuk memudahkan orang menginvestasi cuci mobil dari segi peralatan dan finance. Kita sudah kontrak dengan salah satu perusahaan finance. Jadi kalau mau usaha peralatannya bisa dicicil.

Mungkin ada pesan dari Mas Bowo?
Jangan berpikir spirit kita ini kita bawa ke luar negeri. Di Indonesia ini sangat bagus, peluangnya banyak. Jadi jangan pernah berpikir kerja di luar negeri dan berpikir di Indonesia ini enggak bagus.
[


Baca Selengkapnya ....

Bong Chandra : Tuhan Tidak Membenci Orang Malas, Tapi .....

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 1 komentar

Rasa minder atau pun malu awalnya menghidap jiwanya. Namun motivasi bagaimana bertahan hidup justru lebih besar. Menjual sisa potongan kue di pabrik ayah-nya ke sekolah, contohnya. Perasaan begitu minder akan hal tersebut, ditambah lagi dengan penyakit asma sehingga membuat tubuhnya rentan dan tak jarang dicemooh oleh teman-temannya.


Siapa yang tidak kenal dengan Bong Chandra? Telah mereguk kesuksesan padahal usianya masih tergolong muda, wajah tampan, low profile memiliki investasi yang cukup besar alias miliader. Sebutan The Asia Youngest Motivator tak salah bila disandangnya. Pria yang satu ini muncul setiap senin pagi di sebuah stasiun tv swasta nasional.

Rasanya terdecak kagum bila membaca kisah hidupnya yang penuh berliku. Rasa duka, suka bercampur menjadi satu menghiasi dinding kehidupannya. Tidak ada salahnya bila kita bisa mengikuti cara, tips, langkah yang dilakukan Bong Chandra meraih sukses.

Majalah ini coba merangkumnya menjadi sebuah tulisan untuk disajikan ke tengah pembaca.

Siapa sangka lelaki berkacamata ini sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang, pernah mengalami yang namanya kegetiran hidup. Itu dialaminya pada tahun 1998 dimana ketika itu sedang terjadi krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Keluarganya mengalami kebangkrutan. Bong yang lahir pada 25 Oktober 1987 di Jakarta, awalnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun tersadar ketika rumah yang ditempatinya terpasang sebuah papan pengumuman: Rumah Dijual.

Kondisi demikian lantas tidak membuat Bong patah arang. Justru melecut dan membentuk pribadi yang tangguh. Ketika anak-anak seusianya lebih asyik bersenang-senang, Bong justru memilih membangun usaha. Dirinya tidak mau menyusahakan orang tuanya yang sedang mengalami kesulitan. Segala cara diupayakan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Bila anak yang lain membeli buku pelajaran baru, Bong justru memfotokopinya. Pun demikian dengan alat tulis lainnya, seperti memakai kertas bekas dan juga menggunakan karet (gelang) sebagai penghapusnya.

Rasa minder ataupun malu awalnya
menghidap jiwanya. Namun motivasi bagaimana bertahan hidup justru lebih besar. Menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah, contohnya. Perasaan begitu minder akan hal tersebut, ditambah lagi dengan penyakit asma sehingga membuat tubuhnya rentan dan tak jarang dicemooh oleh teman-teman-nya.

Tapi, semakin dicemooh justru Bong semakin semangat untuk mengembangkan jiwa usahanya. Dirinya menjual parfum dan VCD (cakram padat). Kemudian, ketika masuk SMA, bersama seorang rekannya menjalankan bisnis baju. Padahal uang pun tidak punya, tapi Bong hanya modal kepercayaan. Pagi hari mereka berangkat ke Bandung untuk belanja, kemudian sorenya kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap jual. Selain ditawarkan kepada teman- temannya, Bong coba membuka lapak di Senayan dan Pasar Taman Puring Jaksel.

Motivator
Terlahir dari pasangan Aditya dan Bong Sungo, Bong merasa beruntung. Sebab orangtuanya tidak mengekang mau jadi apa kelak. "Orang tua saya membebaskan mau jadi apa saya kelak. Asalkan bertanggungjawab," ujar Bong pada satu kesempatan. Karena hal inilah, Bong muda tumbuh menjadi manusia yang bisa membanggakan orangtuanya.

Tidak ada perasaan menyesal bila masa mudanya dihabiskan untuk bekerja keras, membantu kehidupan keluarga. Tidak ada perasaan iri, bila melihat rekan ataupun temannya yang bersenang- senang. Orang tuanya selalu menasehati agar memanfaatkan waktu yang sebesar- besarnya dan tidak terbuang percuma.

Bong pun kerap mengisi waktu dengan membaca buku. Kegemarannya adalah membaca buku motivator dunia misalnya Donald Trump. Dari sini keingi
nan sukses makin besar saja. Dari kegemarannya tersebut, memudahkan untuk memotivasi diri sendiri. Kemudian juga mulai menasehati temannya yang patah semangat.

Tampaknya dunia motivasi telah dimulai oleh Bong. Langkah awal berama lima rekannya, membuat sebuah event organizer untuk pelatihan motivasi. Yang menjadi sasarannya adalah orang-orang dekat. Dirinya diminta beberapa rekan untuk memotivasi satu jemaat di gereja.

Sebagai motivator baru, Bong secara professional atau menerima bayaran adalah memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, dirinya hanya memungut biaya operasional. Langkah bisnisnya tersebut tidak mencari uang tapi justru memperluas pertemanan.


Seiring perjalanan waktu, nama Bong Chandra mulai dikenal oleh masyarakat. Diusia 18 tahun, Bong Chandra sudah dipercaya untuk memberikan training sampai ke Negara Filipina. Kemudian di usia 22 tahun Bong Chandra telah berbicara di depan 50.000 orang sehingga layak disebut sebagai The Asia Youngest Motivator atau Motivator termuda di Asia. Beberapa perusahaan besar yang memakai jasanya untuk memberikan training seperti Shell, Bank BRI, Bank Mandiri, Panin, Commonwealth, Yamaha, Ciputra Group, PLN, Gramedia, Prudential, Sunlife, CNI, TVS Motor, TVI, Real Estate Indonesia, dan sebagainya.

Entrepreneur
Selain sebagai motivator, Bong Chandra juga seorang entrepreneur yang sukses. Keberhasilannya tidak terlepas dari sosoknya sebagai seorang motivator. Bong yang kerap mengisi pelatihan di lingkungan pebisnis property, suatu ketika memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur. Di sini diajak kerjasama oleh sesama pembicara.



Anak kedua dari tiga bersaudara ini awalnya diminta mencarikan investor pembangunan property seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang Selatan. Memang sih yang dilakukan Bong gagal, tapi rekannya tidak kecewa. Justru ia diminta bergabung untuk menjalankan bisnis ini. Ahirnya Bong dan dua rekannya menjalankan perusahaan property senilai Rp 180 miliar. Perumahannya bernama Ubud Village yang terletak di Jakarta Selatan.

Dalam menjalankan bisnis property,
  Bong mengalami kesuksesan karena berhasil menjualnya. Namun bukan berarti suksesnya diraih dengan mudah, sebab ada kalanya mengalami penurunan dalam menjual unit rumah. Untuk membangkitkan para marketingnya, Bong sering memotivasi.

