Kenali Ciri-ciri Pria Pembohong dan Tukang Selingkuh

Posted by tasya diah safitri safitri Selasa, 24 Maret 2015 0 komentar

SHUTTERSTOCK Ilustrasi

Menjalin hubungan percintaan memang membuat Anda merasa bahagia. Namun, realita bicara bahwa sekarang ini banyak pria yang kurang setia pada pasangan. Nah, Anda tentunya tak ingin kan memiliki kekasih yang hobi bohong dan berpotensi untuk selingkuh. Untuk menghindarinya, kenali ciri-ciri pria yang hobi bohong berikut ini.

Pada awal hubungan, memang relatif sulit untuk menebak apakah si dia setia atau sebaliknya. Namun, bukan berarti mustahil. Sebab, terdapat beberapa indikator yang bisa Anda jadikan patokan dalam menilai kepribadian sang kekasih.

Untuk permulaan, perhatikan apakah pasangan Anda bersikap protektif pada ponselnya, terutama saat ada panggilan masuk dan pesan singkat. Pasalnya, pria pembohong atau tukang selingkuh memiliki alasan yang tak jelas terkait perilakunya yang sering menyembunyikan sesuatu pada ponsel.

"Jika Anda baru mulai berpacaran dan Anda meneleponnya tetapi tidak ada jawaban, lalu kemudian dia bilang sedang tidak melakukan apa-apa, ketimbang mengatakan bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang spesifik, bisa jadi ia sedang bersama wanita lain," ujar Kimberly Moffit, seorang psikoterapis.

Kemudian, sifat pria mencurigakan lainnya yang patut Anda curigai adalah jika si dia berlebihan dalam mencurahkan perhatian kepada Anda, terlalu ramah pada wanita lain, dan seperti terburu-buru untuk mengantarkan Anda pulang saat sedang kencan. Pria yang terlalu banyak mengonsumsi minuman alkohol juga patut Anda waspadai. Sebab, bisa jadi dia adalah pembohong atau tukang selingkuh.

Anda pun harus memperhatikan bagaimana dia memperlakukan orang lain karena lebih kurang seperti itulah dia akan memperlakukan Anda. "Jika Anda ingin terlibat lebih mendalam dengan seseorang, Anda harus tahu lima area penting dalam hidupnya, yakni sosial, okupasional, keluarga, personal, dan rahasia. Cara terbaik mengetahuinya adalah dengan observasi," sebut Mary Ellen O'Toole, seorang investigator kriminal FBI.

Namun demikian, para ahli tersebut sependapat bahwa jangan langsung melihat pasangan dari potensinya untuk berbohong atau berselingkuh. Sebaliknya, perhatikan perasaan Anda saat bersama dia.

"Jangan terpaku untuk mengetahui apakah dia seorang pembohong atau bukan. Semua hubungan harus didasarkan pada kepercayaan," ucap Moffit.



Baca Selengkapnya ....

Ingat, Tak Semua Permintaan Anak Harus Dipenuhi Orangtua

Posted by tasya diah safitri safitri Jumat, 13 Maret 2015 0 komentar


Ilustrasi

Melihat si kecil meminta sesuatu pada Anda dengan mata bulatnya tanpa dosa, senyum manis yang menampakkan rona merah pada pipi tembamnya, dan suara memohon yang menyentuh hati, tentunya Anda tidak tega untuk menolak, bukan? Tanpa pikir panjang Anda pun menjawab, "Ya".

Seiring waktu, pola anak meminta orangtua memenuhi ini pun menjadi komunikasi rutin sampai usia buah hati terbilang dewasa. Perlu Anda ketahui bahwa gaya mengasuh dan mendidik seperti ini salah dan bisa membahayakan anak.

Untuk itu, para orangtua mesti berhati-hati sebelum terlambat. Sebab, anak yang selalu mendapatkan segala yang mereka inginkan bakal tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki daya untuk berusaha dan tempramen.

Menurut Melisaa Deuter, M.D., orangtua zaman sekarang memiliki pemikiran bahwa kebahagiaan anak merupakan tanggungjawab orangtua. Hal yang demikian memang benar adanya, tetapi apakah saat si anak ingin nilai bagus di sekolah, harus orangtua yang menyelesaikan ujiannya?

"Mengucapkan kata 'Tidak' adalah tantangan tersendiri bagi sejumlah orangtua. Sebenarnya, orangtua yang berani menolak merupakan kunci kesuksesan anak di masa mendatang," terang Deuter.

"Banyak orangtua di sesi konseling keluarga tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan anak. Pendidikan merupakan kebutuhan anak yang patut dipenuhi orangtua, tapi mainan atau busana mahal merupakan keinginan yang tidak selalu harus dipenuhi," imbuhnya.

Lebih lanjut, Deuter mengisahkan soal salah satu pasiennya yang memiliki anak berpendidikan bagus tapi susah mencari pekerjaan yang layak. Satu tahun setelah lulus kuliah, anak tersebut masih juga bekerja dengan profesi yang sama saat masa sekolah, yaitu pelayan restoran.

Akhirnya, orangtuanya memberikan bantuan finansial untuk membantu anak membayar sewa tempat tinggal dan makan. Lalu, tiba waktu di mana orangtua merasa sudah tak sanggup lagi melakukan hal tersebut. Apa yang terjadi? Anak hanya bisa mengeluh dan marah saat orangtua memintanya untuk lebih berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik.

Deuter menyarankan bahwa menolak tidak harus dilakukan dengan bilang tidak. Namun, bisa dilakukan lewat cara yang lebih lembut dan menenangkan. Salah satu cara yang dianjurkan Deuter adalah mengatakan:

"Kami terlalu mencintaimu untuk membiarkan kamu begitu saja menghindar dari masalah tanpa berupaya mencari solusi,"

"Kami terlalu mencintaimu untuk membiarkan kamu cepat menyerah, kamu harus menyelesaikan masalah ini tanpa bantuan kami tapi dengan cara kamu sendiri,".

 Sumber :Psychology Today


Baca Selengkapnya ....
IFA DAHSYAT support BELI TIKET MURAH - Original design by Bamz | Copyright of IFA DAHSYAT " Seni Berbelanja di Rumah ".