Pernah satu kali, menurut cerita Bong, dirinya memotivasi anak buahnya dengan melakukan taruhan. "Kalau anda berhasil menjual 100 unit rumah maka saya siap menjadi office boy sehari dan juga pergi ke kantor tidak naik mobil," ungkapnya. Hal ini tentu saja memotivasi para anak buahnya, sebab sang bos mau dikerjain. Benar saja, para marketingnya semangat untuk menjual dan menawarkan rumah. Meski tidak mencapai target menjual 100 rumah, tapi ternyata para marketingnya berhasil menjual 80 unit rumah.

Sekarang Bong telah memimpin 3 pe- rusahaan dan membawahi 150 staff dan karyawan, antara lain; PT. Perintis Triniti Property, PT. Bong Chandra Success System, dan PT. Free Car Wash Indonesia.

Bicara entrepreneur, awal bulan (1/10) lalu Bong menjadi pembicara dalam acara One Heart One Nation yang diselenggarakan Stella Maris School, BSD City, Tangsel. Dalam pemaparannya yang bertajuk Cara Menanamkan Karakter Entrepreneur Sejak Usia Dini, Bong mengatakan bahwa Indonesia butuh gerakan entrepreneur. Bangsa ini masih sedikit yang menjadi entrepreneur.

Untuk sukses menjadi entrepreneur, kata Bong, perlu memperhatikan beberapa hal, khususnya filosofinya. Yang pertama adalah siap dengan yang terburuk. Seringkali dalam entrepreneur segala yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Entrepreneur misalnya menjual sesuatu tapi tidak mencapai target atau mengalami kerugian. Hal ini harus dipandang positif, sebab bisa jadi ini merupakan pertanda akan naik tingkat.

Kemudian juga adalah sedikit egois banyak empati. Maksudnya adalah kita harus sedikit mementingkan diri sendiri agar kita bisa banyak membantu sesama. Berikutnya adalah cukup jauh tapi cukup besar. Maksudnya adalah jangan membatasi ruang gerak, biarkanlah mimpi kita besar selama mimpi itu bisa. Seseorang boleh saja mendengarkan pendapat orang lain, tapi semua kembali ke diri sendiri.

Ia juga memiliki filosofi menarik: saya menciptakan uang tapi uang tidak menciptakan saya. Di sini berarti bahwa jangan diperhambakan dengan uang. Menjalin hubungan baik lebih penting daripada uang. Uang bukanlah tujuan, efek samping dari yang kita lakukan. Uang dengan sendirinya akan datang kalau kita fokus.

Bagi Bong, entrepereneur sebenarnya bisa saja diajarkan dan diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Selama itu sesuai dengan kondisi kejiwaanya. Mi­ salnya saja anak diajarkan bagaimana melakukan jual beli dengan menggu­ nakan uang yang bukan sesungguhnya tapi uang monopoli.

Bong merasa bersyukur, meski masih sedikit sekolah atau lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang entrepreneur, tapi bermunculan anak­anak muda yang berpikiran dan terjun ke entrepreneur.

Sebagai seorang entrepreneur, Bong pernah juga mengalami yang namanya kegagalan. Diungkapkan olehnya bahwa kegagalan tersebut misalnya saja event organizernya suatu kali berhasil meraup untung Rp 40 juta, tapi di lain waktu ternyata mengalami rugi sebesar Rp 40 juta. Contoh lainnya, menggelar launching property, diadakan di sebuah hotel berbintang. Ketika digelar ada 17 orang yang booking fee, tapi ternyata yang jadi beli hanya satu. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan yang diharapkan, sudah keluar uang besar tapi pemasukannya kecil.

Disamping sebagainmotivator, pengembangan developer, Bong Chan­ dra merupakan penulis buku. Hasil kary­anya berjudul Unlimited Wealth dan The Science of Luck adalah best seller yang saat ini hampir terjual 100.000 copy.

Sebagai penulis buku, tentunya merasa senang dengan penjualan yang mencapai angka tersebut. Hal ini dira­ sakan pula Bong Chandra. Namun demi­ kian, kebahagian tersebut, tidak ingin dinikmati sendiri. Sebagai mahkluk Tu­ han yang mempunyai nilai sosial, Bong ingin kebahagiaan tersebut dirasakan oleh kaum yang tidak mampu kehidu­ pannya. Oleh karenanya, hasil dari buku tersebut diberikan kepada yang berhak.

"100 persen royati dari penjua­lan buku disumbangkan ke Yayasan Vincentius Jakarta Pusat," kata Bong.

Setiap manusia yang hidup memang menginginkan hidupnya sukses. Tapi untuk meraih kesuksesan tidak mudah. Setiap orang mempunyai jalan hidup masing­masing. Biasanya lingkungan yang selalu dipersalahkan bila seseorang mengalami kegagalan. Padahal menurut Bong Chandra, kegagalan dan perubahan tidak dari luar tapi dari dalam sendiri.

Bagi yang ingin sukses, Bong me­nyarankan agar di era sekarang, laku­ kan sesuatu yang beda atau lain dari yang sudah ada. Di dunia musik, bagaimana sebuah grup band tampil beda, akhirnya mengalami kesuksesan.

Bagi anak muda, yang terjun sebagai entrepreneur dan ingin sukses, kata Bong, sebaiknya tunda kesenangan bayar seka­ rang daripada sudah tua baru kerja keras.

Akhirnya, sebuah kata dari Bong Chandra yang mungkin bisa direnungi oleh kita semua "Musuh terbesar dari sebuah kehidupan yang baik adalah ke­ hidupan yang luar biasa".

Sumber : www.ifadahsyat.com

Baca Selengkapnya ....

Tampil Vintage Berbingkai Kacamata Bulat

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Sabtu, 03 Desember 2011 0 komentar

Tren yang dipopulerkan John Lennon pada 1970-an kembali digemari pecinta fashion.


Selebritas mengenakan kacamata bulat ala John Lennon (Daily Mail)

Gaya John Lennon dengan kacamata bulat membingkai mata menjadi trendsetter di tahun 70-an. Seiring dengan kematiannya pada 1980, tren kacamata bulat ditinggalkan dan digantikan dengan tren kacamata besar bak mata lalat.

Namun belakangan ini, hal-hal yang berbau vintage kembali digemari pecinta fashion.Tak heran, barang-barang yang kental dengan nuansa tahun 50-an hingga 70-an, dari gaun-gaun vintage ala Audrey Hepburn hingga tas-tas kulit vintage yang sempat tren di tahun 70-an kembali merebak. Tak ketinggalan kacamata bulat ala John Lennon.

Semua ini dilakukan semata untuk mendapatkan fashion statement pribadi dan membuat mereka terlihat 'tidak biasa'.

Sebut saja Beyonce, Kate Moss, Katie Holmes, Lady Gaga serta Elle Fanning yang kerap kali terlihat menggunakan kacamata bulat vintage. Mungkin tak pernah terpikirkan oleh salah satu pendiri The Beatles ini kalau kacamata bulat yang sering digunakannya akan kembali menjadi tren di era modern abad ke 21.
Tapi, melihat artis berduyun-duyun menggunakan kacamatanya semakin menguatkan bahwa kacamata vintage adalah sesuatu yang dicari untuk menggantikan tren kacamata besar dengan frame solid yang mendominasi tren kacamata lima tahun belakangan ini.

Tentu memakai kacamata bulat memerlukan tingkat kepercayaan diri tinggi mengingat tak semua bentuk wajah cocok dengan kacamata ini. Tapi, memadukan kacamata bulat dengan leather jacket akan menjadi tampilan seru ketika hang out bersama teman. Gunakan kacamata tersebut dengan vintage dress dan blazer untuk tampilan yang sedikit formal.

Atau, Anda dapat melakukan eksperimen sendiri untuk mendapatkan gaya pribadi Anda.
• VIVAnews

Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI



Baca Selengkapnya ....

Cara Memilih Bra Agar Postur Tubuh Ideal

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Tujuh dari sepuluh wanita Indonesia masih menggunakan bra yang tak mendukung postur tubuh.


Bra (ebbra.com)

Salah satu aset yang selalu menjadi kebanggaan wanita adalah bentuk payudara yang indah. Namun, sebagian besar wanita salah memilih bra yang sesuai dengan bentuk tubuh dan dapat mendukung postur mereka.

Sebanyak tujuh dari sepuluh wanita Indonesia ternyata belum menyadari pentingnya pemakaian pakaian dalam yang tepat untuk mendukung tubuh. Kurangnya dukungan pakaian dalam menjadi salah satu alasan sakit pada bagian punggung, leher serta perubahan postur. Bahkan, dalam jangka panjang penggunaan bra yang tak sesuai dapat menimbulkan kerusakan pada tulang.
"Selain dari struktur tubuh akibat penyakit, dari posisi, seperti orang yang sering mengangkat beban terlalu berat, kebiasaan duduk yang salah seperti membungkuk, lama kelamaan bisa menyebabkan rasa nyeri hingga mengubah postur seseorang," kata Dr. Prita Paramita dalam Media Gathering Sorella di Jakarta, Kamis, 24 November 2011.

Dr. Prita menambahkan salah satu penyebab nyeri punggung dan perubahan postur adalah penggunaan pakaian dalam yang salah. "Pemakaian bra harus sesuai dengan kontur tubuh dan memiliki ukuran tepat. Bila kekecilan atau kebesaran akan menimbulkan ketidaknyamanan. Bila terjadi terus menerus, bisa menyebabkan perubahan postur yang merugikan pemiliknya," katanya.

Dia menyarankan beberapa hal dalam memilih ukuran bra. Bila ingin membeli bra mencoba langsung adalah cara paling ideal untuk menentukan pilihan. Namun, bila tak nyaman, ada baiknya mengetahui ukuran-ukuran tubuh seperti lingkar dada, lingkar di bawah dada serta jarak punggung dengan dada. " Sehingga bra nantinya akan memberi dukungan sempurna dan langsung mengangkat payudara."

Ragam bra di pasaran saat ini seperti push bra, bra dengan kawat atau sport bra menurutnya memang memberi banyak pilihan. Namun, intinya tetap harus mendukung pemakainya. "Yang paling penting bra mendukung payudara. Berolahraga tanpa sport bra tidak mengapa asalkan bahannya nyaman dan payudara tidak bergerak-gerak selama berolahraga," urainya.
Memilih bahan bra yang nyaman, mengganti bra secara teratur hingga menjaga kualitas bra juga dapat membantu. "Usahakan agar bentuk bra seperti bra kawat tidak berubah atau berkarat. Ujung-ujungnya akan memengaruhi kenyamanan  pemakainya." (eh)
• VIVAnews

Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI



Baca Selengkapnya ....

Masker Alami untuk Kecantikan Wajah

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Gunakan waktu sebelum tidur Anda dengan membuat masker alami.


Masker wajah (dok. Corbis)

Siapapun pastinya setiap wanita ingin memiliki kulit yang segar, kencang, kenyl, bersih dari flek dan bebas jerawat serta terlihat awet muda. Untuk mendapatkan kulit sehat dan cantik tak perlu harus selalu pergi ke klinik kecantikan. Cobalah perawatan alami yang tidak menguras kantong Anda.

Cobalah Anda mulai membuat masker alami saat malam hari menjelang tidur. Berikut beberapa masker untuk membantu mengobati dan mencegah berbagai masalah kulit. Masker ini sangat mudah karena Anda bisa menggunakan bahan-bahan yang dimiliki di dapur Anda seperti dikutip dari Times of India:

1. Masker ketimun

Masker ini cocok untuk kulit kering. Campurkan mentimun kecil dengan secangkir oatmeal dan satu sendok makan yoghurt. Lalu oleskan ke lapisan kulit dan biarkan selama 30 menit. Kemudian bersihkan dengan air hangat dan biarkan kering.

2. Masker madu

Oleskan tipis-tipis madu ke kulit lembab dan tetap seperti itu selama lima menit. Pelan-pelan membersihkannya dan pakai air hangat. Kemudian dengan air dingin lalu gunakan handuk jika masih terkesan lengket.

3. Masker Pisang

Pisang matang dihaluskan dan pakaikan ke permukaan wajah dengan tipis. Diamkan selama 10 menit kemudian dibilias dengan air hangat dan keringkan. Kulit akan terasa lembut dan halus.

4. Masker Alpukat

Satu buah alpukat matang, tumbuk dengan halus. Kemudian pakaikan secara rata di wajah dengan tebal. Setelah itu tunggu selama 15 menit sampai masker kering. Bilas dengan air hangat, lalu memakai air dingin dan biarkan kering.

5. Masker oatmeals

Campurkan dua sendok makan gandum yang belum diolah dengan satu sendok garam (Baking powder-baking soda). Setelah itu tambahkan sedikit air agar menjadi padat. Pakaikan ke wajah secara melingkar kemudian bilas dengan air hangat. Masker ini cocok untuk kulit berminyak.

6. Masker jus lemon

Masker ini membantu mengurangi flek hitam pada kulit. Campur setengah air lemon dengan putih telur. Lalu oleskan secara tipis ke permukaan wajah. Setelah kering, masker akan menjadi sedikit keras. Biarkan semalaman, lalu bilas dengan air hangat di pagi hari. Masker ini cocok untuk seluruh jenis kulit.
• VIVAnews


Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI


Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Sukses Muda Ala Merry Riana

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Selasa, 29 November 2011 4 komentar



Setahun setelah ia bekerja dan usianya baru beranjak 23 tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar Si­ngapura atau sekira Rp. 1,5 miliar de­ngan nilai tukar saat ini. Setahun berikut­nya, yakni 2004, dia mendirikan perusa­haan dengan ben­dera Merry Riana Organization (MRO). Dua tahun kemu­ dian di usia 26 tahun, penghasilan totalnya mencapai 1 juta do­llar Singapura seki­tar Rp 7 miliar.

Kerusuhan Mei 98
Ya, ia di-"ungsikan" oleh orang tuanya ke Negeri Singa saat terjadi kerusuhan di Jakarta pada medium Mei 1998 silam. Singapura menjadi pilihan bagi orang tua Merry, selain dekat juga system pendidikan di sana relatif lebih baik.

Saat itu Merry baru lulus SMA. Cita- citanya untuk melanjutkan kulian di Universitas Trisakti pun buyar karena peristiwa mengenaskan itu. Demi alasan keselamatan ia pun dikirim ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya.

"Waktu itu rasanya seperti dalam film perang. Saya diminta pergi agar saya selamat," ungkap Merry merasakan kesedihanannya yang terjadi 13 tahun lalu kepada KOMPAS (17/7). Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri, ia sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang Technological University.

Orangtua Merry adalah seorang pebisnis dan ibu rumah tangga. Dengan penuh keberanian, sulung dari 3 bersaudara ini tinggal di Singapura dan mengadu untung di sana. Karena dorongan sang ayah, Merry bercita-cita menjadi seorang insinyur. Cita-citanya tersebut mungkin karena ingin membantu sang ayah dalam menjalankan bisnis.

Merry mulai belajar di bangku kuliah di jurusan Electrical and Electronics Engineering (EEE) di Nanyang Technological University (NTU) pada 1998. Merry mengaku jurusan ini menjadi jurusan paling masuk akal baginya saat itu.

Tanpa bekal dana yang memadai, Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura. Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga untuk hidup sehari-hari. Nilai utangnya saat itu mencapai 40.000 dollar Singapura.

Selama kuliah ia harus hidup superhemat. Uang sakunya yang hanya 10 dolar membuatnya harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan rotatau mie instan, bahkan berpuasa.

Ketika masa kuliahnya memasuki tahun kedua dan menyadari bahwa hidupnya tak berubah, ia mulai membangun mimpi. "Saya membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20. Saya harus punya kebebasan financial sebelum usia 30. Dengan kata lain, harus jadi orang sukses. The lowest point in my life membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,"papar Merry.

Sembari belajar di NTU, Merry harus menabung untuk membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya kuliah. Merry menyadari bahwa ia harus memikirkan masa depannya. Dengan kewajiban pelunasan pinjaman sebanyak itu saat lulus dari bangku kuliah, Merry mulai bekerja keras dan ingin mencapai kesuksesan di usia 30 tahun.

Meski sudah menancapkan impian dan didukung semangat yang menggebu, Merry belum menentukan cara mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor. Dari situlah ia mulai melakukan hitung-hitungan, seandainya dia menjadi karyawan perusahaan seusai kuliah, maka ia baru bisa melunasi hutangnya dalam waktu 10 tahun, tanpa tabungan.

Memilih Wirausaha
Merry pun menyimpulkan, dengan cara itu impiannya tak bakal terwujud. Inilah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan memilih jalan berwirausaha untuk mencapai mimpinya.

Tanpa pengalaman dan pengetahuan bisnis yang memadai, Merry terjun ke dalam dunia bisnis. Ia mencoba berbagai peluang bisnis. Salah satunya terjun ke multy level marketing. Sayangnya ia tak berhasil di sini, bahkan rugi 200 dollar. Kemudian suatu saat Merry berinvestasi pada saham dengan mengandalkan uang tabungannya yang susah payah ia kumpulkan. Sayang, Merry kehilangan semua investasinya sejumlah 10.000. Meski begitu, Merry kembali bangkit dan berusaha keras untuk menyelesaikan kuliahnya dan menjadi
entrepreneur.



Saat Merry memulai karier sebagai seorang penasihat keuangan, ia harus bergulat dengan sejumlah tantangan dan hambatan. Orang tuanya, dosen serta teman-temannya kurang setuju dengan keputusan Merry tersebut. Merry saat itu belum memiliki kemampuan berbahasa Mandarin padahal lebih dari separuh penduduk Singapura ialah etnis China. Sebagai seorang pendatang asing di sana, pengalaman dan relasi Merry sangat terbatas.

Tamat kuliah barulah Merry mempersiapkan diri dengan matang. Belajar dari pengalaman pengusaha sukses, dia mulai dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14 jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu enam bulan, ia mampu melunasi utangnya pada Pemerintah Singapura. Tunai!

Atas prestasi yang diraihnya, tahun 2003, Merry dianugrahi Penghargaan Penasihat Baru Teratas yang diidam-idam- kan banyak orang yang menekuni profesi penasihat keuangan. Di tahun 2004, prestasi Merry yang cemerlang membuatnya dipromosikan sebagai manajer.

Dengan bekal manajer itu Merry lantas membentuk tim sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Setahun setelah itu (2005), Merry menerima penghargaan sebagai Top Agency of the Year dan penghargaan Top Rookie Agency. Dengan penghasilan total 1 juta dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat beru sia 20 tahun terwujud.


Seiring dengan usianya yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan dollar bukan menjadi satu-satunya tujuan hidup Merry. Istri Alva Tjenderasa (31) ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan seperti dia.

Tak segan-segan ia membagi pengalaman suksesnya pada orang lain melalui berbagai cara, seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan, sekolah, serta melalui media jejaring social, media massa, dan menulis buku yang tentunya sangat menginspirasi.

Keinginannya untuk terus berbagi tak hanya ia lakukan di Singapura. Pada ulang tahunnya ke-30, ibu dari Alvernia Mary Liu (2,9) ini membuat resolusi baru, yaitu memberi dampak positif pada 1 juta orang di Asia, terutama di tanah kelahirannya, Indonesia. Khusus bagi kaum muda, Group Di rector MRA ini berharap para pemuda mampu memberikan kehidupan yang lebih baik, tak hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga orang tua mereka dan anggota keluarga mereka yang lain.
[]berbagai sumber





Merry Riana
Tempat tanggal lahir:
Jakarta, 29 Mei 1980
Nama Suami:
Alva Tjenderasa (31)
Nama Anak:
Alvernia Mary Liu (2,9)
Pendidikan:
S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological University, Singapura (1998-2002)7
Pekerjaan:
Group Director Merry Riana Organization
Penghargaan:
• Salah satu pengusaha terbaik di Singapura dari Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura (2008)
• Salah satu wanita paling sukses dan inspiratif dari Menteri Kepemudaan dan Olahraga Singapura (2010)
• Wanita paling inspiratif pada salah satu majalah bulanan Inspirational Woman Magazine (2011)
• Salah satu eksekutuf paling professional dari penampilan dan keahlian berkomunikasi dari surat kabar My Paper, Singapura (2010)
• Duta LG Asia, Watson, dan Canon (2010-2011).

Sumber: KOMPAS (17/8)


  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI







Baca Selengkapnya ....

Apa kata Artis/Model tentang IFA ..??

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT Sabtu, 26 November 2011 0 komentar

Fisik & Wajah adalah yang Utama

Stevianne Agnecya,.

Usai beberapa sesi, kru pemotretan untuk Katalog IFA menyepakati satu hal
tentang cewek yang akrab disapa Stevi ini: wajahnya mirip Sandra Dewi!
Mendenga
r itu, dara kelahiran Jakarta 15 Agustus 1991 ini pun kontan
tersipu malu. Ingin tahu kepribadian Stevi lebih lengkap? Ifashion+ mengha
dirkannya untuk Anda.

Halo Stevi, ceria sekali hari ini.
Hehehe iya nih. Abis daripada dibawa bete nanti malah merusak mood dan
akhirnya hasil fotonya malah kelihatan enggak bagus. Gimana tadi acting lari-lari aku?
Cukup meyakinkan. Capek enggak?
Lumayan sih, tapi lucu aja. Aku senang bisa total dalam pemotretan. Enggak
apa-apa harus capek dikit yang penting hasil fotonya bagus.
Stevi udah lama ya jadi model?
Kurang lebih 5 tahun, dari aku masih SMP.
Wow, memulai karir sebagai model di usia yang sedemikian belia, susah enggak sih?
Lumayan sih, soalnya untuk masuk ke agensinya aja udah cukup banyak saingan. Tapi tergantung dari kitanya, punya kemauan atau enggak. Kalau modal bakat udah ada, ditambah kerja keras dan kemauan yang kuat, pasti ada jalan untuk jadi model profesional.
Menurut Stevi, apa aja modal utama bagi seseorang yang mau berkecimpung di dunia modeling?
Enggak memungkiri kalau tampilan sik adalah yang utama. Tinggi dan berat
badan yang proporsional, serta wajah yang menarik adalah poin plus yang utama. Selanjutnya tinggal seberapa kuat keinginan kita untuk bekerja keras. Dan jadi model itu enggak boleh bosenan. Bayangin tiap pemotretan atau fashion show kan rata-rata capek nunggu. Kalau dia fokus sama mood-nya, pasti kebawa bete dan kesel. Hasilnya malah jadi enggak bagus.
Banyak orang menduga kalau kehidupan para model itu glamor, suka party dan jarang kumpul sama keluarga. Apa benar seperti itu?
Jujur, aku sih enggak suka party kayak gitu, apalagi clubbing. Udah pusing,
capek. Jadi kegiatanku kalau lagi enggak kerja ya istirahat aja di rumah atau jalanjalan sama keluarga atau teman dan paling perginya ke mall aja.
Pernah enggak Stevi mengalami kejadian yang memalukan saat pemotretan atau tampil di fashion show?
Hahaha… aduh malu nih. Tapi iya sih pernah. Jadi waktu itu ada show dan aku kan jadi model untuk make up. Tahu kan bangku-bangku tinggi untuk make up di depan kaca? Kakiku aku injakkan besi landasan di bawah kursi itu supaya kakiku enggak pegal. Nah, pas mau turun, heels aku nyangkut di besi itu dan akhirnya aku jatuh. Aduh… udah sakit, malu juga lagi. Sebel deh!
Apa sih yang paling Stevi suka dari pekerjaan sebagai model?
Waktu yang dibutuhkan tidak full seharian seperti orang-orang kerja kantoran dan harinya juga enggak dari Senin sampai Sabtu. Selain itu, aku juga bisa banyak belajar terutama di bidang tata rias dan fesyen.
Kalau gaya busana dan dandanan Stevi itu seperti apa sih?
Kalau menurut opini dari teman-teman aku sih katanya aku sangat mempedulikan penampilan. Kata mereka aku juga mengikuti perkembangan fesyen. Dan berdandan emang udah jadi bagian dari diri aku, hehehe… Tapi itu semua tetap dalam kadar yang sesuai dengan umurku kok.
Ada tips khusus enggak yang bisa Stevi bagi ke pembaca Ifashion+ agar selalu tampil cantik dan segar ala model?
Kalau menurut aku, cantik itu bukan aja dari luar tapi dari dalam juga. Kalau
dari luar sih biasanya perawatan ke salon. Bisa luluran, creambath atau hair spa, dan menikur-pedikur. Kalo dari dalam biasanya dengan senyum aja pasti kecantikan kita akan terpancar. Menurut aku sih begitu.

Berminat jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI




Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Mall Tempat Favorit Untuk Merekrut Member

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar


Mereka yang menunggu sampai memiliki kemampuan untuk melakukan semua kebaikan besar, pada saat bersamaan akan berakhir dengan tidak melakukan apa- apa. Karena kehidupan ini terbentuk dari hal-hal kecil. Kesuksesan sejati terbentuk dari kemampuan diri kita melakukan dengan baik hal-hal kecil tersebut. –Samuel Jhonson-

Mall atau departemen store telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Tak jarang yang menghabiskan waktu akhir pekan- nya dengan mengunjungi mall, untuk sekedar belanja, nonton bioskop atau hanya sekedar jalan-jalan. Maka tak heran dalam satu kota bisa ditemukan begitu banyak pusat perbelanjaan yang jaraknya berdekatan satu dan lainnya.

Belanja di mall seolah menjadi keharusan bagi sebagian besar orang. Tengok saja, pusat perbelanjaan selalu ramai dikunjungi pada akhir pekan. Jika memasuki hari besar seperti liburan dan tahun baru, jumlah pengunjungnya di pastikan membludak berkali-kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Tapi tak semua orang beranggapan seperti itu, Teguh Sri Rahayu contohnya. Perempuan yang akrab disapa Yayu ini menjadikan mall sebagai tempat untuk mempromosikan IFA, bisnis multi level marketing yang digelutinya. Menurutnya, Mall tempat yang tepat untuk memperkenalkan produk dan merekrut anggota.

Mall menjadi tempat favorit bagi Yayu untuk memperkenalkan IFA dan merekrut orang. Banyak acara-acara di mall yang mendatangkan banyak orang. Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang bisa diajak untuk bergabung. Tak jarang Yayu ikut acara-acara yang diadakan MLM-MLM lain, tentu saja tujuannya bukan untuk masuk dalam MLM tersebut tapi mengajak member- member itu bergabung bersama IFA.

Yayu sengaja mengajak member- member MLM lain untuk bergabung bersama IFA. Menurutnya, oarng-orang yang telah terbiasa dengan dunia level marketing hanya butuh sedikit penjelasan akan langsung paham. "Kebetulan sasaran saya itu banyaknya pedagang, banyak juga yang dari MLM sehingga mereka sudah terbiasa dengan MLM. Jadi saya ga perlu menerangkan susah-susah, mereka sudah paham," tuturnya kepada Intrepreneur.

Bisnis berjenjang bukanlah hal baru bagi perempuan kelahiran Cilacap, 16 maret 1976 ini. Pasalnya sebelum bergabung dengan IFA, Yayu telah merasakan asam garam dunia level marketing. Banyak MLM yang pernah diikutinya, semua selalu sama, tak memberikan hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya.

Terlanjur mencintai dunia MLM, ibu dari Andra Firyana dan Syahwil dan Raf- fandi ini ini memutuskan untuk mencari MLM lain yang lebih menjanjikan. Akhirnya pilihannya jatuh pada IFA. Isteri dari Saryono ini yakin sistem IFA mudah untuk dijalankan dan bonusnya transparan.

"Setelah bergabung dengan IFA, semua saya tinggalkan. Saya sangat senang dengan IFA. Saya hanya fokus di IFA dan nggak ada yang lain. Sejak gabung di IFA saya baru merasakan, ini loh MLM yang saya cari. Selama bertahun-tahun saya cari baru IFA ini yang benar-benar merasakan dapat bonus dan menghasilkan. Selama ini di MLM lain saya tidak pernah mendapatkan hasilnya. Dalam waktu tiga bulan saya sudah mencapai silver. Cepat sekali perkembangannya."

Mengintip Perjalanan Hidup Yayu
Kemampuannya untuk menjual dan marekrut orang sudah ditempa sejak kecil. Memiliki seorang ibu penjual soto secara tak langsung membuatnya begitu akrab dengan dunia entrepreneur. Sepulang sekolah Yayu langsung membantu ibunya berjualan soto, mulai dari melayani pelanggan hingga membuat bumbu untuk masakan. Semua itu dilakukannya dengan senang hati.

Memasuki masa sekolah menengah atas, Yayu memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya di Banjar Negara. Hal itu dilakukan mengingat jarak rumahnya cukup jauh dengan tempatnya bersekolah. Tinggal bersama kakaknya tak berarti kebiasan berdagang itu terhenti. Yayu harus membantu kakaknya menjaga toko klontong di pasar.

Menurutnya, Berdagang itu lebih mengasyikan ketimbang bekerja dengan orang lain. "Ternyata berdagang itu lebih menghasilkan dari pada bekerja dengan orang lain. Dengan berdagang kan saya bisa berkreasi, bisa bertemu dengan banyak orang secara langsung, juga mendapat masukan langsung. Kalau bekerja dengan orang lain kan harus disuruh-suruh, lebih nikmat berdagang lah."

Pengalaman berdagang inilah yang membantunya dalam mengembangkan bisnis IFA. Karirnya kini berada di level IFA Silver Agen (ISA). Jaringannya mencapai 100 orang. Omzet perbulannya di atas 20 juta rupiah. Apa yang dimilikinya tak lantas membuat ibu dua orang anak ini puas. Kedepannya, Yayu menargetkan untuk mendirikan depot di Cijantung.


Sumber : www.ifadahsyat.com



  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI






Baca Selengkapnya ....

Kisah Sukses : Ikuti Semua Seperti Air Mengalir

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Sebelum berangkat sekolah, Margareta harus membantu pekerjaan di rumah. Subuhnya ia menyiapkan kue untuk dititipkan ke kantin sekolah, pulang sekolah pergi ke hutan mencari apa saja yang bisa dijual, seperti air sisa sadapan karet, tebu, daun ubi ataupun arang bekas bakar kayu untuk dijual ke tempat pembuat besi. Setelah itu dirinya harus ke sawah membantu orangtuanya.

"Jika sawah kami sudah selesai, aku biasanya menjadi buruh di sawah orang lain. Sorenya setelah mandi, biasanya aku dan abangku jualan kue buatan mama ke warung sambil numpang nonton TV, di samping aku harus mengasuh adik-adikku juga," tuturnya menceritakan bagaimana dirinya semasa kecil sudah harus bergelut dengan setumpuk pekerjaan.

Dari situlah Margareta bisa memetik pelajaran penting yang selama ini menjadi nilai hidup di dalam keluarganya dan ia warisi hingga kini. "Uang tidak akan datang dengan sendirinya. Kebanggaan yang sangat besar jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, meskipun tertatih. Kemiskinan bukanlah penyakit keturunan. Roda selalu berputar, maka ingatlah akan setiap putaran itu." Begitulah kalimat bijak yang menjadi falsafah hidupnya.

Beranjak masa remaja, Margareta pun masih terus bertaruh dengan berbagai pekerjaan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pria yang mampu memikat hatinya, Rudi Suhendi namanya. Hubungan asmara mudamudi ini akhirnya berlanjut ke pelaminan, tepatnya pada tahun 2005 di daerah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar–suatu daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Di sanalah keduanya menjalani hidup sebagai sepasang suami istri hingga akhirnya dikaruniai puteri pertamanya, Jessica Amaria Reanante.

Menjadi seorang ibu rumahtangga dengan seorang puteri ternyata tak melunturkan jiwa pekerja kerasnya. Kala itu Margareta membuka usaha wartel dan ponsel. Namun dua jenis usaha itu tampaknya masih belum cukup untuk membasuh dahaganya.

Karena ingin penghasilannya lebih, Margareta pun berjualan apa saja yang penting menghasilkan. Mulai dari berjualan kue, buka warung kopi, hingga jualan lelong (pakaian bekas dari Malaysia). Pernah juga buka toko devosionalia, serta bekerja di PJTKI sebagai tenaga pengambil sampel darah untuk dikirim ke RS. Kuching, bahkan terkadang menjadi guide juga.

Awalnya Iseng Saja
Margareta tak menyangka sebelumnya jika dirinya akan bisa menjalankan IFA seserius seperti saat ini. Pasalnya kala itu dia bergabung dengan IFA hanya iseng semata. "Awal saya bergabung di IFA karena iseng, untuk menambah koleksi katalog" akunya.




Ketekunan, kesa- baran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata- rata 100-150 juta rupiah.


Ia diperkenalkan oleh Emerensiana Emma sekitar tiga tahun lalu. Margareta dan Emma sebenarnya sudah berteman lama, karena Emma adalah downlin-nnya di salah satu perusahaan MLM asal Prancis.

"Untuk menambah katalog dagangan jadi kami mencari referensi katalog fashion lain dan Kak Ema (panggilan akrab Emerensiana Emma-red) mendapatkan IFA dan barteran, jadinya Kak Ema menjadi upline saya di IFA," ceritanya.

Selang tak lama usai bergabung dengan IFA, Margareta mengikuti IFA Basic Training Nasional (IBTN) sebagai pintu masuk untuk memahami sistem dan budaya IFA, agar tidak seperti orang buta yang kehilangan tongkat.

Karenanya, kesan yang didapat saat pertama mengarungi samudera IFA berbeda dengan para pelaku bisnis IFA lain- nya. Umumnya, saat mulai menjalankan bisnis IFA mereka merasakan kesulitan, namun tidak demikian dengan Margareta. Ia justru mengaku mudah-mudah saja. "Tidak begitu susah di IFA, banyak kemudahan yang saya dapatkan," akunya.

Hanya satu yang menjadi kendala baginya, yaitu soal tempat dan akses. Sebab Etikong merupakan wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia, dimana masyarakat di sana lebih mengunggulkan produk luar negeri, selain itu akses juga terbatas, pengiriman barang susah, dan untuk mengembangkan jaringan mentok di perbatasan saja.

Soal pengiriman barang itulah yang masih menjadi kendala hingga saat ini, juga masalah pembayaran. "Kesulitan saat ini adalah masalah pengiriman barang ke para member terutama mereka yang tempatnya jauh dan masalah pembayaran para member. Tapi saat ini lebih dipermudah karena bisa mentransfer uang melalui CU (Credit Union) yang tersebar hampir di seluruh desa-desa besar, karena kebanyakan orang kampung agak males untuk masuk ke bank. Sedangkan pengiriman barang sendiri bisa titip lewat angkot, cuma resikonya kurang aman, karena ekspedisi terbatas rutenya," papar ibu dari Jessica Amaria Reanante (5th) dan Leonard Cielopante (1th) ini.

Bonus pertama yang ia peroleh dari IFA waktu itu hanya 5000 rupiah. Meskipun demikian ia merasa begitu senang dan bangga, walau jumlahnya tak seber apa tapi itu membuktikan bahwa sistem di IFA benar-benar transparan.

Selain itu, di IFA, Margareta merasa menemukan sebuah keluarga baru yang memiliki kepedulian tinggi di antara se­ sama. "Saya mendapatkan teman seorang Ibu depot seperti Kak Alin yang dari awal ketemu langsung mau melayani saya dengan sangat baik dan rela mengantar saya ke kota Sanggau padahal baru pertama ketemu dengan belanjaan saya yang nggak seberapa," kesannya.

Seiring berjalannya waktu, Margareta yang mulanya bergabung dengan IFA hanya iseng saja berlahan-lahan berubah menjadi serius. Pikiran, energi, dan waktunya kemudian lebih dikosentrasikan untuk mengembangkan bisnis IFA. Sebab ia sudah tahu dan merasakan bahwa bisnis ini begitu menjanjikan.

Hingga akhirnya ia berhasil membuka depot pada Agustus 2009 lalu yang ia beri nama DEPOT IFA MARGARETH yang beralamat di KM II Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Berikutnya, ia berhasil menelurkan Sub Depot Herkulanus Oni, yang terletak di Jl. Batu Duduk, Pahauman, Kab.Landak, KalBar.

Ketekunan, kesabaran dan kecerdasan dalam memutar roda bisnis IFA di tanah Ngabang kini membawanya pada pintu gerbang kesuksesan. Jaringannya beranak-pinak hingga ribuan orang yang tersebar di Kalbar, utamanya kabupaten Landak. Omzet depotnya tiap bulannya mencapai rata-rata 100-150 juta rupiah. Karirnya pun sudah berada di level IFA Silver Agent (ISA).

Beberapa komisi dan keuntungan yang disediakan IFA pun sudah berhasil ia raih dan nikmati, antara lain Komisi Cicilan Sepeda Motor, fee depot, rabat bulanan, dan berbagai keuntungan lainnya.

Selain materi, Margaret juga mendapatkan kepuasan non materi. "Saya mendapatkan banyak teman dan saudara. Rasa kekeluargaan yang begitu nyaman antar sesama pimpinan depot, relasi yang begitu kuat tanpa ada rasa persaingan," ungkapnya senang.

Resep Sederhana ala Margareta
Dalam mengembangkan bisnis IFA, Margareta ternyata memiliki resep sukses yang begitu sederhana. Apa saja? "Jangan menjanjikan orang yang muluk- muluk, sodorkan katalog, biarkan mereka menikmati gambar-gambarnya selama mereka suka, beri nomor telepon atau minta nomor telepon mereka, pasti- nya mereka akan mengorder salah satu atau banyak barang di katalog tersebut. Setelah datang dan orang tersebut akan membayar langsung, sodorkan starterkit, maka dia akan masuk menjadi member karena belanjanya telah didiskon langsung, maka kita akan mendapatkan member dan pastinya dia akan berusaha mencari member juga, apalagi setelah melihat statemen bonus kita," paparnya berbagi kiat sukses.

Satu lagi, "Tidak perlu menjelekan MLM lain, tunjukkan keprofesionalan dalam bekerja, pastinya semuanya akan merasa puas," tambahnya memberikan tips khusus untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis MLM dewasa ini.

Meski boleh dikata sudah mulai memasuki zona kesuksesan, namun Margaret tak melupakan aktivitas sosialnya. Di tengah kesibukannya menjalankan IFA, ia ternyata memberikan perhatian khusus kepada para balita yang mengalami gizi buruk, khususunya di desa-desa, dengan bergabung menjadi tenaga Fasilitator Masyarakat (FM) di Dinas Kesehatan Kabupaten Landak untuk program perbaikan gizi atau yang lebih dikenal dengan proyek Nutrition Improvement Thought Community Empowerment (NICE).

  Mau jadi agent IFA ..? Silahkan klik : DISINI






Baca Selengkapnya ....

Figur Publik : Tung Desem Waringin

Posted by IFA MEMANG DAHSYAT 0 komentar

Lewat Email Tak Henti Memotivasi

Tung Desem Wa­ringin mungkin sa­dar betul bahwa masih banyak rak­yat Indonesia yang hidupnya kurang beruntung. Apalagi dengan latarbe­lakang kehidupan dirinya yang penuh liku. Sempat mera­ sakan kehidupan di bawah atau jatuh, hingga pada akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.

Kita mungkin masih ingat dengan "hujan" uang pada 1 juni 2008 silam. Ya, sebuah peristiwa langka di lapangan Group 1 Kopassus, Taman Taktakan, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten ini, terjadi penyebaran uang pec- ahan Rp1.000, Rp 5.000, dan Rp10.000 dari atas pesawat. Siapakah sang pemilik ide tersebut? Ternyata tidak lain, tidak bukan adalah motivator terkenal Tung Desem Waringin.

Sosok pria berkacamata ini punya alasan dan maksud tersendiri kenapa melakukan ide tersebut. Hujan uang menurutnya merupakan salah satu kiat sebelum meluncurkan bukunya berjudul Marketing Revolution. Hal itu juga, katanya adalah sebagai protes marketing. Dirinya melakukan protes atas begitu banyaknya biaya marketing yang dikeluarkan dan hanya menyebar seperti menaburkan uang di atas gunung berapi, lantas hilang, lenyap tidak berbekas dan tidak pernah kembali.

Sebagai seorang motivator, Tung Desem Waringin sah-sah saja melakukan- nya. Itu bukan sebuah penggambaran kesombongan atau keriyaan atas kekayaan yang dimiliki. Tapi memang, dibutuhkan sebuah hal berbeda yang bisa menarik perhatian banyak orang atas apa yang akan dilakukan.

Tung Desem Waringin mungkin sadar betul bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya kurang beruntung. Apalagi dengan latarbelakang kehidupan dirinya yang penuh liku. Sempat merasakan kehidupan dibawah atau jatuh, hingga pada akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.

Baru terlahir ke dunia, Tung Desem Waringin dihadapkan pada beban hidup orang tuanya. Bisnis ayahnya Tatang Sutikno, hancur berantakan menyisakan utang. Dengan terpaksa, Tung Desem yang baru dilahirkan tak mampu untuk ditebus dari rumah sakit. Memang sih dapat uang sumbangan dari para saudara, tapi justru dipakai untuk membayar utang. Orang tuanya memegang teguh komitmennya dengan janji.

Usaha
Sebelum menjadi seorang motivator, Tung Desem melewati kehidupan yang bersentuhan dengan entrepreneur. Sang ayah pun selalu melibatkan dan memberi nasehat kepadanya. "Kalau kita tak bisa jualan dengan baik, maka toko akan tutup, lalu kalian tak bisa sekolah, dan kita semua tidak bisa makan," begitu pesan sang ayah.

Nasehat sang ayah yang selalu diingatnya adalah tidak boleh menipu dalam menjalankan usaha. Tapi yang namanya usaha, tentunya mengalami perkembangan naik turun. Demikian pun halnya dengan usaha ayahnya berupa toko emas.

Melihat hal demikian, Teng bertekad suatu saat nanti harus bisa mencapai ke­ suksesan. Satu nasehat lain dari ayah- nya, "Kalau ingin sukses, bergaullah dengan orang sukses."

Ketika kuliah di Jurusan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tung menjadi Salesman emas. Tung yang kala itu hanya tinggal skripsi, mengambil emas dari kakaknya di Jakarta, menawarkan dari toko ke toko, mulai dari Tayu, Jepara, Semarang, Salatiga, Ambarawa, sampai ke daerah Pekalongan. Usaha yang dilakoni Tung membuahkan kesuksesan.

Kesuksesan pun mulai menghampiri kisah hidup berikutnya. Saat diterima bekerja di Bank Central Asia (BCA), Tung mendapat tugas yang cukup berat. Dia dikirim ke BCA Cabang Surabaya, harus membenahi 22 cabang pembantu (capem) yang hasil audit operasional- nya terburuk se­Indonesia. Meski tidak ada anak buah, tanpa jabatan, tanpa kewenangan, serta dijatah dua tahun harus selesai, tidak membuatnya patah semangat. Justru hal tersebut dibuktikan dengan kerja kerasnya. Tanpa kenal lelah, dengan gerak cepat, akhirnya Tung mampu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Olehnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugasnya cukup empat bulan.

Hasil kerjanya dinilai cukup sukses, karena BCA Cabang Surabaya memperoleh hasil audit terbaik di seluruh Indonesia. Karena itu, Tung kemudian mendapat tugas untuk membereskan pula Cabang Kupang dan Malang.

Dari tangan dinginnya pula, pertumbuhan kartu ATM di Kota Malang terbesar se-Indonesia, yakni 204.000. Selain itu, tingkat mati mesin ATM-nya terendah se-Indonesia. Saat memimpin Cabang Utama Malang, tahun 1998, BCA diambil alih pemerintah. Di kala semua cabang kehabisan uang, cabang Malang justru kebanyakan uang. Deposito membanjir.

Apa sebenarnya kunci kesuksesan dirinya sehingga bisa membereskan bank yang sedang bermasalahan tersebut? Menurutnya, Kuncinya, manusia bergerak karena cari nikmat meninggalkan sengsara. Waktu dirinya menggerakkan manusia, peraturan tinggallah peraturan jika tidak disertai hukuman. Aturan tanpa punishment hanyalah imbauan. Tung dengan keras menjaga peraturan, termasuk melakukan denda jika suatu unit melakukan kesalahan. Denda ditanggung karyawan dan pimpinan unitnya.



Langkah Awal
Sebagai titik balik dari kegiatannya sebagai motivator dimulai pria kelahiran Solo, 22 Desember 1967 ini , ketika mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura, meski biayanya 10.000 dollar Amerika. Keinginan nekadnya ini diwujudkan walaupun untuk membayar, tanah miliknya yang berada di Malang harus dijual.

Modal nekadnya tidak sia-sia sebab suami dari Suryani Untoro ini berhasil menjadi salah satu murid terbaik Anthony Robbins dan terpilih sebagai Exclusive Indonesia Anthony Robbins Authorized Consultant. Ia juga menjadi murid Robert G. Allen, pakar marketing terkemuka dunia. Bahkan menjadi Exclusive Indonesia Robert T. Kiyosaki Authorized Consultant.

Untuk    mempraktekkan    ilmunya, Tung kali pertama menjadi pembicara tamu acara yang diselenggarakan Columbia Elektronik dan Furnitur di Gedung Koni Jakarta. Langkah awal ini memang kurang begitu sukses dikarenakan sound system seminar itu seadanya dan saat ia
naik pentas, AC ruangan tiba-tiba mati.

Dari situ, kemudian ditantangnya Columbia untuk menggelar seminar gratis di Balai Sarbini. Ajakannya mendapat sam­ butan, sekitar 4.300 orang hadir dalam seminar itu. Dampaknya, omzet pen­jualan Columbia mengalami kenaikan.

Sebagai motivator, Tung tidak hanya jadi pembicara publik, tapi juga juga melayani konsultasi pribadi. Kliennya ber­ variatif, dari anak petani sampai anak man­ tan presiden. Satu hal yang membedakan dirinya dengan motivator lain adalah menyentuh setiap orang dengan hati.

"I do everything untuk mengubah orang. Dalam terapi, kalau perlu, ia saya pukul,"katanya.

Meski sudah mencapai seperti seka­ rang ini, ayah dari tiga orang anak ini, lebih senang dipanggil sebagai Pelatih Sukses. Tung telah berbicara di hadapan lebih dari 100 ribu orang. Makanya tidak salah pada tahun dalam salah satu tokoh The Most Powerful People & Ideas in Business 2005 (versi Majalah SWA).

Lewat Email
Selain hadir langsung sebagai pem­ bicara di hadapan ratusan orang, pria yang sempat mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena buku karyanya yang berjudul Fi­ nancial Revolution pada hari pertama diluncurkan laku terjual sebanyak 10.511 eksemplar, juga sangat rajin mengirim­ kan tulisan­tulisan yang bisa memotivasi.

Melalui Tung Desem Waringin (TDW) Club, hampir seminggu sekali mengirim­ kan tulisan lewat email para anggotanya yang sebelumnya memang telah ter­ daftar sebagai anggota club. Penulis yang tergabung dalam club tersebut, mendap­ atkan kiriman tulisan yang isinya sangat memotivasi.

Biasanya, selain mengirimkan tulisan, diselipkan kata motivasi. Misalnya saja : Meski di pedalaman sekalipun, selalu ada peluang dan kesempatan yang bisa diambil hingga kita bisa kaya dan sukses. peluang dan kesempatan ada dimana- mana, sudahkah saya mengoptimalkan- ya?

Atau seperti ini kalimatnya : Orang miskin, menghabiskan uang yang dida- pat, kalau ada sisa baru ditabung. Orang KAYA, menabung dulu sisanya baru di- habiskan. Ayo ikuti pola orang KAYA!

Contoh kiriman tulisan yang dikirim ke penulis misalnya :
Bersama Saya Tung Desem Waringin disini, Jika anda mau membangun rumah maka sebagian orang akan memanggil arsitek dan arsitek itu bersama anda membuat rencana. Tetapi ketika orang yang sama memulai membangun kekayaan mereka atau merencana- kan masa depan, mereka tidak pernah mendesain rencana finansial untuk hidup mereka. Mereka tidak mempunyai garis besar rencana kerja untuk menjadi kaya. Bahkan banyak orang tidak mempunyai rencana, mereka hanya menjalani hidup saja dan hanya bermimpi sewaktu-waktu mereka akan menjadi kaya. Banyak juga orang yang menggunakan satu-satu- nya jurus andalan, yaitu merencanakan untuk bekerja keras dan mereka tidak pernah kaya. Karena apa yang mereka kerjakan sekeras apapun memang tidak memungkinkan mereka untuk menjadi kaya. Dan biasanya orang menyebut itu rencana menjadi kaya

Contoh, menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan, walaupun sekeras apapun mereka bekerja akan sulit sekali untuk menjadi kaya.

Ada juga orang yang mempunyai rencana yang lambat untuk menjadi kaya, rencana tersebut yaitu bekerja keras dan menabung. Dengan mengikuti rencana tersebut maka jutaan orang akan menghabiskan hidupnya dengan memandang keluar jendela dari kereta mereka yang lambat atau dari mobil mereka yang terjebak dari kemacetan lalu lintas menyaksikan limosin, helikopter, pesawat jet perusahaan, rumah-rumah mewah.

Dan yang paling menyedihkan ada juga orang yang mempunyai rencana untuk menjadi miskin. Begitu banyak orang mengucapkan kata-kata seperti ayah miskin Robert Kiyosaki "Ketika saya pensiun, maka penghasilan saya akan berkurang". Dengan kata lain mereka merencanakan untuk bekerja keras seumur hidup hanya untuk menjadi miskin.

"Saya membutuhkan kecepatan."
Kata Tom Cruise dalam Film TopGun. Ide bekerja seumur hidup, menabung, dan menaruh uang dalam rekening pensiun merupakan rencana yang sangat lambat. Rencana ini bagus dan masuk akal oleh 90% orang tetapi bukan rencana bagi orang yang ingin pensiun muda
dan pensiun kaya.

Berikut adalah beberapa ide tentang cara untuk membangun rencana yang lebih cepat:
1.Pilih strategi keluar anda terlebih dahulu. Kita harus mulai dari yang akhir, seperti yang dikatakan oleh Steven R. Covey dalam bukunya Seven Habits. Jadi kita harus menentukan dulu umur berapa kita ingin pensiun, berapa banyak uang yang kita miliki saat itu, atau berapa banyak pasif income kita pada waktu kita pensiun. Kemudian dalam logika saya sendiri maka kita harus;

2.Cari bidang apa yang kita suka atau mungkin kita akan suka yang bisa menghasilkan seperti yang kita tentukan sebelumnya. Apabila apa yang kita kerjakan sekarang tidak memungkinkan kita mencapai impian tersebut, Let It Go!

3.Kita cari orang yang sudah berhasil mencapai impian kita untuk diajak kerja sama atau belajar kepada orang tersebut.

4.Gunakan faktor kali atau leverage. Maksudnya kita bisa menggunakan RICE (Resources, Ide, Contact,Expertise) dari orang lain.

Sudahkah anda membuat rencana anda untuk menjadi kaya, dan seberapa cepatkah rencana anda?
Semoga bermanfaat. Salam Dahsyat!

Tung Desem Waringin
Apa yang dilakukan oleh Tung untuk berbagi ilmunya kepada masyarakat sebuah langkah yang memang ingin memotivasi agar kita bisa mencapai sukses. Memang sih, tulisan tersebut tidak terlalu besar pengaruhnya, sebab kesuksesan tergantung dari individu masing-masing.[]

Baca Selengkapnya ....
IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".

Adele

Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info